Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Review

REVIEW : GLASS

Ulasan by Ulasan
19.01.2019
Reading Time: 5 mins read
0
Cara Memasang “Rujukan Muslim / Search Salafy” dalam Blog WordPress
ADVERTISEMENT

“We are part of something larger. We are fighting for the broken.”

RELATED POSTS

REVIEW : INSTANT FAMILY

The Mule – Review

Terlalu Tampan – Review


Bagaimana jadinya kalau ternyata
selama ini superhero dan supervillain yang kita kenal melalui
komik memang benar-benar ada? Mereka adalah orang yang kita jumpai di jalanan,
mereka adalah orang yang kita kenal, dan bahkan, mereka adalah keluarga kita.
Mereka bertindak seperti orang kebanyakan karena mereka belum menyadari kekuatan
yang dimiliki dan menganggap cerita dalam komik hanyalah imajinasi dari seorang
pencerita ulung alih-alih merepresentasikan peristiwa nyata. Melalui Unbreakable (2001), M. Night Shyamalan
yang dijuluki sebagai “ahli twist”
mengeksplorasi pengandaian ini menjadi sebuah narasi yang kala itu terbilang
ciamik sampai-sampai disebut mendeskrontruksi genre superhero. Tak ada pahlawan berjubah yang perkasa dan bisa
diandalkan kapanpun, si pembuat film justru menyodorkan cerita berpendekatan
realistis dengan karakter utama seorang pria paruh baya yang tak tahu menahu
mengenai jati dirinya. Mengingat Shyamalan tak pernah sesumbar soal origin story dari superhero, babak pengungkapan dari tontonan thriller ini memberikan
kejutan tersendiri. Begitu pula dengan Split
(2017) yang ternyata oh ternyata bukanlah psychological
horror
biasa karena ini merupakan kelanjutan ‘tersembunyi’ dari Unbreakable yang menaruh fokus pada
lahirnya seorang supervillain.
Berhubung sang sutradara telah bermimpi sedari lama untuk mengkreasi sebuah
trilogi berbasis cerita kepahlawanan, maka kesuksesan besar Split dimanfaatkannya sebagai jalan
untuk mewujudkan babak ketiga bertajuk Glass
yang digadang-gadang memiliki showdown
epik. Tapi bisakah pernyataan ini dipercaya?

Dalam Glass, penonton sekali lagi dipertemukan dengan Kevin Wendell Crumb
(James McAvoy) yang mempunyai 24 kepribadian termasuk “The Beast” yang buas bak
hewan liar, lalu David Dunn (Bruce Willis) yang tubuhnya tahan banting serta
mampu mengenali masa lalu seseorang melalui sentuhan tangan, dan Elijah “Mr.
Glass” Price (Samuel L. Jackson) yang tulang-tulangnya mudah patah. Ketiga
karakter ini akhirnya saling bersinggungan setelah mereka ditempatkan dalam
sebuah rumah sakit jiwa dimana Elijah telah mendiami tempat tersebut sejak
penghujung kisah Unbreakable. David
yang selama ini bergerilya dalam menjalankan tugasnya sebagai pembasmi
kejahatan turut ditangkap usai dirinya kedapatan tengah bertarung melawan Kevin
dalam upayanya menggagalkan rencana pembunuhan terhadap sejumlah remaja
perempuan. Ada dua alasan yang membuat pihak berwajib memutuskan untuk menahan
David yang selama dianggap sebagai pahlawan; 1) dia berlagak seperti hakim
tanpa disertai bukti kuat, dan 2) dia dianggap memiliki gangguan kejiwaan “delusions of grandeur” lantaran
menyatakan dirinya memiliki kekuatan melebihi manusia normal. Dibawah
pengawasan seorang psikiater bernama Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson),
ketiganya memperoleh perawatan yang bertujuan untuk mengenyahkan pemikiran
bahwa mereka adalah manusia-manusia perkasa. Bertujuan agar ketiganya dapat
bertindak lagi selayaknya manusia normal. Ditengah usaha Ellie dalam
‘meluruskan’ pemikiran para pasiennya ini, Elijah diam-diam merencanakan
sesuatu yang besar demi mengungkap kepada dunia mengenai keberadaan manusia
perkasa seperti David dan Kevin.



Sebagai sebuah film yang
dipersiapkan menjadi babak pamungkas dari trilogi yang memiliki dua film kece, sayangnya
Glass terasa kurang ‘wah’. Showdown epik yang dijanjikan urung
hadir, dan sejujurnya saya pun tak pernah berharap banyak mengingat film ini
hanya memperoleh suntikan dana sebesar $20 juta yang tentunya tak cukup memadai
untuk mengkreasi gegap gempita. Terlebih lagi, portofolio Pak Shyamalan dalam
menggarap film laga semacam The Last
Airbender
(2010) dan After Earth
(2012) pun jauh dari kata menggembirakan. Lempeng selempeng lempengnya. Jadi
apakah masih bisa dibilang berlebihan jika saya mendamba Glass bakal dikaruniai momen laga yang mengasyikkan? Tentu tidak
dan apabila ada penonton yang berekspektasi demikian pun saya tidak bisa
menyalahkannya. Betapa tidak, Shyamalan telah sesumbar dengan menyebut film ini
sebagai tontonan unik, menarik, dan tentunya, besar. Tiga kata sifat yang kesemuanya
agak kurang cocok untuk dialamatkan kepada Glass.
Saya tidak akan menyebutnya sebagai sajian yang buruk toh diri ini masih
cukup menikmatinya. Selama durasi mengalun sepanjang 128 menit – dan ini
sejatinya bisa dipangkas sekitar 20 menit tanpa harus menghilangkan esensinya –
ada beberapa momen yang sempat membuat saya bersedia untuk menempatkan atensi
pada layar lebar. Momen terbaik dalam Glass,
setidaknya bagi saya, bisa dijumpai pada belasan menit pertama saat David
akhirnya bisa melacak keberadaan Kevin, pada pertengahan durasi dimana Ellie
mengeluarkan hipotesanya di hadapan tiga karakter utama, dan pada babak klimaks
tatkala Elijah mulai menunjukkan rencana besarnya.

ADVERTISEMENT

Ya, bukan saat film dipenuhi
dengan percakapan-percakapan yang kurang menarik untuk didengarkan atau saat si
pembuat film mencoba unjuk kebolehan dalam mengkreasi adegan laga yang nyatanya
“gitu doang”, Glass berada di titik
terbaiknya ketika elemen suspense
yang memang menjadi keahlian dari Shyamalan menampakkan keberadaannya. Dan
elemen ini dapat terdeteksi melalui momen-momen terbaik yang telah saya sebutkan
yang nyaris kesemuanya terletak di permulaan dan penghujung film, sementara
pertengahan durasi yang kekurangan tenaga menjadi semacam dongeng pengantar
tidur. Disamping keberadaan elemen suspense,
hal terbaik lain yang bisa dijumpai dari Glass
adalah performa jajaran pemainnya yang tidak mengecewakan khususnya James
McAvoy yang tampak bersenang-senang dengan perannya yang sekali ini
mempersilahkannya untuk memainkan lebih banyak kepribadian ketimbang saat dia
berlakon dalam Split. Tidak sebatas
menekankan pada gestur maupun mimik muka, McAvoy turut memberi perubahan pada
intonasi suara sehingga penonton dapat mengenali kepribadian mana yang tengah
mengambil alih ‘cahaya’ milik Kevin. Berkat permainan lakon ini – oh, kredit
khusus juga patut disematkan pada Samuel L. Jackson yang bikin gregetan! –
ditambah adanya daya cekam di beberapa titik sedikit banyak membantu
menyelamatkan Glass dari kemungkinan
pecah berkeping-keping. Memang sih film ini tidak seunik, semenarik, serta
sebesar yang dijanjikan terlebih kita hidup di era dimana superhero movies telah sangat umum dengan ragam pendekatan. Tapi setidaknya
film ini masih memiliki setitik keunggulan yang membuatnya sanggup dinikmati,
setidaknya itu bagi saya yang tidak pernah berekspektasi lebih pada Glass.
    

Acceptable (3/5)



Tags: FilmInformasiMengulasMovieReviewSinopsiSpoilerUlasanUlasan Film
ShareTweetSendShare
Ulasan

Ulasan

Related Posts

Apa Kata Ulama’ Salaf Tentang Maulid Nabi?
Review

REVIEW : INSTANT FAMILY

28.01.2019
Pantai Kasap: Raja Ampat Versi Jawa Timur
Review

The Mule – Review

25.01.2019
Primata Endemik Sulawesi yang Kini Berstatus Kritis
Review

Terlalu Tampan – Review

23.01.2019
Maulid Pertama Kali Dirayakan Raja Al-Mazhaffar, Benarkah?
Review

REVIEW : ORANG KAYA BARU

23.01.2019
Bagaimana Engkau Bisa Sombong?
Review

REVIEW : PREMAN PENSIUN

22.01.2019
Umat Muslim Tidak Ikutan Mannequin Challenge !
Review

INILAH DAFTAR PEMENANG DALAM PIALA MAYA 7

22.01.2019
Next Post
How to Get to Malacca from KL, Vice Versa

How to Get to Malacca from KL, Vice Versa

Pasar Khan El Khalili Kairo Mesir: Destinasi Wisata Belanja Terbesar Wajib Dikunjungi Mencari Semua Kebutuhan Oleh-Oleh Ada Disini

Iklan

Recommended Stories

Ceker Setan

17.08.2018

Tempat Wisata Terbaik Di Pangandaran

26.03.2016

159.550 Mhz – RPU USC Sedayu

04.01.2018

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?