Aopok.com – #Bisnis kuliner di #Singapura #menghadapi #tekanan #berat dan #dinamika #persaingan #yang #semakin #ketat, #ditandai #dengan #banyaknya #penutupan #restoran dan #warung makan yang telah berdiri puluhan tahun. Fenomena ini mencerminkan tantangan besar sektor makanan dan minuman (F&B) di negara kota tersebut, di mana ratusan usaha kuliner gulung tikar setiap bulannya akibat biaya operasional yang tinggi dan perubahan perilaku konsumen.
Baca juga: Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

Salah satu dampak nyata dari kondisi ini adalah penutupan Warong Nasi Pariaman, warung nasi padang paling tua dan legendaris di Singapura yang telah beroperasi sejak 1948. Warung bernilai sejarah ini mengumumkan akan berhenti beroperasi secara permanen pada 31 Januari 2026, setelah melayani pelanggan selama 78 tahun. Pengumuman tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram dan Facebook resmi Warong Nasi Pariaman.
Warong Nasi Pariaman dikenal sebagai ikon kuliner Singapura dan dianggap sebagai penyaji nasi padang tertua yang masih beroperasi di negara itu, dengan pelanggan setia dari berbagai generasi, termasuk warga lokal dan wisatawan. Hidangan khasnya seperti rendang, ikan bakar, sotong kalio, dan ayam gulai menjadi favorit yang menguatkan reputasinya sebagai tempat makan bersejarah di kawasan Kampong Glam.
Penutupan Warong Nasi Pariaman sekaligus menjadi simbol kesulitan yang dihadapi sektor F&B di Singapura. Menurut data industri, sepanjang 2025, rata-rata 307 kios makanan dan minuman menutup usahanya setiap bulan, meningkat drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tren penutupan ini tidak hanya menyasar usaha kecil, tetapi juga berdampak pada warung dan restoran yang sudah lama beroperasi.
Baca juga: Branding Jadi Kunci Sukses Desainer Lokal di Tengah Tren Fashion Global
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab utama penutupan adalah kenaikan biaya sewa tempat usaha di kawasan strategis seperti Kampong Glam, di mana harga sewa meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperburuk tekanan pada margin keuntungan usaha kuliner yang beroperasi di tengah persaingan sengit dan biaya tenaga kerja yang tinggi.
Bagi banyak pelanggan, Warong Nasi Pariaman bukan sekadar tempat makan, tetapi bagian dari warisan budaya kuliner komunitas Indonesia dan Melayu di Singapura. Berita penutupan ini memicu reaksi emosional dari para pengunjung yang mengenang hidangan dan momen kebersamaan yang tercipta selama puluhan tahun.
Kisah Warong Nasi Pariaman menjadi pengingat bahwa bisnis kuliner, terutama usaha kecil dan menengah, rentan terhadap perubahan ekonomi yang cepat dan tekanan operasional. Ke depan, pelaku F&B perlu mengadopsi strategi bisnis yang adaptif untuk bertahan di pasar yang semakin kompetitif, termasuk inovasi menu, digitalisasi layanan, dan pengelolaan biaya yang efisien.







