APAKAH DUNIA SANGAT BERHARGA SEHINGGA PERLU
DIKEJAR ??
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Sebagian besar manusia di zaman ini senantiasa
berjuang keras bahkan seperti racing atau balapan untuk mendapatkan dunia dengan
segala pernak perniknya. Seolah olah semua perhiasan dunia ingin didapatkan,
ingin dikumpulkan seperti pangkat, jabatan, popularitas, harta dan yang
lainnya.
Ketahuilah bahwa dunia itu hanya permainan
dan senda gurau. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ
يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tidaklah kehidupan dunia
kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat
itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir
?. (QS. Al-An’am: 32).
Syaikh
‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang hakikat
kehidupan dunia dan akhirat. Hakikat kehidupan dunia adalah sekadar permainan
dan senda gurau, permainan dengan anggota badan dan senda gurau dalam masalah
hati .
Hati
akan menjadi bingung dan bimbang karena dunia. Jiwa pun akan berusaha memiliki
sesuatu yang dicintai serta memiliki keinginan yang kuat di dalamnya. Akhirnya
akan menyebabkan seorang hamba sibuk dengan dunia SEPERTI ANAK ANAK YANG SIBUK
DENGAN MAINANNYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
Allah
Ta’ala mengingatkan pula bahwa dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya yaitu
sebagaimana firman-Nya :
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ
ٱلْغُرُورِ
Kehidupan dunia adalah kesenangan yang memperdaya. (Q.S
Ali Imran 185).
Lalu
seberapakah nilai dunia yang dikejar kejar oleh sebagian orang. Mereka ada yang
sampai lupa akhirat karena semangatnya mengejar dunia. Padahal dunia itu jika dibanding
dengan akhirat adalah seperti jari yang dicelupkan ke laut. Al-Mustaurid bin
Syaddad Radhiyallahu anhu berkata :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى
الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ
فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Demi Allah, tidaklah dunia
dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan
jari tangannya ini, perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk, ke lautan,
lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya. (H.R Imam
Muslim).
Selanjutnya perhatikanlah bagaimana Rasulullah
Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan tentang keadaan dan nilai dunia,
diantaranya :
Pertama
: Tak senilai dengan sayap nyamuk.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا
تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ
مَاءٍ
Seandainya dunia ini di sisi Allah
senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum
barang seteguk sekalipun kepada orang kafir. (H.R at Tirmidzi, dia berkata, Hadits
hasan shahih)
Kedua
: Lebih hina dari bangkai anak kambing.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada suatu
kali Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam berjalan melewati pasar sementara banyak
sahabat berada di dekat beliau. Beliau
berjalan lalu melewati bangkai anak kambing yang telinganya cacat.
Sambil memegang telinga anak kambing itu
beliau bersabda : “Siapa diantara kalian
yang mau membeli ini seharga satu dirham ?. Para sahabat berkata : Kami sama
sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang (bisa) kami perbuat dengannya. Beliau bersabda : Apakah kalian mau jika
(kambing) ini menjadi milik kalian ?. Para sahabat berkata : Demi Allah, kalau
anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi
ia telah mati. Lalu beliau bersabda :
فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا
عَلَيْكُمْ
Demi
Allah, sungguh dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing
ini bagi kalian. (H.R Imam Muslim)
Ketiga
: Dunia dilaknat.
Dunia bukan hanya sekedar rendah dan tidak
berharga tetapi dilaknat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا
إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ
Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat
dan dilaknat apa yang ada didalamnya, kecuali (1) Dzikir kepada Allah dan (2) Ketaatan
kepada-Nya, (3) Orang orang yang berilmu atau (5) Orang yang mempelajari ilmu.
(H.R Imam at Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr. Hadits ini Hasan)
Oleh karena itu utamakan atau fokuslah pada
urusan akhirat. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan hidup. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ
أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ
الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ،
جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا
وَهِيَ رَاغِمَةٌ.
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka
Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk
matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah
ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri
akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan
dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Majah,
Ibnu Hibban dan al Baihaqi,
dishahihkan oleh Syaikh al Albani).
Insya
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.122).










