Ceritanya, di sebuah camp kepramukaan anak sekolah, ada satu murid yang hilang (dibaca : kabur) dari camp. Anak tersebut bernama Sam. Ketua pembina dan murid-murid lainnya ga tau Sam kemana. Tentu hal ini membuat panik dan membuat mereka langsung melakukan pencarian, termasuk melaporkan kepada polisi setempat.
Film ini adalah family comedy yang berbumbu romance, saking iconicnya ke-romance-an mereka, sampe-sampe ada banyak orang dewasa yang me-remake bikin foto couple dengan pose dan pakaian yang persis dengan yang mereka pakai, bahkan ada yang lokasinya juga disama-samain, seperti foto personel band rock Pierce The Veil ini, . Tapiiii…di film ini yang jadi pasangannya adalah anak kecil yang “sok dewasa”, jauh melebihi umur mereka. Topik pembicaraan dan tata bahasa mereka cukup berat, ga seperti anak-anak di usianya, namun anehnya mereka ngobrolnya nyambung aja gitu, seolah-olah mereka satu frekuensi. Mereka berdua punya background cerita masing-masing yang cukup berat. Kehidupan pribadi mereka cukup kelam, dimana Sam adalah anak yatim piatu sedangkan Suzy adalah anak yang ga rukun dengan orang tuanya.
Meskipun mereka terlihat seperti anak bermasalah, tapi kalo soal wawasan dan cara berpikir, mereka justru melebihi teman-temannya. Dalam pelariannya, mereka terlihat selangkah lebih maju, dengan ide-ide yang mereka punya. Akan ada beberapa awkward moment yang lucu saat adegan kejar-kejaran. Kita dibuat berasa jadi anggota pramuka yang memang gawenya mencari jejak, mulai dari hutan, sungai hingga ke camp pramuka yang lebih besar.

Tapi ini bukan film komedi biasa, karena ga ada jokes-jokes atau tingkah polah konyol. Ini komedi serius, yang mungkin ga semua orang bakalan suka. Nilai lebih film ini adalah alur ceritanya yang sangat unik, kemudian diisi dengan akting dari cast papan atas semua lho, mulai dari Bruce Willis, Edward Norton, Frances McDorman, Bill Murray dan Tilda Swinton. Dan untuk kemasannya, ini adalah sebuah masterpiece filmmaking, karya-karya Wes Anderson selalu menunjukkan ke-estetika-an tingkat tinggi, yang mempertontonkan visual ciri khasnya seperti pemakaian warna-warna pastel, dalam set “panggung” yang vintage, lalu dibungkus dengan camera movement yang hanya menerapkan garis lurus simetris ke kanan, ke kiri, ke atas, atau ke bawah.









