الرحيم
(Pentingnya) Tauhid dan Pembagiannya
I
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي
تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا –يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا.
بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
yang berbahagia
kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat yang
begitu banyak, dimana saking banyaknya nikmat yang Dia berikan, kalau
seandainya kita mau menghitungnya satu persatu, niscaya kita tidak akan sanggup
menghitungnya.
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan
orang-orang yang mengikuti Sunnahnya sampai hari Kiamat.
yang berbahagia
beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala
berfirman,
mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz
Dzaariyat: 59)
dan mengalihkan ibadah mereka kepada selain Allah, maka Allah Subhaanahu wa
Ta’ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengembalikan
mereka kepada fitrahnya dan mengingatkan mereka terhadap tujuan ini yang
merupakan amanah yang dipikulkan kepada mereka selama hidup di dunia. Allah
Subhaanahu wa Ta’ala berirman,
umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut
itu.” (QS. An Nahl: 36)
disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
pertama dan paling agung, dimana seseorang belum dianggap muslim sampai ia
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ
وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
(dasar); bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (HR. Muslim dan Tirmidzi)
bangunan Islam, dimana bangunan Islam tidak akan tegak tanpa adanya tauhid
sebagaimana tidak mungkin ada bangunan ketika tidak ada dasar atau pondasi.
Oleh karena itu, semua amal saleh, apabila pelakunya tidak di atas tauhid atau
tidak di atas agama Islam, maka amal saleh tersebut tidak diterima dan menjadi
sia-sia ibarat fatamorgana yang tampak ada air padahal tidak ada.
masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
mengharamkan neraka bagi orang yang mengatakan, bahwa tidak ada tuhan yang
berhak disembah selain Allah, dimana ia mengucapkannya karena mencari keridhaan
Allah.” (HR. Bukhari)
yang berbahagia
terbagi menjadi tiga bagian:
- Tauhid
Rububiyyah. - Tauhid
Uluhiyyah - Tauhid
Asma’ wa Shifat
yang mencipta, yang menguasai, yang mengatur dan memberikan rezeki kepada alam
semesta. Kita tidak boleh berkeyakinan bahwa di alam semesta ini ada pula yang
menguasai, yang mengatur dan memberikan rezeki selain Allah. Jika kita
berkeyakinan demikian, berarti kita telah berbuat syirk dalam rububiyyah Allah.
disembah, tidak selain-Nya. Hal itu, karena Dialah yang menciptakan dan
menguasai alam semesta, maka sudah sepatutnya kita hanya beribadah kepada-Nya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang
menciptakannya, jika Dialah yang kamu sembah.” (QS. Fushshilat: 37)
pertolongan dan perlindungan, ruku dan sujud, berharap dan bertawakkal serta
berkurban kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Jika kita melakukan
demikian, berarti kita telah berbuat syirk dalam Uluhiyyah.
bagi Allah nama dan sifat mengikuti apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan tanpa
menakwilnya, menyerupakan dengan sifat makhluk-Nya, menanyakan hakikatnya dan
tanpa meniadakannya. Bahkan kita membiarkannya sebagaimana datangnya.
قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ
II
رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:
yang berbahagia
maka di sini khatib ingin menerangkan beberapa hal penting yang terkait dengan
tauhid:
tidak boleh dipisahkan dengan hanya melakukan yang satu dan meninggalkan yang
lain. Oleh karena itu, seseorang belum dikatakan muwahhid (orang yang
bertauhid) sampai ia melakukan ketiga macam tauhid itu.
itu saling terkait adalah bahwa kaum musyrik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengakui tauhid rububiyyah, bahkan kalau kita bertanya kepada mereka
siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab “Allah”.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan
mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah,” maka bagaimanakah mereka
dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf: 87)
menjadikan mereka muwahhid (orang yang bertauhid) dan tidak menjadikan mereka
muslim, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mendakwahi mereka
agar melakukan konsekwensi dari tauhid rubiyyah, yaitu mengakui tauhid
uluhiyyah.
rasul, ia adalah asas dibangunnya amal saleh, dan tanpa tauhid uluhiyyah, maka
semua amal saleh tidak akan diterima. Oleh karena itu, seseorang harus
memperhatikannya dan mengamalkannya.
oleh kita, mudah-mudahan bermanfaat. Kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla
agar Dia menambahkan kepada kita ilmu tentang tauhid, menjadikan kita sebagai
orang-orang yang memperhatikan tauhid serta mengistiqamahkan kita di atas
tauhid sampai akhir hayat.
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ — وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ –
وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.






































