![]() |
| Latih Majid menangis terharu saat mereka tiba di darat setelah hampir tenggelam dalam perahu kecil yang membawanya berlayar ke pulau Kos di Yunani (Foto: Independen) |
bersamaislam.com – Pengungsi ini difoto sedang menangis ketika dia berhasil mendarat di salah satu pulau Yunani sambil menggendong dan memeluk anak-anaknya. Kini mereka telah berhasil tiba di Jerman dengan selamat.
Foto Laith Majid menjadi viral dan disebar ribuan netizen di media sosial, memaksa dunia global untuk berbicara soal krisis para pengungsi. Dunia Eropa diminta untuk memberikan tempat yang aman bagi keluarga pengungsi yang rela mempertaruhkan nyawanya menyebrangi lautan Mediterania.
Laith dan keluarganya tiba di pulau Kos pada 16 Agustus yang lalu setelah berdesakan dengan delapan penumpang lainnya dalam sebuah perahu kecil berkapasitas tiga penumpang. Banyak turis yang sedang berjemur di pantai Kos ketika para pengungsi itu berjuang di tengah lautan untuk bisa mencapai daratan. Lebih dari 300.000 pengungsi telah menyeberang lewat laut ke Eropa dalam kurun waktu setahun ini, dan lebih dari 2500 orang di antara mereka tewas tenggelam.
Rute menuju pulau Kos dari kota Bodrum di Turki juga ditempuh oleh bocah malang, Aylan Kurdi, 3, yang akhirnya tewas dan jasadnya ditemukan terdampar di pinggir pantai.
Fotographer Daniel Etter melihat Laith sedang menangis deras saat dia berhasil mencapai daratan sambil memeluk putra dan putrinya. Sebelumnya keluarga ini tinggal di tenda pengungsian dan berupaya menuju Yunani lewat jalan darat.
Laith, 44, istrinya Neda, putranya Mustafa, 18, Ahmed, 17, Taha, 9, dan putrinya Nour yang berusia 7 tahun dilaporkan telah mengajukan suaka kepada pemerintah Jerman bersama 800.000 pengungsi lainnya.
Neda, seorang guru bahasa Inggris berkata mereka memilih Jerman di antara 13 negara pilihan lainnya.
“Kami mendengar berita bahwa kami akan ditolong di sini, anak-anak kami akan mendapatkan sekolah,” katanya kepada Independen, Selasa (08/09/2015).
Koran-koran menyebut mereka adalah keluarga muslim Sunni asal Irak dan meninggalkan Baghdad karena menghadapi ancaman kematian dari pemerintah Syiah. Sebagian lagi menyebut mereka berasal dari Suriah. Daniel Etter sendiri mengatakan kepada media di Jerman, mereka adalah pengungsi dari kota Deir ez-Zor, sebuah kawasan di bawah pemerintahan Suriah yang tengah dikepung ISIS. Masih terdapat kesimpangsiuran atas informasi keluarga Laith.
Pengungsi yang berhasil mendarat di pulau Kos, Yunani belum bisa tidur dengan tenang. Dari Athena mereka harus menuju Berlin dalam sebuah perjalanan darat 24 jam menaiki truk.
Laith dan putri kecilnya mengatakan mereka masih terbayang saat hampir tenggelam di laut dalam perjalanan.
“Kami tidak akan pernah pergi ke laut lagi,” kata Laith. (ay/independen)































