kegiatan yang mubah. Kalau dibarengi dengan niat yang baik maka bisa pula
menjadi ibadah. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan bahwa
berdagang adalah salah satu dari sumber penghasilan yang sangat baik.
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda :
حدثوا لم يكذبوا و إذا ائتمنوا لم يخونوا و إذا وعدوا لم يخلفوا و إذا اشتروا لم
يذموا و إذا باعوا لم يطروا و إذا كان عليهم لم يمطلوا و إذا كان لهم لم يعسروا).
penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila
diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya.
tidak berlebihan (dalam harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan
dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.
(H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
akan bersama para Nabi, orang orang yang benar dan para syuhada. Rasulullah
Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «التاجر الأمين الصدوق المسلم مع الشهداء –
وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء – يوم القيامة
‘anhu itu Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa
Sallam bersabda : Seorang pedagang muslim yang jujur dan
amanah (percaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan
orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat. (H.R Ibnu Majah, al Hakim dan ad
Daraquthni. Dinyatakan baik sanadnya oleh Imam adz Dzahabi dan Syaikh al
Albani).
berdagang adalah di dalam penjelasan yang disampaikan dengan membeli di atas
dan menjelaskan tentang cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang dijual
jika memang ada cacatnya. (Faidhul Qadir).
pedagang yang menjaga SIFAT JUJUR DAN AMANAH dalam menjual dan membeli barang
dagangannya.
yang suka berbuat buruk, merusak dirinya dengan melakukan TIPU DAYA DALAM MENJUAL. Diantara kelakuan buruk sebagian pedagang adalah :
dijual.
Amir radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ
لَهُ
lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya
kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (H.R Ibnu Majah dan al Hakim
dalam Mustadrak).
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam
lewat di samping sebuah gundukan makanan (sejenis gandum). Lalu beliau
memasukkan tangannya ke dalam gundukan makanan tersebut sehingga jari-jarinya
basah. Beliau bertanya : Apa ini wahai pemilik makanan ?. Ia menjawab :
Kehujanan, wahai Rasulullah !. Rasulullah bersabda : “Kenapa tidak engkau
letakkan di (bagian) atas makanan sehingga orang-orang dapat melihatnya ?.
Barangsiapa menipu maka dia tidak termasuk golongan kami.” ( HR. Imam
Muslim).
curang kepada orang yang mengurangi takaran dan timbangan bahkan disebut
sebagai ORANG YANG CELAKA, sebagaimana firman-Nya :
إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ
وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
(yaitu) Orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta
dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain) mereka
mengurangi. (Q.S al Mutaffifin 1-3)
buruk yang sangat tercela yaitu mengurangi takaran dan
timbangan adalah warisan suku Madyan kaum Nabi Syu’aib. Nabi Syu’aib
mendakwahi mereka agar menyembah Allah saja dan meninggalkan kebiasaan
buruk yang merugikan manusia.
ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا
تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ
saudara mereka, Syu’aib. Dia (Syu’aib) berkata : Hai kaumku sembahlah Allah
sekali kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. (Q.S Hud 84).
terhadap dakwah Nabi Syu’aib maka mereka ditimpa azab yang besar. Allah Ta’ala berfirman
:
mereka mayat mayat yang bergelimpangan di dalam rumah rumah mereka. (Q.S al
A’raf 91).
Wallahu A’lam. (2.010)





































