الله الرحمن الرحيم
semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H). Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini
ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
– صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ , وَتَرَجُّلِهِ
, وَطُهُورِهِ , وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ)) .
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senang mendahulukan yang
kanan dalam memakai sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusannya.”
عنه – عَنِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ قَالَ: ((إنَّ أُمَّتِي
يُدْعَوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ)) .
فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ. وَفِي لَفْظٍ
لِمُسْلِمٍ: ((رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ , فَغَسَلَ وَجْهَهُ
وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ , ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
حَتَّى رَفَعَ إلَى السَّاقَيْنِ , ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى
الله عليه وسلم – يَقُولُ: إنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرَّاً
مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ)) فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ
غُرَّتَهُ وَتَحْجِيلَهُ فَلْيَفْعَلْ.
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa
Beliau bersabda, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari Kiamat dalam
keadaan bercahaya muka, tangan, dan kaki mereka karena bekas wudhu.” Barang
siapa di antara kamu yang mampu melebarkan cahayanya, maka hendaknya ia
lakukan.
Abu Hurairah berwudhu, lalu ia membasuh muka dan kedua tangannya hingga hampir
mencapai kedua pundaknya, kemudian ia membasuh kakinya hingga naik ke kedua
betis, kemudian ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari Kiamat dalam
keadaan muka, tangan, dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu.” Maka
barang siapa di antara kamu yang ingin melebarkan cahayanya baik pada muka,
tangan, maupun kaki, maka hendaknya ia lakukan.”
وسلم – يَقُولُ: ((تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ
الْوُضُوءُ))
mendengar kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cahaya
akan sampai pada anggota badan orang mukmin sejauh sentuhan air wudhunya.”
– صلى الله عليه وسلم – كَانَ إذَا دَخَلَ الْخَلاءَ قَالَ: ((اللَّهُمَّ إنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ)) .
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk jamban mengucapkan, “Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan
perempuan.”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: ((إذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ ,
فَلا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلا بَوْلٍ , وَلا تَسْتَدْبِرُوهَا ,
وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا)) . قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: «فَقَدِمْنَا
الشَّامَ , فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَةِ ,
فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا , وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ» .
‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika
kalian datang ke jamban, maka jangan menghadap kiblat baik ketika buang air
besar maupun buang air kecil, dan jangan membelakanginya. Akan tetapi,
menghadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub berkata, “Maka kami datang ke
Syam, lalu kami dapati wc dibangun menghadap ke Ka’bah, maka kami berpaling
darinya dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla.”
عنهما قَالَ: ((رَقِيْتُ يَوْماً عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ , فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ –
صلى الله عليه وسلم – يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الشَّامَ , مُسْتَدْبِرَ
الْكَعْبَةَ)) . وَفِي رِوَايَةٍ ((مُسْتَقْبِلاً بَيْتَ الْمَقْدِسِ))
radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Suatu hari aku menaiki rumah Hafshah, maka
kulihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air besar menghadap ke Syam
dan membelakangi Ka’bah.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Menghadap ke Baitul
Maqdis.”
((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَدْخُلُ الْخَلاءَ , فَأَحْمِلُ
أَنَا وَغُلامٌ نَحْوِي إدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً , فَيَسْتَنْجِي
بِالْمَاءِ)) .
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah masuk wc, lalu aku bersama seorang yang sebaya
denganku membawakan wadah berisi air dan tombak kecil, lalu Beliau beristinja
dengan air.”
الأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ:
((لا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلا
يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلاءِ بِيَمِينِهِ وَلا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ)) .
Anshariy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah salah seorang di antara kamu memegang kemaluannya dengan tangan
kanannya ketika buang air kecil, jangan beristinja dari buang air besar dengan
tangan kanan, dan jangan bernafas dalam bejana.”
مَرَّ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِقَبْرَيْنِ , فَقَالَ: ((إنَّهُمَا
لَيُعَذَّبَانِ , وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا: فَكَانَ لا
يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ , وَأَمَّا الآخَرُ: فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً , فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ , فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ
وَاحِدَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ , لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ:
لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا)) .
‘anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu alahi wa sallam pernah melewati dua buah
kubur, lalu Beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang diazab, tetapi
keduanya (mengira) tidak diazab karena dosa besar. Adapun yang satu tidak
menjaga dirinya dari air kencingnya, sedangkan yang satu lagi pergi untuk
namimah (mengadu domba),” maka Beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah,
Beliau membaginya dua bagian lalu menancapnya ke masing-masing kubur. Para
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal ini?” Beliau
menjawab, “Mudah-mudahan hal itu meringankan azab keduanya selama keduanya
belum kering.”
صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ
بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاةٍ))
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Beliau bersabda, “Kalau bukan karena aku tidak ingin memberatkan umatmu, tentu
akan kusuruh mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.”
((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ
يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ)) .
radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
apabila bangun tidur menggosok giginya dengan siwak.”
الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ – رضي الله عنه – عَلَى النَّبِيِّ –
صلى الله عليه وسلم – وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي , وَمَعَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ فَأَبَدَّهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى
الله عليه وسلم – بَصَرَهُ. فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضَمْتُهُ , فَطَيَّبْتُهُ ,
ثُمَّ دَفَعْتُهُ إلَى النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَاسْتَنَّ بِهِ فَمَا
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ
مِنْهُ , فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: رَفَعَ
يَدَهُ – أَوْ إصْبَعَهُ – ثُمَّ قَالَ: فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى – ثَلاثاً –
ثُمَّ قَضَى. وَكَانَتْ تَقُولُ: مَاتَ بَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي)) .
لَفْظٍ ((فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إلَيْهِ , وَعَرَفْتُ: أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ
فَقُلْتُ: آخُذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ: أَنْ نَعَمْ)) هَذَا لَفْظُ
الْبُخَارِيِّ وَلِمُسْلِمٍ نَحْوُهُ.
berkata, “Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq pernah masuk menemui Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan aku menyandarkan Beliau ke dadaku.
Ketika itu Abdurrahman membawa siwak yang masih basah yang digunakannya untuk
bersiwak, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memperhatikan
siwak itu, lalu aku ambil siwak itu, aku lembutkan dengan gigiku dan aku
jadikan enak dipakai, kemudian aku serahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lalu Beliau bersiwak dengannya. Ketika itu, aku belum pernah melihat
Beliau bersiwak sebaik itu. Setelah selesai, Beliau mengangkat tangannya atau
jarinya, lalu bersabda, “Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang
tinggi.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali, lalu Beliau wafat.
Beliau wafat antara dagu dan tenggorokanku.”
Beliau memperhatikan siwak itu, maka aku mengetahui bahwa Beliau menginginkan
siwak itu, lalu aku berkata, “Maukah aku ambilkan untukmu?” Beliau berisyarat
dengan kepalanya menunjukkan setuju.” (Ini adalah lafaz Bukhari, sedangkan
lafaz Muslim sama seperti itu).
((أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ
, قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ , وَهُوَ يَقُولُ: أُعْ , أُعْ ,
وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ , كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ))
‘anhu ia berkata, “Aku pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
saat Beliau menggosok giginya dengan siwak yang basah. Ketika itu, ujung siwak
di lidahnya, dan Beliau mengeluarkan suara ‘u-‘u, sementara kayu siwak itu ada
di mulutnya seakan-akan Beliau ingin muntah.”
alaa aalihi wa shahbihi wa sallam






































