
Suasana perjalanan terkadang memang sedikit mendebarkan, terlebih ketika kendaraan kami harus berpapasan dengan kendaraan lain. Lebar jalan yang tak seberapa, apalagi ada jurang di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa ruas jalan yang terkikis terkena longsoran. Tujuan kami adalah untuk berkeliling di Desa Tiris, sebuah desa yang berada di kaki Pegunungan Argopuro. Kami akan mengunjungi Ranu Agung, sebuah danau vulkanik yang ada di kawasan lereng perbukitan.
Di sepanjang perjalanan menuju Ranu Agung ini kami disuguhi dengan pemandangan pohon durian yang sedang berbuah. Sebagian besar masih mentah, ada pula yang sudah masak dan menyebarkan aroma yang khas. Saya cukup buta arah, hanya satu hal yang saya ingat, setelah truk melewati sebuah belokan, perjalanan dilanjutkan melewati jalanan yang memiliki lebar tak kurang dari satu buah kendaraan dengan kontur jalan yang menanjak. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati hutan yang diselingi perkebunan kopi dan kompleks pemakaman hingga akhirnya kendaraan yang kami tumpangi berhenti di sebuah halaman sekolah dasar.

Dari sekolah dasar tersebut perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuruni bukit. Udara segar khas kaki pegunungan serta “jeritan” suara serangga seolah menyambut kedatangan kami di Ranu Agung ini. Hening, hampir tidak ada seorang pun kecuali rombongan kami yang datang ke danau yang memiliki pemandangan yang cukup menarik ini. Namun sayang, keindahan Ranu Agung tak bisa kami nikmati dengan cukup jelas karena kabut yang datang menyelimuti area.

Saya kurang begitu tahu cerita pasti mengenai Ranu Agung ini. Konon, Ranu Agung merupakan danau vulkanik yang terbentuk dari gunung berapi Lamongan. Hal ini bisa kita lihat dari bentuk dan kontur Ranu Agung yang menyerupai sebuah cekungan seperti bekas kawah gunung. Di salah satu sudut danau ini kita dapat melihat kontur batu yang membentuk lapisan menyerupai sebuah dinding.

Ranu Agung memiliki suasana yang masih sangat alami. Lokasi ini memang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata. Di sekeliling Ranu Agung masih terdiri dari hutan dan ladang. Tidak ada fasilitas penunjang pariwisata seperti warung makan, toilet, maupun mushola. Bila ingin bermain-main di ranu, Anda dapat memakai sampanย yang terbuat dari bambu yang tersedia di pinggir danau. Anda pun dapat berenang di danau ini karena airnya yang cukup jernih dan tidak terlalu dingin menurut saya. Namun perlu berhati-hati, karena danau ini memiliki kedalaman yang beragam dan juga bebatuan di dasar danau yang bisa menggores kulit.

Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang tergolong sebagai wisata minat khusus. Lokasinya masih cukup tersembunyi dan cukup menantang nyali karena jalan menuju Ranu Agung ini memiliki rute jalan yang cukup menanjak di antara hutan-hutan. Pada hari biasa mungkin Anda tidak akan menemukan warung maupun penduduk yang berlalu-lalang di area sini. Namun beruntung, ketika rombongan Tour De Probolinggo mengunjungi Ranu Agung ini, ada sebuah warung yang “tiba-tiba buka” tak jauh dari lokasi Sekolah Dasar. Ranu Agung merupakan sebuah lokasi yang sangat cocok bagi Anda yang menyukai suasana alam yang masih hening dan alami. Jika Anda berkunjung ke sini, jangan lupa untuk membawa kembali sampah yang Anda hasilkan, agar tidak mengotori dan merusak alam !








