orang orang beriman untuk berinfak dan bersedekah di jalan-Nya.
الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ
يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ
الظَّالِمُونَ
sebagian rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak
ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang orang kafir itulah
orang yang zhalim. (Q.S al Baqarah 254)
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang
kepada salah seorang diantara kamu. (Q.S al Munaafiquun 10).
dengan rayuan syaithan yang menakut nakuti akan jatuh miskin ketika banyak berinfak
atau bersedekah. Akhirnya menjadi berat bahkan tak mau menginfakkan
hartanya.
وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah
menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-Baqarah 268)
Ta’ala : “Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan
kemiskinan”, maksudnya, dia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya
kalian tetap menggenggam tangan kalian (menahan harta), sehingga tidak
menginfakkanya dalam keridhaan Allah.
maksudnya, bersamaan dengan melarang kalian berinfak karena takut miskin,
syaithan menyuruh kalian berbuat maksiat, dosa, keharaman, dan menyelisihi
keridhaan Pencipta (Allah). Lihat Tafsir Ibnu Katsir.
tak akan pernah mengurangi harta seorang hamba yaitu sebagaimana sabda beliau
kepada Bilal :
ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا
pemilik ‘Arsy (Allah) mengurangi hartamu. (H.R al Baihaqi dan ath Thabrani,
dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
sahabat bertanya kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :
أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى
الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ
الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ
لِفُلاَنٍ »
BESAR PAHALANYAl ?. Beliau menjawab : Kamu bersedekah pada saat kamu masih
sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu BERANGAN ANGAN MENJADI KAYA.
Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah
sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, untuk si Fulan sekian dan untuk Fulan
sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si Fulan. (Muttafaqun ‘alaih).
pernah merasa takut berinfak atau bersedekah dalam berbagai keadaan karena akan
mendapatkan banyak kebaikan. Bahkan Allah Ta’ala akan membalasnya dengan
berlipat ganda sebagaimana firman-Nya :
أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ
فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. ada setiap
tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia
kehendaki dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261).
seperti ini akan dilipat gandakan. Kelipatan ini dengan tujuh ratus kali lipat hingga
berlipat ganda banyaknya lagi dari itu. Karena itu Allah berfirman : “Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” Itu tentunya
sesuai dengan :
berinfak tersebut dari keimanan dan keikhlasan yang tulus.
manfaat yang dihasilkan dari infaknya tersebut karena beberapa jalan kebaikan
dan manfaat yang dihasilkan dari infak tersebut. (Tafsir Taisir Karimir
Rahman).
Wallahu A’lam. (1.809)





































