Hardjowigeno dalam Ilmu Tanah, 2003).
Bisa dikatakan, jika pH tanah tidak bernilai 7, maka proses tukar ion akan terganggu, dengan terganggunya proses tukar ion maka tanah menjadi kurang subur meski jumlah pupuk yang dipakai cukup banyak. Unsur hara akan mudah diserap oleh tanaman (akar tanaman) pada pH netral. Sementara pada tanah dengan pH masam banyak ditemukan ion-ion Al (Alumunium) yang memfiksasi (mengikat) unsur P, sehingga unsur P sulit untuk diserap oleh tanaman, padahal unsur P berperan untuk membantu tanaman dalam pembentukan bunga, buah dan biji, mempercepat pematangan buah/biji, serta memperkuat batang agar tidak mudah roboh.
Aktifitas jasad renik tanah juga sangat dipengaruhi oleh keadaan pH tanah, sekaligus berpengaruh terhadap ketersediaan unsur-unsur hara di dalam tanah. Pada umumnya unsur hara makro akan lebih tersedia pada pH agak masam sampai netral, sedangkan unsur hara mikro kebalikannya, yakni lebih tersedia pada pH yang lebih rendah. Unsur hara makro, seperti nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium tersedia pada pH 6,5. Unsur hara fosfor pada pH lebih besar dari 8.0 tidak tersedia karena diikat oleh ion Ca. Sebaliknya jika pH turun menjadi lebih kecil dari 5.0, maka fostat kembali menjadi tidak tersedia. Hal ini dapat terjadi karena dalam kondisi pH masam, unsur-unsur seperti Al, Fe, dan Mn menjadi sangat larut. Dengan demikian, untuk memperoleh ketersediaan hara yang optimal bagi pertumbuhan tanaman dan kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH tanah harus dipertahankan pada pH sekitar 6.0-7.0. (baranur/from many source)
Sumber:
Buku & Majalah Pertanian









