Azwir B. Chaniago
dapat disimpan, ia akan bergulir begitu saja. Jika dimanfaatkan secara bijak
akan memberi manfaat yang besar. Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Tidak ada yang
bisa menghalanginya untuk pergi bahkan terasa
sangat cepat dan tak akan kembali selamanya. Diantara
keunikan waktu juga, adalah seringkali kita merasa tidak ada manfaat langsung
dari waktu.
yang tidak dapat tergantikan, bersifat konstan tidak elastis, bahkan tidak
dapat diubah, sampai kapanpun, sehari semalam di dunia ini tetap 24 jam ukuran dunia. Ini adalah keadilan Allah. Waktu yang
diberikan kepada manusia setiap hari adalah sama untuk semua
strata, kasta, pangkat dan jabatan apapun.
rupa mengharuskan manusia untuk
memanfaatkannya dengan sebaik baiknya dan tidak pernah melalaikannya yaitu
seperti dimaksud oleh pemberi nikmat, sebagai kesempatan untuk beribadah agar
mendapatkan ridha-Nya.
Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda : “Nikmataani maghbunun fihima kasyirum minannasish
shihatu wal faragh” Dua kenikmatan
yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang (H.R. Imam Bukhari).
asy Syafi-i berkata : Aku bergaul dengan orang orang sufi. Aku tidak mengambil
manfaat dari mereka kecuali hanya dua kalimat saja. Aku mendengar mereka
berkata : (1) Waktu bagaikan pedang jika engkau tidak memotongnya maka dia akan
memotongmu. (2) Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran maka ia
akan menyibukkan dirimu dengan kebatilan. (Lihat Madarijus Saalikin).
hari dan satu hari 24 jam, hakikatnya betul betul singkat dari apa yang kita hitung di dunia ini.
Perhatikanlah firman Allah dalam surat al Mu’minuun 112-114 : “Dia (Allah) berfirman : Berapa tahunkah
lamanya kamu tinggal di bumi ?. Mereka menjawab : Kami tinggal (di bumi) sehari
atau setengah hari maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung. Dia (Allah)
berfirman : Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar benar
mengetahui”.
karena itu para ulama salaf selalu memanfaatkan
waktu yang pendek dan cepat berlalu ini
untuk yang betul betul bermanfaat.
Bahkan banyak diantara mereka mengurangi waktu tidur, waktu makan dan berjalan.
Tidaklah mereka akan membuang waktu sedikitpun untuk yang sia sia dan tidak ada manfaat akhiratnya.
contoh bagaimana para sahabat ulama salaf memanfaatkan waktu adalah :
tidak ketinggalan dalam majlis Rasulullah maka beberapa sahabat biasa bersepakat untuk mengumpulkan onta onta. Onta onta yang telah dikumpulkan ini, digembalakan dan dirawat oleh satu orang
diantara mereka secara bergiliran. Pemilik onta yang belum mendapat giliran menggembala
maka mereka bisa hadir di majlis Rasulullah. Yang bisa hadir langsung di majlis
Nabi kemudian menyampaikan ilmu yang didapatnya pada saat menghadiri majlis
kepada saudaranya yang tidak bisa hadir. Inimembuat mereka tidak ada yang
ketinggalan dalam mendapatkan ilmu.
bergantian untuk menggembalakan onta onta mereka. Mereka gabungkan onta onta
mereka menjadi satu. Kemudian salah seorang dari mereka, secara bergantian,
bertanggung jawab menggembalakannya. Demikian ini akan lebih nyaman bagi
mereka. Sedangkan yang lain menyelesaikan urusan dan kebutuhan mereka.
agar tersedia kesempatan yang memadai
bagi mereka untuk mendatangi majlis Nabi (Kitab al Adzkar).
waktu yang sedikit dan cepat berlalu ini. Para sahabat mungkin tidak memiliki
teori yang hebat tentang time management
seperti kebanyakan manusia zaman sekarang. Namun mereka telah mempraktekkan
bagaimana memanfaatkan waktu sehingga
tidak dibiarkan berlalu begitu saja.
mendapati kaum yang setiap orang dari mereka lebih pelit terhadap umurnya
(waktunya) daripada terhadap hartanya. (Syahrus Sunnah, Imam al Baghawi).
kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk berdzikir
kepada Allah Ta’ala hingga tempat tertentu. Jika telah sampai ke tempat itu aku
usahakan diriku berdzikir hingga tempat selanjutnya hingga sampai ke rumah.
(Siyar A’lamin Nubala’).
yang pendek ini karena tak terasa cepat pergi. Mari kita manfaatkan terutama untuk mencari bekal akhirat.
(845)




































