
Gajah mati meninggalkan gading, macam mati meninggalkan belang,
pengusaha mati? Mestinya meninggalkan nama besar dan sukses bisnis.
Nah, berbeda dengan belajar di sekolah umumnya, mencontek itu dilarang
dan ada hukuman bagi pelakunya. Tapi dalam sekolah menjadi pengusaha,
mencontek bisnis orang lain boleh-boleh saja, tak jarang ide bisnis
baru muncul dan improvisasi dari bisnis lain yang lebih dulu ada. Jadi,
menjadi pengusaha dengan mencontek bisnis orang lain itu sah-sah saja!
Pada bagian ini ada beberapa sosok pengusaha atau model bisnis atau
juga trik pemasaran yang menarik untuk dipertimbangkan sebagai bahan
contekan dan mungkin bisa menginpirasi anda menciptakan bisnis baru
yang cerdas dan lebih menarik dari yang sudah ada sebelumnya. Misalnya,
gaya Tensia, dimana lewat perusahaan Tensia ide produk bisnis
cemerlang, jangan berhenti tak bisa produksi karena belum punya
pabriknya, kita bisa minta si Tensi membuatkan atas nama perusahaan
kita. Akhirnya, ibarat tukang jahit, Tensia bisa membuat beragam kaos
atau kemeja dengan banyak desain dari berbagai merek. Ini sekaligus
menginpirasi saya, kalau kita bisa membuat bisnis dengan gaya BOPOL
alias modal Berani Optimis Pabrik Orang Lain!
Bisa pula kita belajar pengalaman Hotel
Marcopolo di Jakarta dalam membangun citra positifnya buat para
konsumen dari hal hal sepele: seluruh karyawan di semua lini dilarang
menerima tip dari tamu. Gahkan saya pernah member bellboy, sekedar bakpia oleh-oleh makanan khas Yogja, pun ditolak dengan halus. Bayangkan, tak hanya No Tipping tapi juga No Bakpia!
Pelayanan yang bagus dan sikap bersih para karyawannya membuat citra
Hotel Marcopolo di terima positif oleh para tamu, akibatnya, tingkat
hunian hotel berbintang ini stabil , rata-rata 90%!
Memang tak semua pengusaha itu ingin bisnisnya besar dan banyak
cabang. Pak Widadi (65) pemilik warung soto Kadipiro, salah satu ikon
kuliner yang wajib dicicipi kalau Anda bertandang ke Yogya, malah
menulis besar-besar di warung sotonya “Tidak buka cabang di Jakarta
atau Kota lainnya”. Ini sosok pengusaha yang nrimo, tak heran karena
dia punya filosofi hidup, “Kamulyaning urip iku, dumunung ono
tentreming ati.” Lebih jauh soal konsep dan filosofi bisnis pak Widadi
bisa Anda simak di bagian ini.
Sumber : purdiechandra.net













