Azwir B. Chaniago
para sahabat dan orang orang orang shalih adalah melakukan qiyaamul lail atau
shalat malam. Allah berfirman : “Wa minal
laili fa tahajiad bihii naafilatal laka, ‘asaa an yab’atsaka rabbuka maqaaman
mahmuudaa”. Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajjud (sebagai
suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah mudahan Rabbmu mengangkatmu ketempat yang
terpuji. (Q.S al Israa’ 79).
banyak diantaranya adalah :
setelah shalat fardhu.
maktuubati ash shalatu fii jaufil laili”. Shalat yang paling utama setelah
shalat yang fardhu adalah shalat ditengah malam. (H.R Imam Muslim dari Abu
Hurairah).
shalih.
fainnahu dakbush shalihiina qablakum, wahuwa
qurbatun lakum ilaa rabbikum, wa maghfaratun
lissaiyati wa manhaatun ‘anil itsmi.
Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang orang
shaleh sebelum kalian, ia sebagai amal taqarrub bagi kalian kepada Allah,
penghapus kesalahan kesalahan dan menjauhkan dosa. (H.R Imam at Tirmidzi, Imam
al Baihaqi dan al Hakim).
senantiasa melazimkan shalat malam bagi dirinya.
dan sangat dianjurkan dalam shalat malam
ini bagi yang mampu yaitu lama berdirinya. Rasulullah bersabda : “Afdhalush shalaati thuulul qunuut” Sebaik baik shalat adalah yang
lama berdirinya. (H.R Imam Muslim).
sangat lama terutama pada saat berdiri karena beliau biasa membaca surah yang panjang seperti al Baqarah, Ali
Imran, an Nisa’ dan yang lainnya. Bahkan diriwayatkan dari A’isyah bahwa Nabi
shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri dalam shalat.
Tabi’ut Tabi’in disebutkan tentang perbuatan yang paling agung yaitu lama
berdiri di hadapan Allah Ta’ala pada (shalat) malam hari. Sungguh riwayat ini
mendorong kita untuk melakukannya (lama berdiri) ketika shalat malam. Berdiri
semacam ini menunjukkan kekhusyu’an hati kepada Allah dan memohon tempat yang
dekat disisi-Nya. Barang siapa yang lama berdiri untuk Allah Ta’ala, niscaya
Allah akan meringankan berdirinya pada hari berdirinya seluruh manusia di
hadapan Rabb semesta alam, yakni pada hari Kiamat kelak. Demikian pula
sebaliknya. (Syaikh Abdul Aziz as Sayyid Nada, Kitab Ensiklopedi Adab Islam).





































