‘Aqidah
Islam (7)
mahsyar, saat manusia merasakan derita yang begitu berat, matahari didekatkan
kepada mereka dengan jarak satu mil, sehingga mengucurlah keringat mereka.
Mereka pun mendatangi para nabi ulul ‘azmi, meminta syafa’atnya (agar mau
berbicara dengan Allah), namun masing-masing mereka tidak menyanggupinya hingga
akhirnya permintaan itu ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka Beliau menyanggupinya. Beliau
pun datang.menghadap Allah, meminta kepada-Nya agar memberikan
keputusan,
Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris–Pada hari itu diperlihatkan neraka
Jahannam; dan pada hari itu sadarlah manusia, namun tidak berguna lagi kesadaran
itu baginya.” (Terj. Al Fajr: 22-23)
didatangkan dengan ditarik oleh para malaikat dalam jumlah yang sangat banyak,
karena berat dan besarnya neraka Jahannam.
ada sirna, matahari digulung, bulan diredupkan cahayanya, kemudian keduanya dikumpulkan
dan dijatuhkan ke dalam neraka yang begitu besar dan dalam, sedang manusia
dalam kegelapan, maka bersinarlah bumi dengan cahaya Allah,
benderanglah bumi (padang
Mahsyar) dengan cahaya Tuhannya, dan buku (catatan amal masing-masing) diberikan
(kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi pun dihadirkan…dst.” (Terj. Az
Zumar: 69)
dipanggil namanya di hadapan orang banyak untuk menghadap Allah. Ketika itu, manusia
didekatkan oleh malaikat ke tempat hisab. Pada saat itu, semua pandangan
makhluk tertuju kepadanya, hati orang yang dipanggil itu berdebar, jantungnya
berdetak kencang dan keadaan menjadi tegang saat dirinya mengetahui di mana
tempat yang ditentukan untuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
bicara oleh Allah, tidak ada antara dia dengan Allah seorang penerjemah. Dia melihat
ke sebelah kanannya, maka tidak dilihatnya selain amal yang dikerjakannya. Dia
melihat sebelah kirinya, maka tidak dilihatnya selain amal yang dikerjakannya. Dia
pun melihat ke depannya, ternyata yang dilihatnya adalah neraka, maka jagalah
dirimu dari neraka meskipun dengan menginfakkan separuh kurma.” (HR. Muslim)
Nabi Adam ‘alaihis salam dengan tujuan untuk memisahkan antara calon penghuni
surga dan calon penghuni neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
adalah Adam. Ketika itu, anak cucunya berusaha melihatnya. Lalu dikatakan,
“Inilah bapak kalian, Adam.” Adam berkata, “Saya sambut
panggilanmu dengan senang hati” yang memanggil tadi berkata,
“Tampilkanlah rombongan penghuni Jahannam dari kalangan anak cucumu!”
Adam bertanya, “Ya Rabbi, berapa orang yang harus saya tampilkan?”
Allah berfirman, “Tampilkanlah sembilan puluh sembilan orang dari seratus
orang!” lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, jika Adam
mengambil dari kita sembilan puluh sembilan orang dari seratus orang, siapakah
di antara kita yang masih tersisa?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya
umatku dibanding umat-umat yang lain seperti sehelai bulu putih di badan sapi
yang berwarna hitam.” (HR. Bukhari, Shahihul Jami’ no. 3583)
maka manusia terbagi menjadi tiga kelompok:
dan tanpa azab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
aku temukan seorang nabi bersama sekelompok umat, seorang nabi berjalan bersama
beberapa orang, seorang nabi berjalan bersama sepuluh orang, seorang nabi
berjalan bersama lima
orang dan ada nabi yang berjalan sendiri. Tiba-tiba aku melihat sejumlah besar
manusia. Aku pun bertanya, “Wahai Jibril! Apakah mereka ini umatku?”
Jibril menjawab, “Bukan, tetapi lihatlah ke arah ufuk!” Beliau
berkata, “Maka aku melihat sejumlah besar manusia.” Jibril berkata,
“Inilah umatmu, dan mereka yang berjalan di depan berjumlah 70.000 orang (yang
akan masuk surga) tanpa hisab dan tanpa azab.” Aku bertanya,
“Mengapa?” Jibril menjawab,
وَلاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ »
.
mereka tidak mengobati luka mereka dengan besi panas, mereka tidak meminta
diruqyah, mereka tidak bertathayyur (merasa sial dengan sesuatu) dan mereka
bertawakkal kepada Tuhan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
yang diberi catatan amal dari sebelah kanannya. Kepada mereka hanya diperlihatkan
catatan amal mereka, lalu dimaafkan. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ ، وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ : أَتَعْرِفُ
ذَنْبَ كَذَا ؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا ؟ فَيَقُولُ : نَعَمْ أَىْ رَبِّ . حَتَّى
إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِى نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ : سَتَرْتُهَا
عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ . فَيُعْطَى
كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ، وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ
الأَشْهَادُ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ ، أَلاَ لَعْنَةُ
اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ » .
Allah akan mendekatkan orang mukmin, lalu Dia meletakkan tirai-Nya dan
menutupinya (dari keramaian), Dia berfirman, “Kamu kenal dosa ini? Kamu
kenal dosa ini? Ia menjawab, “Ya, wahai Tuhanku” sehingga apabila ia
telah mengakui dosa-dosanya dan merasakan bahwa dirinya akan binasa, Allah
berfirman,”Aku telah menutupi dosamu di dunia dan Aku akan mengampuninya
pada hari ini.” Maka ia diberikan catatan amal kebaikannya. Sedangkan
orang-orang kafir dan munafik, maka para saksi berkata (di hadapan seluruh
makhluk), “Merekalah orang-orang yang mendustakan Tuhan mereka. Ingatlah!
Sesungguhnya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (HR. Bukhari)
yang keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Merekalah orang yang
diberi catatan amal dari sebelah kirinya. Allah berfirman:
yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata,
“Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).—Dan
aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.–Wahai kiranya kematian itulah
yang menyelesaikan segala sesuatu.– Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat
kepadaku.–Telah hilang kekuasaanku dariku.”
(Terj. Al Haaqqah: 25-29)
karena mereka melupakan Allah sewaktu di dunia; mereka lupa mengingat-Nya dan
lupa terhadap hak-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ إِلاَّ كَمَا تُضَارُّونَ فِى رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا – قَالَ –
فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَىْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ
وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ
وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى . قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلاَقِىَّ
فَيَقُولُ لاَ . فَيَقُولُ فَإِنِّى أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِى …. ثُمَّ
يَلْقَى الثَّالِثَ فَيَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ آمَنْتُ
بِكَ وَبِكِتَابِكَ وَبِرُسُلِكَ وَصَلَّيْتُ وَصُمْتُ وَتَصَدَّقْتُ . وَيُثْنِى
بِخَيْرٍ مَا اسْتَطَاعَ فَيَقُولُ هَا هُنَا إِذًا – قَالَ – ثُمَّ يُقَالُ لَهُ
الآنَ نَبْعَثُ شَاهِدَنَا عَلَيْكَ . وَيَتَفَكَّرُ فِى نَفْسِهِ مَنْ ذَا
الَّذِى يَشْهَدُ عَلَىَّ فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَيُقَالُ لِفَخِذِهِ وَلَحْمِهِ
وَعِظَامِهِ انْطِقِى فَتَنْطِقُ فَخِذُهُ وَلَحْمُهُ وَعِظَامُهُ بِعَمَلِهِ
وَذَلِكَ لِيُعْذِرَ مِنْ نَفْسِهِ . وَذَلِكَ الْمُنَافِقُ وَذَلِكَ الَّذِى
يَسْخَطُ اللَّهُ عَلَيْهِ
akan kesulitan melihat Tuhan kalian kecuali seperti sulitnya kalian melihat
salah satu dari keduanya (matahari atau bulan purnama), –maksudnya tidak
sulit-. Kemudian Allah bertemu dengan seorang hamba dan berkata, “Hai
fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, meninggikanmu, memberikan pasangan
untukmu, memudahkan kamu menggunakan kuda dan unta, membiarkan kamu berkuasa
dan bertindak semaumu?” Ia menjawab, “Ya.” Allah berkata lagi,
“Apakah kamu yakin akan bertemu dengan-Ku?” Ia menjawab, “Tidak.”
Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana kamu
melupakan-Ku……dst. Kemudian Allah bertemu dengan orang yang ketiga dan
berkata kepadanya seperti di atas. Ia pun menjawab, “Wahai Tuhanku, aku
beriman kepada-Mu, kepada kitab-Mu dan kepada rasul-rasul-Mu. Aku pun shalat,
berpuasa dan bersedekah” dan ia memuji dirinya dengan kebaikan
semampunya. Allah berfirman, “Kalau begitu kamu tetap disini!” Lalu
dikatakan kepadanya, “Sekarang Kami akan membangkitkan saksimu“,
ia pun berfikir dalam hati siapa yang akan menjadi saksinya, lalu mulutnya
dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulang, “Berbicaralah!”
maka pahanya berbicara, dagingnya berbicara dan tulangnya pun berbicara tentang
amalnya. Hal itu dimaksudkan agar ia membatalkan sendiri alasannya. Itulah
orang munafik dan itulah orang yang dimurkai Allah.” (HR. Muslim)
manusia
setelah dihisab termasuk bukti keadilan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi
pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya…dst.” (Al Anbiyaa’: 47)
berat timbangan kebaikannya, maka merekalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya,
barang siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka rugilah dia dan ia akan
masuk ke neraka (lihat Al Mu’minun: 102-103 dan Al Qaari’ah: 6-11).
Dzikrullah dan berakhlak mulia merupakan sebab beratnya timbangan
gentingnya suasana, ada seorang yang selesai dihisab di hadapan seluruh makhluk
dan hendak ditimbang amalnya, lalu dibuka 99 catatan amal buruknya, masing-masing catatan
amal buruk sejauh pandangan mata (karena banyaknya dosa yang dilakukan), kemudian
disiapkan pula lembaran kebaikan yang di sana tertulis, “Aku bersaksi bahwa
tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”, maka ketika ditimbang, catatan
amal buruk menjadi ringan dan lembaran tersebut ternyata lebih berat (Sebagaimana
disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi, Shahihul Jami’ no. 1776).
memberatkan timbangan, yaitu ucapan Subhaanallah wa bihamdih, subhaanallahil
‘azhiim (sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Demikian juga
akhlak mulia, ia pun sama memberatkan timbangan (sebagaimana dalam hadits
riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani).
Maraji’: Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Dr. Nashir bin Abdul
Karim Al ‘Aql), Rintangan setelah kematian (Ust. Zainal Abidin), dll.





































