“Menonjolkan kekuatan drama tentang sisi psikologis yang gelap dari Wolverine, film menjadi tontonan yang menghibur dan menarik dengan berbagai adegan aksi yang intens”
Setelah kejadian yang terjadi dalam X-Men: The Last Stand (2006), Logan / Wolverine mengasingkan diri karena tidak mampu menghadapi perasaan bersalah karena telah dengan sengaja membunuh wanita yang dicintainya selama ini, Jean. Apalagi kemampuan degeneratifnya yang membuat dirinya tidak dapat mati mulai mengganggu dan mempertanyakan tujuan hidupnya. Sampai suatu ketika Wolverine dibawa ke Jepang untuk menemui seseorang yang pernah ia selamatkan bertahun-tahun yang lalu, Yashida seorang mantan prajurit yang mengklaim dapat “memindahkan” kemampuan degeneratif Wolverine ke tubuh lain. Ternyata, Wolverine malah terjebak dalam konspirasi besar yang melibatkan pengusaha dan penguasa di Jepang, serta membuat dirinya harus bertarung dengan para samurai, ninja, dan yakuza bahkan tanpa kemampuan degeneratifnya.
Tampaknya para produser franchise X-Men telah belajar banyak dari setiap langkah kegagalan dan mengambil hal positif dari kesuksesan X-Men: First Class (2011). Pelajaran tersebut adalah bagaimana parade kekuatan mutan tidak dapat lagi menjadi hal yang melulu ditonjolkan dan menjadi daya tarik utama. Seakan-akan Christopher Nolan telah menjadi perintis untuk menonjolkan sisi psikologis yang membuat penonton turut larut dalam pergulatan batin si jagoan, formula yang sama jelas diterapkan pada The Wolverine.

Judul filmnya saja sudah sangat menjelaskan dan tidak memberikan harapan kepada para calon penonton yang menantikan aksi dan parade kekuatan unik dari para manusia mutan. Tidak! Film ini fokus dan konsisten dari awal hingga akhir pada pergulatan Logan / Wolverine yang mulai merasakan bahwa immortality-nya membuat hidup kehilangan arah sementara orang-orang yang dicintainya meninggal dalam masa hidupnya yang tak pernah beranjak tua.

Dengan kedalaman drama yang tepat guna dan mengambil porsi yang cukup signifikan, maka secara otomatis akan dengan mudah untuk menikmati dan larut dalam setiap adegan aksi yang ada. Ini adalah formula yang sangat efektif untuk membuat para penonton seakan ikut bertarung membantu jagoannya di layar dalam menghadapi para penjahat yang beringas dan ngeyel untuk tetap hidup. Simak saja beberapa highlight scenes dalam film ini yang dapat membuat penonton menahan nafas beberapa detik, mulai dari adegan perkelahian diatas kereta peluru Shinkansen, duel Wolverine melawan jagoan samurai, hingga aksi Wolverine melawan puluhan ninja. Namun sayang, adegan final battle yang seharusnya menjadi klimaks dari segala pertarungan yang ada malah tampak kalah intens dibandingkan adegan-adegan aksi lainnya.

Dengan hadirnya The Wolverine yang asyik menonjolkan sisi psikologis dari si manusia mutan, semoga hal ini tetap berjalan konsisten untuk franchise X-Men selanjutnya. Dengan satu adegan pendek di tengah ending credit, The Wolverine jelas menjadi pemanasan yang sempurna untuk menyambut X-Men: Days of the Future Past.
USA | 2013 | Action / Superheroes | 126 min | 2.35 : 1
Scene After Credits? TIDAK
Scene During Credits? YA
– sobekan tiket bioskop tertanggal 26 Juli 2013 –







