Dunia
kian tidak ada batasnya. Kemajuan teknologi menciptakan keadaan yang
tiada berjarak. Bagi dunia bisnis, peluang ini bisa dijadikan sebagai
strategi pemasaran. Keunggulan teknologi memberikan manfaat
signifikan terhadap dunia bisnis. Kebutuhan meningkatkan brand,
mengangkat pelayanan,dan menunjang efektivitas interaksi kepada konsumen
bisa dilakukan melalui optimalisasi teknologi media sosial. Sebuah
survei yang dilakukan IBM terhadap lebih dari 1.700 chief marketing
officer (CMO) dari 64 negara dan 19 industri termasuk 70 CMO dari ASEAN
membuktikan, sebagian besar para pimpinan eksekutif pemasaran terbaik di
dunia menyadari ada pergeseran penting dalam pola komunikasi mereka
dengan pelanggan. Sayangnya, IBM malah menemukan 60% CMO ASEAN
tidak siap menghadapi tantangan transformasi era digital. Fokus
perhatian para pimpinan perusahaan masih berkutat pada memahami pasar.
Kekhawatiran ini yang menyebabkan bagian pemasaran di suatu perusahaan
tidak siap terhadap perubahan pola komunikasi pemasar dengan konsumen. “Sebagian
besar CMO mengakui bahwa mereka kurang terlibat dalam perbincangan
real-time tentang merek atau produk. Mereka masih berfokus untuk
memahami pasar, bukan untuk memahami setiap individu pelanggan guna
menetapkan strategi,” kata Senior Engagement Manager, Strategy, and
Transformation Global Business Services IBM Singapore Charles Kamau
Njendu. Kendati begitu, tingkat interaksi konsumen dengan CMO
ternyata semakin tinggi dibandingkan dengan hasil survei
sebelumnya.Kesimpulan survei ini membuktikan ada pergeseran CMO dalam
kegiatan pemasaran. Lebih tegas lagi, kata Njendu,perusahaan
multinasional saat ini tidak lagi sekadar memikirkan bisnis secara
matematis, tetapi juga lebih signifikan adalah bagaimana interaksi CMO
dengan konsumen di pasar bisa lebih terintegrasi. Kecanggihan era
digital memberi kesempatan besar untuk mengambil peran di dalam
kaitannya dengan pemasaran produk perusahaan. Selain itu,para eksekutif
perusahaan multinasional juga memusatkan perhatiannya pada strategi
pemasaran terpadu (integrated marketing strategy), jasa layanan, serta
mengangkat merek (brand). “Selama ini banyak CMO kurang peka terhadap
strategi pengembangan produk, penetapan harga, serta sales
distribution,” ungkap Njendu. Sementara itu, menurut pengamat
marketing Yuswohady, saat ini perusahaan-perusahaan di dunia termasuk di
Indonesia sudah menyadari peran penting seorang CMO sehingga sebagian
besar perusahaan di Indonesia mempunyai divisi tersendiri untuk
pemasaran. Hal ini terutama untuk perusahaanperusahaan yang memiliki
tingkat kompetisi tinggi. “Saat ini hampir semua perusahaan mempunyai
CMO karena pada dasarnya yang menghasilkan duit bagi perusahaan adalah
inovasi dan pemasaran. Hanya perusahaan yang tingkat kompetisinya sangat
kecil yang tidak ada CMO,” ucap Yuswohady. Yuswohady
menjelaskan, peran CMO adalah mencari apa yang diinginkan konsumen.
Mereka melakukan survei yang kemudian diterjemahkan kepada strategi dan
program. Seorang CMO biasanya membuat kebijakan umum yang kemudian
diterjemahkan kepala cabang atau wilayah. “Indonesia ini cukup unik,
daerah yang luas membuat banyak perusahaan mempunyai cabang di daerah.
Kepala cabang itulah yang biasanya menerjemahkan strategi umum yang
telah ditetapkan CMO,” tambah Yuswohady. Dalam penelitian yang
dilakukan IBM menunjukkan, hal yang paling utama bagi CMO, chief
executive officer (CEO), dan chief information officer (CIO) adalah
“bagian” dari komponen strategi pemasaran dan ketersediaan teknologi.
“Dengan teknologi, perusahaan bisa mengolah data dengan cepat,” kata
Njendu. Ada beberapa inisiatif yang bisa dijadikan
rujukan,menurut studi IBM, supaya para CMO mampu bersiap diri menghadapi
perubahan strategi pemasaran di era digital ini. Pertama, dalam sebuah
perusahaan hendaknya para pimpinan eksekutif berusaha menciptakan
beberapa tim kecil yang fokus terhadap pelaksanaan peningkatan pemasaran
melalui teknologi digital. “Inisiatif ini bisa dilakukan dengan
menetapkan kekuatan berjangka pendek untuk setiap tugas penting dalam
pengembangan dan perbaikan. Tim pelaksana bisa mengundang para ahli di
bidang pemasaran untuk berpartisipasi meningkatkan agenda pemasaran
perusahaan,” papar Njendu. Selanjutnya tim pelaksana bisa
mengidentifikasi peluang untuk mendapatkan kesuksesan sekecil apa pun,
yang paling penting cara ini bisa meningkatkan dukungan untuk
menciptakan inisiatif yang lebih radikal. Kedua, membuat
perencanaan waktu dengan rekan-rekan kerja untuk saling berkolaborasi
secara aktif,mendiskusikan hal-hal yang berkenaan dengan perbaikan alat
teknologi pemasaran, mengevaluasi dampak akuntabilitas keuangan, serta
mempertimbangkan strategi memberdayakan karyawan supaya bisa menjiwai
karakter perusahaan. Ketiga, melibatkan diri seperti seorang
pelanggan. “Turut gabung dalam percakapan pelanggan di media sosial
adalah pengalaman menarik bagi CMO untuk mengetahui tingkat ketertarikan
brand yang dimiliki perusahaan, serta lebih bisa dekat dengan
konsumen,” lanjut Njendu. Dengan teknologi, semua urusan
pemasaran bisa dilakukan secara online sehingga banyak perusahaan akan
sulit menyembunyikan data, termasuk data transaksi. Dari situasi seperti
ini, CMO di seluruh dunia termasuk Indonesia menyadari akan pergeseran
paradigma bisnis.Mereka mulai bertransformasi bahwa data, teknologi,
serta interaksi dengan konsumen merupakan strategi bisnis masa depan.
(*/Harian Seputar Indonesia) |