الله الرحمن الرحيم
Belajar Mudah Ilmu Tauhid (8)
puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat,
amma ba’du:
kami terjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassar karya Syaikh Abdullah
bin Ahmad Al Huwail; semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan
bermanfaat, Allahumma aamiin.
Tentang Mahabbah
mahabbah (rasa cinta)
macam:
seseorang cinta kepada Allah dan mencintai segala yang dicintai Allah. Dalilnya
adalah firman Allah Ta’ala,
أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ
sangat cintanya kepada Allah.”
(Terj. QS. Al Baqarah: 165)
ketika mencintai selain Allah disertai penghinaan diri dan sikap ta’zhim
(pengagungan) terhadap sesuatu yang dicintai itu, padahal sesuatu itu tidak
layak disikapi demikian kecuali kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah
Ta’ala,
يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Terj. QS. Al Baqarah: 165)
ketika seseorang mencintai kemaksiatan, bid’ah, dan segala yang diharamkan.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ
agar (berita) perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang
yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah
mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Terj. QS. An Nuur: 19)
(menjadi pembawaan setiap manusia). Misalnya seseorang mencintai anak, istri,
diri sendiri, dan sebagainya. Ini semua boleh. Dalilnya adalah firman Allah
Ta’ala,
الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ
الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ
ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Terj. QS. Ali Imran: 14)
timbul karena kekhawatiran terhadap sesuatu yang membinasakan, sesuatu yang
berbahaya, atau sesuatu yang mengganggunya.
ketika seseorang takut terhadap hal yang sir (tersembunyi), misalnya takut
kepada selain Allah terhadap hal-hal yang tidak sanggup dilakukan kecuali
oleh-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم
مُّؤْمِنِينَ
hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang
musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi
takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Terj. QS. Ali Imran: 175)
Yaitu ketika rasa takut itu membuatnya meninggalkan kewajiban dan mengerjakan
perkara haram karena takut kepada manusia. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَاخْشَوْنِ
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (Terj. QS. Al Maa’idah: 44)
Yaitu rasa takut yang tabi’i (sebagai pembawaan pada diri manusia), seperti
takut kepada singa, musuh, penguasa yang zalim, dsb. Dalilnya adalah firman
Allah Ta’ala,
الْمَدِينَةِ خَائِفاً يَتَرَقَّبُ
itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya),” (Terj. QS. Al Qashash: 18)
takut kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dalilnya adalah firman
Allah Ta’ala,
رَبِّهِ جَنَّتَانِ
menghadap Tuhannya ada dua surga.”
(Terj. QS. Ar Rahmaan: 46)
yang menghalangi seseorang dari berbuat maksiat kepada Allah, membuatnya
mengerjakan kewajiban dan membuatnya meninggalkan larangan.
takut yang membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah.
menanti sesuatu yang diinginkan.
berharap kepada Allah Ta’ala saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini
terbagi dua:
terpuji, yaitu rasa
harap yang disertai amal dan sikap taat kepada Allah Azza wa Jalla.
tercela, yaitu rasa
harap tanpa amal. Ini hanyalah angan-angan dan sikap tertipu.
berharap kepada selain Allah terhadap sesuatu yang tidak dimiliki selain
oleh-Nya.
pada diri manusia). Yaitu ketika engkau berharap sesuatu dari seseorang yang
memilikinya dan mampu melakukannya, misalnya perkataan engkau, “Aku berharap
kedatanganmu.”
لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
أَحَداً
perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Terj. QS. Al Kahfi: 110)
menyerahkan diri dan bersandar. Sedangkan secara istilah, tawakkal adalah
bersandar dan bergantungnya hati kepada Allah saja.
yang memadukan tiga perkara:
hati kepada Allah secara jujur dan sesungguhnya.
Allah, dan bahwa segala urusan ada di Tangan-Nya.
yang dizinkan untuk dilakukan.
Yaitu tawakkal hanya kepada Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
kemusyrikan. Misalnya bersandar kepada selain Allah terhadap perkara-perkara
yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Termasuk pula bersandar secara mutlak
atau sebagiannya kepada sebab.
yakni engkau mengangkat seseorang untuk melakukan suatu tugas menggantikan
dirimu terhadap hal-hal yang bisa dilakukan olehnya. Hal ini hukumnya boleh.
tawkil
sedangkan tawkil adalah amalan zhahir (tampak).
فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Terj. QS. Al Ma’idah: 23)
terpenting. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Allah Ta’ala,
لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً
adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya
di samping (menyembah) Allah.”
(Terj. QS. Al Jin: 18)
adalah semua amal ibadah yang dilakukan manusia kepada Tuhannya. Contoh:
shalat, haji, sedekah, dan puasa.
karena di dalamnya terdapat bentuk permintaan, seakan-akan seseorang yang
sedang melakukan ibadah itu meminta kepada Allah rahmat-Nya dan agar dia
dimasukkan ke dalam surga-Nya.
mas’alah). Maksudnya adalah doa yang di dalamnya terdapat permohonan dan
permintaan. Contohnya adalah ucapan, “Ya Allah, rahmatilah aku. Ya Allah,
ampunilah aku.”
orang yang mengarahkannya kepada selain Allah adalah orang yang telah berbuat
kemusyrikan dan kekafiran. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ
إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang
itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya
orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.” (Terj. QS. Al Mu’minun: 117)
a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa
sallam.
Diterjemahkan dari
kitab At Tauhid Al Muyassar oleh Marwan bin Musa






































