الله الرحمن الرحيم
(1441 H/2020 M)
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :
hamd.
tidak tahu, apakah bulan itu akan kita jumpai lagi atau tidak? Orang yang
malang adalah orang yang tidak memperoleh kebaikan dan keberkahan di bulan itu
dan dosa-dosanya tidak diampuni. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,
عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
kemudian bulan itu berlalu namun dosa-dosanya dalam keadaan belum diampuni.”
(Hr. Tirmidzi, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
berkata kepada sebagian yang lain, “Siapakah orang-orang yang malang di bulan
ini? Orang yang malang adalah orang yang terhalang dari memperoleh kebaikan.
Orang yang malang adalah orang yang terhalang dari istiqamah di atas ketaatan.”
agar Dia memberikan kesempatan lagi kepada kita untuk dapat menjumpai kembali
bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai amalan saleh.
berbahagia!
sebelumnya.
bernama Corona atau Covid 19.
kebiasaan beramal saleh lalu ada penghalang dari luar, maka Allah tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.
alaihi wa sallam dalam riwayatnya dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi,
اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ
بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ
هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى
سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ
كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ
عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ
سَيِّئَةً وَاحِدَةً
menjelaskan hal tersebut: barang siapa yang berniat melakukan kebaikan kemudian
dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Jika
dia berniat melakukannya kemudian dilaksanakannya maka Allah akan mencatatnya
sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan
yang banyak. Dan jika dia berniat melakukan keburukan kemudian tidak
melaksanakannya maka dicatat baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia
berniat melakukan keburukan kemudian dia melaksanakannya, maka Allah
mencatatnya sebagai satu keburukan. (HR. Bukhari
dan Muslim)
يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا»
untuknya amal yang biasa dikerjakan pada saat mukim dan sehat.” (Hr. Bukhari)
berbahagia!
kehendak Allah. Dia berfirman,
أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Allah.” (Qs. At Taghabun:
11)
Allah Ta’ala berfirman,
أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan
Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. Asy Syuuraa: 30)
Allah Ta’ala berfirman,
بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
buruk-buruk, agar mereka kembali.” (Qs. Al A’raaf: 168)
tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit
kesombongan, ujub (bangga diri) dan kerasnya hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia
maupun akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah
yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga
kebersihan ibadahnya. Mahasuci Allah Yang merahmati manusia dengan musibah dan
ujian.”
berkata, “Musibah yang diterima karena Allah semata, lebih baik bagimu
daripada nikmat yang membuat lupa mengingat-Nya.”
berbahagia!
perbuatan-Nya, syariat yang Dia tetapkan dalam agama-Nya, dan takdir yang Dia
tetapkan di alam semesta. Oleh karenanya, dalam musibah yang menimpa kita ada
hikmah di dalamnya. Di antara hikmah yang dapat kita petik adalah:
bantahan terhadap kaum Atheis yang mengingkari adanya tuhan, namun anehnya
mereka percaya adanya virus ini meskipun tidak terlihat jelas kecuali dengan kaca
pembesar seperti mikroskop karena ada bekas pengaruhnya, padahal adanya Allah
Ta’ala lebih banyak lagi buktinya, seperti adanya mereka, langit, bumi, planet,
bintang-bintang, dan tersusun rapihnya alam semesta ini, dst.
kelemahan manusia dengan segala teknologi dan kecerdasannya, ternyata mereka
tumbang oleh virus yang kecil ini. Oleh karenanya, mereka tidak pantas berlaku
sombong dan menyatakan ‘tidak ada yang lebih hebat daripada kami’ seperti kaum
Aad yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla dan sekarang diikuti oleh rezim
Komunis Cina.
Allah Azza wa Jalla, dimana dengan dikirimkan virus yang kecil ini ternyata
dapat mengguncang dunia, membuat keadaan tidak stabil, ekonomi anjlok, dan
lain-lain.
manusia agar tidak berlebihan mengejar dunia sampai meninggalkan beribadah dan
mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
kebenaran Islam ketika mengharamkan mengkonsumsi makanan tertentu seperti babi,
kucing, anjing, kelelawar, ular, tikus, hewan bertaring, dsb.
bahayanya pergaulan bebas.
semakin nyata kebenaran syariat Islam.
najis.
berbahagia!
daripada mengobati yang disimpulkan dari banyak ayat dan hadits sehingga
muncullah kaidah fiqih Dar’ul Mafasid muqaddam ‘ala jalbil Mashalih
(menolak bahaya didahulukan daripada menarik maslahat). Maka syariat datang
menerangkan berbagai bentuk pencegahan, baik dengan berdoa maupun dengan
melakukan tindakan tertentu.
mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ، وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ، حَتَّى
يُصْبِحَ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ
بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ
siapa yang mengucapkan “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil
ardhi walaa fis samaa wa huwas sami’ul aliim” (artinya: dengan nama Allah
yang tidak ada sesuatu pun dapat membahayakan bersama nama-Nya baik di langit
maupun di bumi, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui) sebanyak tiga kali,
maka dia tidak akan ditimpa musibah yang datang tiba-tiba sampai sore hari
(dari pagi hari), dan barang siapa yang mengucapkannya di pagi hari sebanyak
tiga kali, maka dia tidak akan ditimpa musibah yang datang tiba-tiba sampai
sore hari.” (Hr. Abu Dawud no. 5088, dishahihkan oleh Al Albani)
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan doa ini di
pagi dan sore,
الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ
وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي،
وَآمِنْ رَوْعَاتِي، وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي،
وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
Allah, sesungguhnya aku meminta maaf dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya
Allah, aku meminta maaf dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan
hartaku. Ya Allah, tutupilah aibku, tenangkanlah rasa takutku. Jagalah aku dari
depan, belakang, kanan, kiri, atas, dan bahaya tiba-tiba dari bawahku.” (Hr.
Ibnu Majah dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)
hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam pernah melewati segolongan kaum yang mendapat bala musibah, maka Beliau
bersabda,
الْعَافِيَةَ
Allah Azza wa Jalla?” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no.
2197).
keluar menuju Syam. Ketika sampai di daerah Sargh (kampung ke arah Syam dekat
Hijaz) sampai berita kepadanya, bahwa telah tersebar wabah di Syam, kemudian
Abdurrahman bin Auf menyampaikan
kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ، فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ
بِهَا، فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»
kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah mendatanginya.
Tetapi jika wabah itu menimpa sebuah tempat sedangkan kalian berada di sana,
maka jangan keluar daripadanya karena hendak melarikan diri daripadanya.”
Bukhari dan Muslim)
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا
وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ
وِكَاءٌ، إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ»
wadah makanan dan rapatlah bejana minuman, karena dalam setahun ada suatu malam
yang pada malam itu wabah turun, dimana tidaklah wabah itu melewati wadah atau
bejana yang tidak ada tutupan atau tidak dirapatkan melainkan akan masuk ke
dalamnya.” (Hr. Muslim)
kematian.
berbahagia!
telah mengajarkan amalan dan tindakan yang dapat menghindarkan bala musibah
مِنْ آيَاتِ اللهِ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَا لِحَيَاتِهِ،
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا اللهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
kekuasaan Allah. Keduanya tidaklah terjadi gerhana karena meninggalnya
seseorang dan hidupnya seseorang. Apabila kalian melihatnya, maka bertakbirlah,
berdoalah kepada Allah, shalat, dan bersedekahlah.” (Hr. Muslim)
berkata, “Mereka diperintahkan menghindarkan bala musibah dengan berdzikir,
berdoa, shalat, dan sedekah.”
shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan ketika terjadi gerhana untuk shalat,
memerdekakan budak, bersegera berdzikir kepada Allah Ta’ala, dan bersedekah.
Ini semua dapat menolak sebab terjadinya musibah.”
menghindarkan musibah adalah:
shalat dengan khusyu dan thumaninah.
dalil bahwa barang siapa yang ditimpa perkara dahsyat seperti cobaan yang berat
sepatutnya segera shalat.”
beristighfar dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
kamu berada di antara mereka. Dan tidak pula Allah akan mengazab mereka, sedang
mereka meminta ampun.” (Qs.
Al Anfaal: 33)
banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.
الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Allah di waktu senggang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu susah.” (Hr.
Ahmad, Thabrani, Abu Nu’aim, dan Hakim dari Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahihul Jami no. 2961)
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar pada saat Idul Adh-ha
atau Idul Fitri, lalu Beliau mendatangi kaum wanita dan bersabda,
تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
kaum wanita! Bersedekahlah, karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah
penghuni neraka paling banyak.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
hadits ini adalah bahwa sedekah dapat menolak bala musibah.
تَقِي مَصَارِعَ السُّوْءِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَصِلَةُ
الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِي الْعُمُرِ
kematian yang buruk, sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat
memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahim dapat memanjangkan umur.” (Hr.
Thabrani dari Abu Umamah, dihasankan oleh Al Albani
dalam Shahihul Jami no. 3797)
berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، وَإِنَّ الْبَلَاءَ لَيَنْزِلُ فَيَتَلَقَّاهُ الدُّعَاءُ
فَيَعْتَلِجَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
terhadap musibah yang telah menimpa dan yang belum menimpa. Sesungguhnya
musibah ketika turun lalu ditemui oleh doa, maka keduanya beradu (saling
mengalahkan yang lain) sampai hari Kiamat.” (Hr. Hakim, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul
Jami no. 7739)
turun, lalu doa naik sehingga saling berhadapan, ketika ini ada tiga keadaan:
syarat dikabulkan doa) daripada musibah, sehingga musibah itu kalah dan
terangkat.
ketika inilah saling beradu sampai hari Kiamat seperti yang disebutkan dalam
hadits di atas.
ketika itulah musibah itu turun, namun doa meringankannya.
obat paling bermanfaat. Dia adalah musuhnya bala musibah, menghindarkan dan
mengatasinya, serta menolak turunnya musibah.”
berbahagia!
meskipun
bulan Ramadhan telah berlalu, namun kesempatan meraih pahala yang banyak masih
ada, di antaranya adalah dengan melanjutkan berpuasa selama enam hari di bulan
Syawwal, dimana bagi mereka yang melakukannya akan dianggap seperti berpuasa
setahun. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ»
di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (HR. Jama’ah Ahli Hadits
selain Bukhari dan Nasa’i)
ulama mengatakan, “Dianggap seperti berpuasa setahun adalah karena satu
kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, bulan Ramadhan dihitung sepuluh
bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan.”
orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berpuasa sebelum waktunya habis.
akhirnya, umur terbaik kami adalah pada bagian akhirnya, hari terbaik kami
adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu, aamiin.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ
الْوَرَى ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ سُبْحَانَهُ : إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ” ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ ، وخُصَّ
مِنْهُمُ الْخُلَفَاءَ الْأَرْبَعَةَ الرَّاشِدِيْنَ ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ
، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ
وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ
أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُ
بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ
وَلاَ مُضِلِّيْنَ ،
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Telegram: http://t.me/wawasan_muslim




































