Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Review

REVIEW : JOKER

Ulasan by Ulasan
04.10.2019
Reading Time: 6 mins read
0
ADVERTISEMENT

“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a
comedy.”


Siapa sih yang tidak mengenal
Joker? Apabila kamu kerap bersentuhan dengan pop culture, karakter satu ini tentu tidak lagi asing. Memiliki perawakan
menyerupai badut dengan kulit serba putih, rambut berwarna hijau menyala, dan
bibir yang merah mengkilat, Joker dikenal sebagai supervillain yang menjadi lawan berat bagi jagoan andalan DC
Comics, Batman. Dalam khasanah sinema Hollywood, psikopat dengan selera humor
bernada gelap ini telah berulang kali dilakonkan oleh berbagai aktor. Dari Jack
Nicholson yang tampil bengis dalam Batman
(1989), lalu mendiang Heath Ledger yang menghidupkannya bak penjahat sinting
lewat The Dark Knight (2008) dimana
dia dianugerahi piala Oscar, sampai Jared Leto yang cenderung komikal melalui Suicide Squad (2016). Menilik beragam interpretasi
yang telah diberikan kepada sang penjahat, dan kesemuanya mesti diakui
dimainkan secara gilang gemilang, maka saat Warner Bros. bersama DC Films
berencana untuk mengkreasi sebuah film solo berbentuk origin story baginya, tentu ada satu tanya mengemuka: apa lagi
pendekatan yang hendak diambil? Pada mulanya, saya sempat mengira Joker garapan Todd Phillips (Road Trip, trilogi The Hangover) bakal sedikit banyak menyerupai The Dark Knight. Tapi ternyata, film yang dicanangkan sebagai
bagian dari DC Dark – adaptasi eksperimental dengan nada penceritaan lebih
gelap – alih-alih DC Extended Universe ini mengambil jalur sama sekali berbeda.
Mengenyahkan unsur fantasi yang biasanya melekat erat pada tontonan berbasis komik
kepahlawanan, Joker menjejakkan
kakinya di ranah realis dimana film lantas mengajak penonton untuk
memperbincangkan tentang mental illness
dan situasi sosial politik dewasa ini.

Dalam Joker versi termutakhir, sang karakter tituler adalah seorang badut
bernama Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang pekerjaan sehari-harinya berkisar
pada menghibur anak-anak di rumah sakit, mempromosikan toko menggunakan papan penanda
di trotoar, serta apapun yang diminta oleh klien. Menjalani pekerjaan serabutan
semacam ini jelas bukan keinginan dari Arthur karena dia sejatinya bermimpi
untuk manggung sebagai seorang stand up
comedian
. Yang kemudian menghalanginya untuk mewujudkan mimpinya adalah,
dia tak memiliki kepercayaan diri yang mumpuni. Sang ibu yang tinggal
bersamanya, Penny (Frances Conroy), menganggap putranya tersebut tak cukup lucu
dan Arthur sendiri masih belum menemukan formula yang pas dalam candaannya. Disamping
ketiga faktor ini, satu alasan lain yang membuat sang karakter utama senantiasa
dilingkupi keragu-raguan adalah penyakit kejiwaan yang dideritanya. Arthur mengidap
pseudobulbar affect (PBA) yang
membuatnya kerap tertawa terbahak-bahak secara mendadak di kala dirinya
mengalami kegelisahan atau ketakutan. Lantaran penyakit yang diidapnya, Arthur
kerap dipandang sebagai orang aneh serta mengalami perisakan dari
begundal-begundal di Gotham City yang membuatnya memiliki pandangan negatif
terhadap masyarakat. Dia menilai masyarakat yang tumbuh di lingkungan sekitarnya
telah mengalami degradasi moral, sementara para kaum elit dipandangnya hanya
bisa membual tanpa pernah berbuat signifikan untuk merubah keadaan. Akibat berbagai
situasi buruk yang terus menghampirinya ini, kondisi kejiwaan Arthur pun
semakin tak stabil yang lantas memicunya untuk melakukan hal-hal mengerikan
yang selama ini hanya menari-nari dalam pikirannya.




Tidak seperti tontonan live action lain yang melibatkan si
badut, Joker bukanlah sajian laga
yang dipenuhi dengan spektakel gegap gempita di sepanjang durasinya. Phillips yang
membesarkan namanya dari genre komedi memilih untuk melantunkannya secara
serius, realistis, serta kelam. Ini bukan soal supervillain bernama Joker yang menjalankan aksi-aksi sinting
sampai bikin Batman kewalahan dalam menghadapinya, ini lebih ke proses
terciptanya seseorang berjulukan Joker yang tak segan-segan bertindak keji. Guna
mendedah transformasi sang karakter tituler dari manusia biasa yang cenderung
tak berdaya menjadi sesosok manusia berbahaya yang dapat menggerakkan massa,
Phillips menggunakan pendekatan studi karakter dalam menarasikan film
terbarunya ini. Kita, sebagai penonton, didekatkan kepada Arthur untuk
mengobservasinya demi melongok jalan pikirannya, demi mengetahui imbasnya kepada
tindakan-tindakannya. Sebuah cara bercerita yang menarik dan ndilalah, Joker memang mempunyai karakter utama yang sangat kuat. Pada awal
mula, Arthur tidak ditampakkan sebagai pribadi yang tega berbuat apapun demi membela
dirinya. Malah, dia terlihat cukup simpatik. Berkenan untuk merawat sang ibu
yang sudah berusia senja, berupaya untuk mengejar mimpi yang agak mustahil
diwujudkan, berhadapan dengan rekan kerja yang bermuka dua, dan mengalami bullying
dari orang-orang di sekelilingnya yang menganggapnya sebagai lelucon belaka. Diperankan
secara luar biasa oleh Joaquin Phoenix yang rela menurunkan bobot tubuhnya
sampai 24 kg, mustahil bagi penonton untuk tak menaruh rasa iba kepadanya. Lebih-lebih,
Arthur juga masih harus berjuang dalam menghadapi penyakit kejiwaannya yang kerap
berulah tanpa pernah pandang waktu maupun tempat. Penyakit kejiwaan yang semakin mengganas ketika trauma dan rasa sakit akibat penolakan, penghinaan, serta pengabaian bercampur menjadi satu.




RELATED POSTS

Sinopsis Drama Taiwan Bromance Episode 13 – Part 1

Sinopsis Drama Korea Somebody, Dibintangi Oleh Kim Young Kwang

Sandro Tobing – Dag Dig Dug

Disokong musik menghantui gubahan
Hildur Gudnadottir dan tangkapan kamera dari Lawrence Sher yang mengandalkan
efek bokeh untuk menonjolkan kesendirian Arthur, Joker mengondisikan penontonnya untuk senantiasa berada dalam
perasaan tak nyaman. Entah itu karena menyaksikan Arthur yang terus menderita
karena masyarakat menunjukkan penolakan secara terang-terangan kepadanya, atau
karena melihat kondisi Gotham City yang carut marut (seperti negara ini). Ya,
selain menyuarakan komentar sosial menyentil terkait perlakuan publik yang
nihil empati kepada penyandang mental illness,
film berlatar tahun 1981 ini juga menggelontorkan potret relevan mengenai
situasi dunia yang semakin tidak kondusif. Ada pertentangan kelas antara kaum
elit dengan rakyat kecil, lunturnya rasa aman dalam ruang publik dimana
pelecehan seksual jamak terjadi, media yang gencar melakukan framing, kepemilikan senjata yang
kelewat leluasa, sampai pemujaan berlebih terhadap suatu tokoh yang dinilai
mewakili gerakan anarki. Itulah mengapa, jika kamu mengidap anxiety, depresi, atau mood sedang kacau, ada baiknya
menghindari Joker. Apabila benar-benar
ingin menyaksikannya, sangat disarankan untuk mencari pendamping dari keluarga
atau kawan baik karena sungguh, ada efek psikologis yang bisa ditimbulkannya. Beberapa
orang mengalami pusing, serangan kecemasan, dan saya pribadi, uring-uringan. Rentetan
adegan yang disodorkan oleh Phillips didominasi oleh aura pesimistis mengikuti
pandangan Arthur kepada sekeliling yang acapkali negatif, lalu adegan kekerasan
yang dimunculkannya pun tanpa tedeng aling-aling. Begitu sadis dengan daya
sentak di level maksimal sampai-sampai saya memilih untuk mengalihkan pandangan
sejenak dari layar guna mengatur nafas sekaligus emosi. Phew.


Mengedepankan nada pengisahan
yang depresif, Joker yang sedikit banyak mengingatkan pada Taxi Driver (1976) ini memang tidak
mudah untuk dikunyah. Selama durasi mengalun, kita menyaksikan pergulatan
seorang anak manusia dalam menemukan kebahagiaannya. Arthur jatuh, lalu mencoba
untuk bangkit hanya untuk tersungkur lebih dalam. Penokohan beserta akting
Phoenix yang membumi – well, kita
bisa menemui sosok seperti dia di sekitar kita – memungkinkan bagi penonton
untuk bersimpati yang lambat laun berganti menjadi rasa ngeri tatkala Arthur
menemukan jalan keluar bagi kesengsaraannya: balas dendam. Sedari sang tokoh
utama memilih untuk membela dirinya sendiri dengan cara ekstrim, perasaan
murung yang menguasai diri sedari awal pun berganti menjadi kegelisahan. Gelisah
dalam menanti apa yang mungkin dilakukan oleh Arthur dalam persona barunya
lantaran dia telah berada pada posisi nothing
to lose
. Pada titik ini, Phillips seolah ingin berujar, “Joker adalah produk dari kekerasan,
ketidakadilan, serta pengabaian sosial.”
Alih-alih meminta penonton untuk
memafhumi tindakan dan pilihan hidupnya, si pembuat film justru ingin memberikan
gambaran riil mengenai faktor yang melatarbelakangi terbentuknya seorang
kriminal. Ada kompleksitas disana, tak seketika terbentuk tanpa alasan jelas. Ini bisa kita anggap sebagai sebuah informasi, tetapi juga sebagai
sebuah pengingat. Agar kita lebih peka kepada sesama, agar kita memerlakukan
manusia selayaknya manusia, dan agar kita menyadari bahwa mental illness adalah suatu kondisi yang sepatutnya ditangani
secara serius. Bagus!  


Outstanding (4/5) 





ADVERTISEMENT

Tags: FilmInformasiMengulasMovieReviewSinopsiSpoilerUlasanUlasan Film
ShareTweetSendShare
Ulasan

Ulasan

Related Posts

Review

Sinopsis Drama Taiwan Bromance Episode 13 – Part 1

20.10.2022
Review

Sinopsis Drama Korea Somebody, Dibintangi Oleh Kim Young Kwang

20.10.2022
Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Bank MAYAPADA di Padang
Review

Sandro Tobing – Dag Dig Dug

19.10.2022
Review

Sinopsis Drama China Back For You

19.10.2022
Ikhtishar Ilmu Hadits (1)
Review

Piggy (2022) Sinopsis, Informasi

19.10.2022
Review

Sinopsis Leh Ratree Episode 6 – Part 2

19.10.2022
Next Post
[Penginapan] Wanaka View Motel

Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Pepsi Indonesia

Suasana warga Belanda di kamp tahanan Jepang di Kampung Makassar, 1945 (6)

Iklan

Recommended Stories

Game Humor, Cocok Bagi Orang Yang Penasaran

27.04.2011

Latbar Foodmoster yang selalu ditunggu dan seru…

18.05.2010

16 FILM INDONESIA TERBAIK 2019 VERSI CINETARIZ

30.12.2019

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Live Streaming Barcelona vs Real Oviedo 25 Januari 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Penutupan Warong Nasi Padang Tertua di Singapura: Tanda Krisis Bisnis Kuliner dan Dampaknya pada Ekonomi F&B

Penutupan Warong Nasi Padang Tertua di Singapura: Tanda Krisis Bisnis Kuliner dan Dampaknya pada Ekonomi F&B

24.01.2026
Live Streaming Barcelona vs Real Oviedo 25 Januari 2026

Live Streaming Barcelona vs Real Oviedo 25 Januari 2026

24.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Chord Lirik
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Review
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains
  • Terjemahan Lagu

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?