Kejelasan
mampu menggunakan bahasa yang sederhana dan mengemasnya dengan untaian
kata yang memudahkan mahasiswa mencerna
dan memahami apa yang disampaikan.
Ketepatan
informasi yang disampaikan. Karena seringkali terjadi supaya terlihat lebih
menarik kita menggunakan bahasa-bahasa yang lebih tinggi dan tidak nyambung
dengan materi yang disajikan.
Konteks
kelas. Seorang dosen harus jeli melihat situasi dan kondisi mahasiswanya.
Sebagai contoh ketika mengajar pada waktu sore barangkali sebahagian mahasiswa
sudah lelah dan jenuh karena seharian belajar maka komunikasi yang dilakukan
oleh dosen tidak bisa menggunakan bahasa-bahasa yang berat melainkan bahasa
yang ringan dan lebih terkesan humoris yang bisa membangkitkan kembali motivasi
mahasiswa untuk belajar.
Alur
oleh dosen harus tersusun secara jelas dan sistematis agar mahasiswa cepat
memahami dalam menerima informasi. Karena seringkali kita menggunakan bahasa
yang berbelit-belit sementara kesimpulan hanya sedikit saja.
Budaya
dengan tatakrama dan etika dalam berkomunikasi. Meskipun sama-sama manusia
namun antara dosen dan mahasiswa ada garis yang memisahkannya. Garis pemisah
tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kewibawaan seorang dosen. Oleh karena itu meskipun harus membangun
komunikasi yang efektif namun bukan
berarti kebablasan, tetaplah berada pada koridornya.
DeddyMulyana. (2008). KomunikasiEfektif. Bandung:
PT.RemajaRosdaKarya.
Endang
Lestari G&
Maliki. (2003). Komunikasi yang Efektif.
LembagaAdministrasi Negara. Jakarta.
OnongUchjana
Effendi. (1993), Ilmu, TeoridanFilsafatKomunikasi.
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Undang-Undang
Nomor 12 tentang Pendidikan Tinggi
Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.




























