artikel tapi kelupaan menyimpan link
urlnya? Atau ada artikel yang sudah dibaca tapi ingin dibaca lagi kapan-kapan? Pasti
sering ya … apalagi saat ini hampir semuanya linked. Memang sudah ada fitur bookmark,
tapi tidak semua ‘hal’ bisa disimpan menggunakan bookmark. Nah, hal itulah yang menginspirasi Nate Weiner menciptakan Pocket.
Later, baru pada tahun 2010 developer
memutuskan untuk merebranding Read It
Later dan mengganti namanya menjadi Pocket.
bisa didownload melalui Play Store,
jika pencarian dengan keyword
‘Pocket’ tidak juga membuahkan hasil cobalah menggunakan keyword ‘Get Pocket’. Sedangkan untuk penggunaan di desktop, user hanya perlu mendownload
Pocket button di situs resmi Pocket.
Ketika menemukan link url yang akan
disimpan user hanya tinggal mengklik
Pocket button.
dari Google search engine, lantas apa
bedanya dengan bookmark? Bedanya
adalah link url yang sudah disimpan
melalui bookmark hanya dibuka ketika
sedang online, sedangkan link url
yang disimpan melalui Pocket bisa dibuka secara offline.
hanya bisa dibuka saat sedang online
saja. Salah satu kemungkinannya adalah download
yang belum selesai. Seperti You Tube yang memiliki motto ‘save now, watch
later’, Pocket juga memiliki motto
‘save now, read later’, untuk bisa
dinikmati secara offline keduanya mendownload isi link url yang telah disimpan user.
dibaca-baca lagi nanti bisa disimpan di bagian archive, untuk mempermudah pencarian link url yang disimpan user
bisa menggunakan tag. Untuk fitur tag ini user hanya bisa mengedit
(rename) di desktop sedangkan untuk android fitur tersebut tidak ada.
nanti ketika berganti gadget / device semua data yang sudah tersimpan tidak hilang. Selain itu user juga bisa membuka akun Pocket nya
di desktop dan smartphone secara bersamaan.
kuliah lalu aplikasi Pocket ini sangatlah praktis dan berguna, terutama untuk
menyimpan link url yang didapat dari
timeline Twitter. And … at least, tdak perlu merasa khawatir akan
kehilangan data ketika switch device.





































