BERUSAHALAH MENYELAMATKAN DIRI DARI BAHAYA
PUJIAN
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Imam al Gazali (wafat tahun 505 H), dalam
Kitab Ihya ‘Ulumuddin memasukkan pujian atau memuji sebagai salah
satu bahaya lisan. Sungguh pujian itu bisa membahayakan
bagi yang menerima pujian. Itulah sebabnya para ulama yang mumpuni ilmunya tidak suka dengan pujian.
Namun demikian dalam kehidupan bermasyarakat
kita sulit terbebas dari berbagai pujian, baik yang memang mau memuji benaran
ataupun memuji karena mengharapkan sesuatu. Pujian ini JIKA TIDAK DISIKAPI
DENGAN BIJAK DAN PROPORSIONAL tentu bisa
mendatangkan mudharat bagi diri kita.
Ketahuilah bahwa pujian adalah musuh utama
keikhlasan karena sengaja atau tidak, pujian bisa berdampak buruk kepada keikhlasan.
Seseorang yang sangat senang dipuji biasanya akan SULIT MENCAPAI IKHLAS dalam banyak
hal termasuk dalam beramal.
Imam Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang
berharga buat kaum muslimin, tentang sifat serakah dan PUJIAN sebagai
penghalang ikhlas serta cara menghindarinya, yaitu :
Kata beliau : Keikhlasan tidak dapat bersatu
dengan salah satu dari dua sifat yaitu
(1) serakah atau tamak dan
(2) suka dipuji atau disanjung. Sifat ini tidak akan
pernah bersatu dalam diri seseorang. Bagaimana mungkin air bersatu dengan
api. Biawak tentu tidak mungkin bersatu dengan ikan. Yang satu akan
mematikan yang lainnya.
Oleh sebab itu kata beliau, jika hati
seseorang berbisik kepada dirinya agar bisa bersikap ikhlas maka :
Pertama :
Datangilah sifat serakah terlebih dahulu, lalu sembelih dengan
pisau qana’ah (qana’ah adalah merasa cukup meskipun dengan yang
sedikit, pen.)
Kedua : Kemudian
lihatlah sifat ingin dipuji yang dimiliki, lalu
berpalinglah darinya sebagaimana orang yang berpaling dari dunia karena
mencintai akhirat.
Selanjutnya kata beliau : Jika sifat serakah
telah telah dibunuh dan pujian orang telah diabaikan, niscaya engkau
akan dapat memiliki keikhlasan dengan mudah. (Fawaidul Fawaaid).
Oleh karena itu, hamba hamba Allah janganlah BERHARAP PUJIAN
MANUSIA. Kalau datang pujian lebih baik abaikan saja karena pujian manusia tidak akan membuat kita
mulia. Kalaupun akan mendatangkan kemuliaan, itu adalah semu dan sangat
sementara. Kemuliaan seorang hamba tidak datang bersama pujian
tapi kemuliaan itu datang dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ
أَتْقَىٰكُمْ
Sesungguhnya yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Q.S
al Hujurat 13).
Selanjutnya, seseorang yang dipuji haruslah paham
bahwa orang yang memuji tidak mengetahui
semua keadaan dirinya. Apalagi yang ada didalam hatinya. Orang yang memuji
biasanya hanya melihat photo atau gambaran sesaat tidak melihat video sebagai gambaran
keseluruhan. Jika orang yang memuji mengetahui seluruh keadaan orang yang
dipuji besar kemungkinan dia tidak akan mau memberi pujian.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.
Wallahu A’lam. (2.082)








