kepada kita kapan saja dan dimana saja Dia berkehendak. Ketahuilah bahwa
berbicara tentang hujan sebenarnya kta bicara tentang rahmat Allah yang
diturunkan kepada kita berupa air yang mensucikan, sebagaimana dijelaskan Allah
dalam firman-Nya : Wahuwal ladzi arsalar riyaaha busyram baina yadai
rahmatihii, wa anzalnaa minas samaa-i maa-an
thahuuraa. Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar
gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Dan kami turunkan dari
langit air yang mensucikan (Q.S al Furqan 48).
bahwa hujan adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Allah
menjelaskan pula bahwa bumi ini gersang, tandus lalu
disiram hujan menjadi subur. Allah berfirman : “Dan sebagian
dari tanda tanda (kebesaran) Nya. Engkau melihat bumi itu kering dan tandus,
tetapi apabila Kami turunkan hujan diatasnya, niscaya dia bergerak dan subur.
Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (Q.S Fusilat 39).
hujan telah mendatangkan banjir, longsor, kemacetan dimana mana dan yang
lainnya.
musibah karena Allah yang berfirman bahwa hujan adalah rahmat. Jika Allah
berfirman bahwa hujan adalah rahmat lalu sebagian manusia mengatakan musibah,
maka yang benar pastilah apa yang difirmankan Allah.
Allah mengharamkan kezhaliman bagi diri-Nya. Dari Abu Dzarr al Ghifari, dari
Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Allah,
bahwa Dia berfirman :”Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan
kezhaliman atas diri-Ku dan Aku telah mengharamkannya atas kalian, maka
janganlah kalian saling menzhalimi” (Hadits Qudsi, diriwayatkan oleh Imam
Muslim)
:“Wamaa ashaabakum min musiibatin fabima kasabat aidiikum wa
ya’fuu ‘an kasyiir” Dan musibah apa saja yang menimpa kamu adalah karena
perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan
kesalahanmu). Q.S asy Syuura 30.
tanganmu dalam ayat ini maknanya adalah dosa dosa kalian.
Nabi Nuh yang durhaka diadzab dengan banjir besar. Sungguh banjir itu datang
bukan karena mereka membuang sampah sembarangan atau karena pengrusakan
lingkungan, pembalakan liar dan penggundulan hutan tetapi mereka diadzab karena
dosa dosa mereka terutama kesyirikan dan menolak ajaran Nabi Nuh.
sembarangan, penggundulan hutan memang salah satu pemicu musibah banjir. Tapi
sekali lagi dikatakan bahwa penyebab paling utama adalah dosa dosa manusia yang
belum bertaubat.
negeri kita ini, khususnya di Jabodetabek, dosa apa yang belum pernah dilakukan
manusia. Semua sudah dilakukan. Mulai dari dosa yang paling besar seperti
mengolok olok ayat ayat Allah, melakukan kesyirikan, pembunuhan, perampokan, korupsi,
perzinaan dan yang lainnya sudah sangat banyak terjadi. Juga termasuk kelalaian
yang amat sangat dari sebagian kita untuk melaksanakan perintah Allah khususnya
ibadah.
bertaubat. Kalaupun ada mungkin belum memenuhi syarat syarat taubat yang
syar’i. Bukankah ini berpotensi untuk menjadi penyebab datangnya murka Allah
Subahanahu wa Ta’ala dan bermuara kepada musibah.
kelakuan kita dalam menyikapi dan menerima rahmat Allah berupa hujan.
sangka kepada Allah. jika melihat hujan mau turun. Ada
diantara kita berkomentar sesukanya,
seperti :
terjadi.
hari ini. Makna dari komentar ini adalah kalau bisa jangan ada rahmat Allah
hari ini. Jadi rahmat Allah ditolak.
ini tidak ada rahmat Allah. Seolah olah mereka senang kalau rahmat Allah tidak
datang . Ketahuilah bahwa rahmat Allah bermakna kasih sayang Allah.
adzab Allah. Bukankah mencela hujan adalah sama dengan mencela perbuatan dan
ketetapan dari Dzat yang menurunkan hujan yaitu Allah Ta’ala. Akibatnya, Allah
mengalihkan hujan dari rahmat menjadi adzab.
kelakuan sebagian manusia yang suka menyelisihi Rasulullah termasuk dalam cara
menyikapi hujan. Sungguh orang orang yang menyelisihi apa yang diajarkan
Rasulullah maka Allah akan mendatangkan baginya cobaan bahkan adzab yang pedih.
amrihii an tushibahum fitnatun au yushibahum ‘adzabun aliim”. Maka hendaklah orang orang yang menyelisihi
perintahnya (perintah Rasulullah) takut akan mendapat cobaan atau adzab yang
pedih. (Q.S an Nuur 63).
fisik seperti diri sendiri, keluarga, harta dan juga non fisik berupa
ketakutan, kecemasan dan yang lainnya.
sedikitnya syukur kita terhadap nikmat nikmat Allah. Allah berfirman :
“Wala-in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.” Tetapi jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku) maka adzabku sangat pedih.
(Q.S Ibrahim 7).
kepada nikmat nikmat Allah yang kita
peroleh. Mungkin banyak lalai kita dalam bersyukur.
baik, bagi kita dalam segala hal, baik dalam aqidah, ibadah, akhlak dan
muamalah. Dalam menyikapi hujan beliau juga telah memberikan teladan bagi kita.
Diantaranya adalah :
berobah wajahnya menunjukkan kecemasan. Ketika ditanya Aisyah kenapa beliau
demikian cemas, beliau menjawab : Ya Aisyah tidak ada yang bisa menjamin bahwa
dengan awan hitam ini Allah tidak akan menurunkan bala karena dosa dosa kita.
jika melihat awan hitam. Hampir tidak ada diantara kita yang menunjukkan
kecemasan. Manusia beranggap bahwa itu adalah fenomena alam biasa, yang dari
dulu juga begitu.
kecemasan tadi. Kita umumnya tidak berdoa karena tidak memiliki rasa cemas
apapun.
naafi’an” Ya Allah jadikanlah hujan
ini hujan yang bermanfaat.
berteduh tapi membuka tutup kepala atau sebagian dari penutup lengan atau
bagian tubuh beliau untuk dibiarkan langsung kena hujan setelah itu baru
berteduh.
kenapa engkau melakukan seperti itu. Beliau bersabda : Bahwa hujan ini baru
turun langsung dari Rabbnya. Belum ada yang menyentuh sehingga nikmatnya belum
berkurang.
beliau inginkan, karena pada saat hujan turun adalah salah satu waktu atau
keadaan doa diijabah.
“Muthirna bifadhlihi wa rakhmatihi” Kami telah (diberi hujan) dengan karunia
dan rahmat-Nya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
rahmat Allah.
manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (184)








































