sudah terjadi. Ada yang berkata :
Seandainya dulu aku melakukan seperti ini maka tentu tidak
akan menjadi begini. Seandainya dulu aku
tidak melakukan seperti ini maka tentu akan jadi begini. Sungguh
model berandai andai yang semakna dengan ini sangatlah banyak terjadi di
masyarakat.
ucapan seorang ayah menyesali kehidupan
anaknya yang kurang beruntung. Si ayah berkata kepada anaknya : Coba andaikata dulu kamu mengikuti nasehat ayah untuk mau kuliah tentu
kamu bisa dapat gelar sarjana dan tentu hidupmu lebih baik dari sekarang. Ini
salah satu contoh berandai andai dalam kehidupan.
bermakna atau mengandung penolakan terhadap apa yang telah Allah takdirkan bagi
seseorang atau terhadap sesuatu yang telah terjadi.
ayah yang tersebut diatas tadi. Ayahnya mengatakan :
meninggalkan pertanyaan : Lalu siapa yang menjamin mesti dapat gelar sarjana
jika kuliah. Bukankah ribuan orang yang kuliahnya terputus dengan berbagai
sebab yang terkadang karena sebab yang sepele saja. Bahkan ada yang putus
kuliahnya ketika sudah berada pada semester akhir.
sekarang. Ini juga menyisakan pertanyaan : Lalu siapa yang menjamin jika punya
gelar sarjana akan memiliki kehidupan
lebih baik. Bukankah banyak orang yang tidak bersekolah, bahkan tidak
bisa baca tulis, tapi jika Allah berkehendak mereka memiliki kehidupan yang
baik.
semangat orang orang untuk belajar. Belajarlah terus selagi ada kesempatan sampai dapat gelar S1, S2 dan kalau bisa S3. Sungguh
belajar ilmu yang bermanfaat adalah
sesuatu yang sangat baik dan sangat
ditekankan dalam syariat Islam. Bahkan belajar suatu ilmu yang akan memberi manfaat
bagi kaum muslimin adalah wajib dalam
Islam. Bukankah Rasulullah telah bersabda : “Thalibul ‘ilmi faridhatun ‘ala
kulli muslim”. Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim (H.R Imam
Ahmad). Ini adalah salah satu dalil yang tegas tentang wajibnya belajar bagi
seorang muslim baik laki laki maupun perempuan.
pembaca agar tidak senantiasa berkata kalau seandainya melakukan ini hasilnya mesti
begitu. Apalagi berandai andai terhadap yang telah terjadi.
yakin bahwa sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah kehendak dan
ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk apapun yang telah dan akan
terjadi pada diri setiap orang. Allah berfirman : “Qul lan yushiibanaa illa
maa kataballahu lanaa, huwa maulaanaa” Katakanlah (Muhammad) sekali kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.
Dialah pelindung kami. (Q.S at Taubah 51).
ini adalah bahwa Dia yang menakdirkannya dan memberlakukannya di Lauhul
Mahfudz. Dialah pelindung kami yang mengurusi perkara kami, baik urusan agama
maupun dunia. Maka kita wajib ridha terhadap takdir-Nya dan kita tidak memiliki
sedikitpun hak dalam perkara kita. (Kitab Tafsir Karimir Rahman).
salah satu pintu syaithan untuk menggoda dan menipu dirinya. Rasulullah
Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ahrish
‘ala maa yanfa’uka, wasta’in billahi, walaa ta’jaz, wain ashabaka syai-un falaa
taqul : Lau anni fa’altu kaana kadzaa wa kadzaa. Walakin Qul :
qadarullahi wa maa syaa-a fa’ala, fainna lau taftahu ‘amalasy syaithaan”
.
yang bermanfaat untuk dirimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan
bersikap lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu janganlah berkata : Seandainya
aku lakukan begini dan begitu, akan tetapi katakanlah : Semuanya adalah
ketentuan Allah yang melakukan segala keinginan-Nya, karena kata seandainya
akan membuka tipu daya syaithan. (H.R Imam Muslim).
Jika seorang hamba ditimpa sesuatu yang tidak dia sukai maka janganlah
ia mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena ia tidak melakukan beberapa
sebab. Menurut prasangkanya bila hal itu ia lakukan, maka akan memberikan
manfaat buat dirinya. Akan tetapi serahkanlah kepada ketentuan Allah Subhanahu
wa Ta’ala agar imannya bertambah, hatinya akan tenang dan jiwanya tidak
goncang. Dalam kondisi seperti ini kata kata seandainya hanya akan membuka
perbuatan syaithan yang akan mengurangi keimanannya terhadap takdir. Bahkan
menolak takdir dan membuka pintu kebimbangan, rasa sedih dan kelemahan hati (Bajat
Qulub al Abrar).
iman yang sempurna sampai ia mengetahui dan menerima bahwa segala segala sesuatu yang terjadi
seperti musibah yang menimpa ataupun nikmat yang ia terima adalah takdir atau
ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.




































