Hias Jatinegara. Mamah minta dibeliin sebanyak 10 ekor. Katanya biar
kolam gak sepi.
bertahan. Satu per satu ikannya mati. Memeliharan ikan koi memang agak
susah.

papah duduk di samping kolam sambil baca koran dan menikmati kopi. Bisa
berlama-lama me time di sana. Makanya tetap dipelihara meskipun papah
sudah wafat.

hehehe
Gemuk dan sehat-sehat. Seru kalau lagi dikasih makan. Pada bergerombol
rebutan makanan. Tapi, menjelang akhir tahun lalu mati semua 😭.
Beberapa tahun sebelumnya juga ada kejadian. Salah satu pelakunya adalah
kelompok anak-anak dari perkampungan sekitar komplek. Mereka tuh
terkadang iseng aja ngambil. Lihat suasana komplek lagi sepi, ikan
diserokin. Namanya bocil-bocil, terkadang ikannya ditangkap cuma buat
dimainin kalau kata satpam komplek yang pernah mergokin.
pagar. Jadi memang mudah banget mengambil ikannya. Bahkan ketika kami
pulang mudik, lupa Lebaran tahun berapa, kolam bener-bener kosong!
Dikuras semua isinya oleh orang gak bertanggungjawab.

rumah. Beneran menyejukkan sih kalau ada binatang peliharaan. Gak usah
jauh-jauh buat healing hehehe.
Namanya juga hobi. Udah gitu, papah gak pernah beli Koi dari ukuran yang
udah gede. Tapi, mulai dari kecil hingga sedang. Dirawat banget sampai
ukurannya semakin besar.
Drama Memelihara Ikan Koi

artikel yang pernah saya baca, rata-rata usianya antara 50-60 tahun. Ada
juga yang sampai 90 tahun. Bahkan ikan koi tertua sepanjang sejarah
berusia 226 tahun.
makan, menjaga suhu air, kualitas air, dan lain sebagainya. Harus
konsisten disayang dan diurus kalau pelihara Koi gak bisa dicuekin gitu
aja hehehe.
Padam Listrik Total di Jakarta

2019. Kami ketar-ketir banget dengan nasib ikan Koi. Karena ikan ini
bisa bertahan hidup di lingkungan air dengan kadar oksigen tinggi. Kalau
padam listrik, pompa kolam kan ikut mati. Mana kami gak punya genset.
Memang beberapa orang menyarankan kalau pelihara ikan koi
wajib punya genset. Jaga-jaga seandainya terjadi pemadaman listrik.
Tetapi, bertahun-tahun pelihara ikan ini, belum pernah sekalipun terjadi
pemadaman yang sampai segitu lama. Makanya merasa aman aja.
mati. Bahkan sampai ada yang menggugat PLN segala karena
listrik padam berjam-jam
mengakibat kematian koi. Entah sampai mana kelanjutan kasusnya. Saya gak
ikutin kelanjutannya. Kami bersyukur, semua ikan masih selamat. Cuma ada
beberapa ekor yang sempat lemas karena kurang oksigen.
Wabah Ikan Koi di Rumah
bungsunya. Karena adik saya, kan, baru punya anak. Jadi mamah bantuin
mengurus.
tangga yang bantu-bantu. Tetapi, kalau untuk ikan paling cuma dikasih
makan. Gak pernah diminta bebersih kolam.
papah wafat, suami yang bersihin. Tetapi, saat itu lagi gak sempat
banget. Makanya kolam semakin butek.
kolam. Pas banget begitu adik membuka pintu mobil.
karena pemilik rumah datang, lho. Tetapi, itu pertanda ada masalah.
Kualitas air yang buruk, ada kutu di tubuh ikan, dan beberapa masalah
lainnya.
Sebetulnya suami saya udah biasa ngebersihin kolam ikan. Tetapi, karena
waktu itu ada ikan yang sakit, mending panggil ahlinya aja. Penyebabnya
langsung ketahuan yaitu kualitas air yang buruk karena udah lama gak
dibersihin. Ada 3 ekor ikan yang terkena wabah. 2 ekor bergejala ringan,
seekor lagi gejalanya agak berat.

pandemi
COVID-19 ini. 3 ekor ikan yang terkena wabah harus diisolasi. Kami
menyiapkan 2 jolang (ember besar yang biasa dipakai untuk mencuci baju).
1 jolang untuk yang gejalanya ringan. 1 lagi untuk yang berat.

bisa tenang. Kalau enggak loncat ke luar terus.
bergejala berat harus ditutup. Karena ikannya loncat melulu. Kasihan
jadi jatuh ke lantai dan menggelepar terus. Ikan-ikan yang sehat, tetap
di kolam yang tentunya sudah dibersihkan.
ada yang sampai 2 minggu. Harus bener-bener sembuh dulu baru bisa
kembali ke kolam. Supaya gak nularin penyakitnya ke yang lain. Ikan-ikan
Koi kami ternyata pengen merasakan suasana pandemi juga hihihi.
orang yang bersihin kolam, lho. Dia menawar dengan harga Rp2
juta. Menggiurkan banget, ya! Ikan yang sakit aja masih bisa dapat harga
segitu. Apalagi yang sehat.
almarhum. Mamah pengen tetap memelihara ikan tersebut.
Ikan Koi Mati Semuanya

Padahal aslinya gede-gede kayak ikan-ikan koi yang suka ada di
resto-resto.
kejadian begini.
adek. Kolam pun kembali kotor. Saya dan suami datang ke rumah mamah
untuk ngebersihin kolam.
tiba-tiba satu per satu ikan koi mengambang. Mati!
boleh dikuras semua. Jadi meskipun udah sangat kotor, tetap harus
disisain sekitar 1/3 atau 1/2. Kalau enggak katanya bikin ikan koi jadi
kaget dengan perubahan suhu. Fatalnya bisa mengakibatkan
kematian.
macam Thanos yang tinggal menjentikkan jari, trus langsung pada tewas.
Gak ada satupun yang selamat.
Kalau 1 ekor bisa dihargai Rp2 juta. Berarti 30 ekor lebih ini, berapa
puluh juta kerugiannya, ya?
aja kami mulai pelihara lagi seperti kejadian pencurian besar-besaran
beberapa tahun lalu. Beli yang kecil dan dipelihara sampai gede
lagi.
kesayangan papah. Teringat papah pelihara dari ukuran kecil sampai pada
gede-gede. Setiap akhir pekan bisa berlama-lama duduk dekat kolam. Semua
itu langsung terlintas aja di pikiran, Makanya kehilangan yang kali ini
nyesek banget. Apalagi gak ada satupun yang bertahan hidup.
Jalan-Jalan ke Pasar Ikan Hias Jatinegara
banget gak ada ikannya.”
Hias Jatinegara. 5 ekor untuk di rumah kami, sisanya untuk mamah. Memang
sengaja gak kasih semua. Karena pengen tau bisa bertahan hidup atau
enggak.
hanya 1 ekor yang mati. Sedang di rumah mamah mati semua. Huaaaa!
Ikan Hias Jatinegara. Dibawa semua ke rumah mamah. Awalnya semua
bertahan selama beberapa hari. Tapi, kemudian satu per satu mulai ada
yang mati.
banget ya pelihara Koi. Jadi kangen dengan ketelatenan papah.
mengajak ke Sumenep Menteng, Jakarta Pusat. Sebetulnya saya gak terlalu
tau banyak jenis-jenis ikan hias. Tetapi, suka aja kalau diajak ke sana.
Apalagi melihat ikan-ikan yang ada di aquarium. Cakep-cakep banget,
deh!

Timur. Udah tau tempat ini sejak lama banget. Tetapi, saya baru tau
kalau udah direlokasi. Gak lagi berjualan di trotoar. Ada area
sendiri.
parkir di pinggir jalan. Gak bising dengan kendaraan
bermotor.
Sumenep kalau sekadar ingin cuci mata. Kayaknya lebih bagus-bagus.
Tetapi, itu kan ingatan masa kecil. Udah sekian puluh tahun gak ke sana.
Jadi belum tau lagi kondisi terkini.

Jatinegara lumayan lengkap. Gak hanya ikan, tetapi segala peralatan
hingga makanannya juga dijual di sini. Kata Suami, kalau hari Minggu
yang jual ikan bisa lebih rame lagi. Tetapi, waktu itu saya udah puas
juga diajak ke sana.
Mamah minta dibeliin lagi. Karena kayaknya kolam masih terlalu sepi kalau
hanya terisi beberapa ekor. Nanti deh abis Lebaran cari ikan Koi lagi di
Pasar Ikan Hias Jatinegara. Semoga aja ikan-ikan yang kami beli ini bisa
terus bertahan dan gede lagi.
Pasar Ikan Hias Jatinegara
































