ADVERTISEMENT

Berbekal limbah kulit telur, seorang
pria di Jakarta Timur bisa menghasilkan karya seni kaligrafi bernilai tinggi.
Adalah Cahyudi Susanto yang membuat kulit telur menjadi barang mahal.
“Saya memang suka menggambar kaligrafi dan saya mencoba menggunakan media
yang gratis yaitu kulit telur,” ujar pria asal Kota Tegal, Jawa Tengah
ini.
Menurut Yudi, proses membuat kaligrafi dengan bahan daur ulang ini sangat
sederhana. Terlebih dahulu kulit telur dikumpulkan. Untuk urusan yang satu ini
Yudi tak memiliki masalah karena tetangga di sekitar rumahnya siap memasok
kebutuhan akan kulit telur yang tak terpakai. Bahan ini kemudian dibersihkan
dengan deterjen dan diambil kulit arinya untuk kemudian dikeringkan.
Proses pembuatan sendiri dimulai dengan memberi lem pada kulit telur dan
ditempelkan sesuai pola yang sudah dibuat. Setelah kering baru ditambahkan
warna lain agar nampak bagus. Dan jadilah sebuah kaligrafi yang indah dan
sepintas tak membuat orang berpikir terbuat dari kulit telur.
Prospek kaligrafi dengan bahan terbuang ini menurut Yudi lumayan bagus.
“Sekarang kan eranya go green dimana orang lebih suka menikmati karya dari
bahan daur ulang,” jelasnya. Karena itu, tak heran ada empat galeri
yang kini menampung karyanya. Yudi juga memasarkan secara online dengan harapan
orang luar ikut tertarik dengan karyanya.
Sayang, Yudi masih memiliki kendala dalam meningkatkan produksinya, yaitu
kurangnya sumber daya manusia. Saat ini untuk satu produk membutuhkan waktu
tiga sampai empat hari. “Padahal, dengan SDM yang kreatif sebenarnya bisa
menghasilkan empat produk setiap hari,” ujarnya. Nah, ada yang tertarik
menggeluti seni kaligrafi dari kulit telur. (*/lip6)
pria di Jakarta Timur bisa menghasilkan karya seni kaligrafi bernilai tinggi.
Adalah Cahyudi Susanto yang membuat kulit telur menjadi barang mahal.
“Saya memang suka menggambar kaligrafi dan saya mencoba menggunakan media
yang gratis yaitu kulit telur,” ujar pria asal Kota Tegal, Jawa Tengah
ini.
Menurut Yudi, proses membuat kaligrafi dengan bahan daur ulang ini sangat
sederhana. Terlebih dahulu kulit telur dikumpulkan. Untuk urusan yang satu ini
Yudi tak memiliki masalah karena tetangga di sekitar rumahnya siap memasok
kebutuhan akan kulit telur yang tak terpakai. Bahan ini kemudian dibersihkan
dengan deterjen dan diambil kulit arinya untuk kemudian dikeringkan.
Proses pembuatan sendiri dimulai dengan memberi lem pada kulit telur dan
ditempelkan sesuai pola yang sudah dibuat. Setelah kering baru ditambahkan
warna lain agar nampak bagus. Dan jadilah sebuah kaligrafi yang indah dan
sepintas tak membuat orang berpikir terbuat dari kulit telur.
Prospek kaligrafi dengan bahan terbuang ini menurut Yudi lumayan bagus.
“Sekarang kan eranya go green dimana orang lebih suka menikmati karya dari
bahan daur ulang,” jelasnya. Karena itu, tak heran ada empat galeri
yang kini menampung karyanya. Yudi juga memasarkan secara online dengan harapan
orang luar ikut tertarik dengan karyanya.
Sayang, Yudi masih memiliki kendala dalam meningkatkan produksinya, yaitu
kurangnya sumber daya manusia. Saat ini untuk satu produk membutuhkan waktu
tiga sampai empat hari. “Padahal, dengan SDM yang kreatif sebenarnya bisa
menghasilkan empat produk setiap hari,” ujarnya. Nah, ada yang tertarik
menggeluti seni kaligrafi dari kulit telur. (*/lip6)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com












