SEMAKNA DENGAN PASRAH
yang diinginkan adalah dengan bertawakal
kepada Allah Ta’ala. Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan orang orang beriman
untuk bertawakal kepada-Nya :
تَعْمَلُونَ
Dan Rabbmu tidak akan lalai terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S
Huud 123)
ayat 3.
Allah sebagai Pemelihara. (Q.S al Ahzaab 3)
ayat 9.
kamu akan dikumpulkan. (Q.S al Mujaadilah 9)
Hambali berkata : Hakikat tawakal adalah hati benar benar bergantung kepada
Allah Azza wa Jalla guna memperoleh mashlahat
dan menolak mudharat dari urusan urusan dunia dan akhirat. (Jami’ul
Ulum)
tawakal adalah semakna atau identik dengan pasrah secara total. Ini persangkaan
yang keliru karena sifat tawakal
itu menuntut sikap optimis, aktif dan
dibarengi dengan upaya.
: Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah Ta’ala dalam
mengupayakan apa yang dicari dan menolak apa yang tidak disukai disertai
percaya penuh kepada Allah dengan MENEMPUH SEBAB yang disyariatkan. Jadi
tawakal harus memenuhi dua syarat : (1) Penyandaran kepada Allah Ta’ala dengan
sebenar benarnya dan nyata. (2) Harus menempuh sebab sebab yang diizinkan
syariat. (Al Qaulul Mufid, Syaikh Utsaimin).
adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :
فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S ath Thalaq 3).
siapa yang bertawakal kepada Allah” maknanya adalah (bertawakal) dalam
urusan agama dan dunianya dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah Ta’ala
dengan maksud untuk mendapatkan apa apa yang bermanfaat dan menghindari apa apa
yang mudharat serta percaya sepenuhnya bahwa mereka akan diberi kemudahan.
akan mencukupkan (keperluan) nya” . Maksudnya adalah bahwa Allah akan
mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah. Dan ketika suatu urusan
berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa lagi
Mahapenyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu.
(Tafsir Taisir Karimir Rahman)
ini Allah Ta’ala berjanji memberi kecukupan kepada orang yang bertawakal
kepada-Nya termasuk rizki. Ini tidaklah bermakna bahwa rizki itu akan datang
dengan sendirinya tanpa ada usaha sedikitpun. Sebagaimana seseorang yang
menginginkan keturunan maka dia harus menikah dan mengumpuli istrinya lalu
bertawakal dan berserah diri kepada Allah Ta’ala.
telah menjelaskan kewajiban bertawakal dengan melakukan sebab sebagaimana
perumpamaan burung yang berusaha mencari rizki. Dari
Umar bin al Khahthab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ
بِطَاناً
sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan
rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari
dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang. (H.R
Imam Ahmad, Ibnu Majah, at Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al
Albani).
berkata : Pada hadits ini terdapat dalil bahwa manusia ketika bertawakal kepada
Allah Ta’ala dengan sebenar benarnya maka HARUS MELAKUKAN SEBAB. Orang yang
berkata : Aku tidak akan menempuh sebab (tidak berusaha), aku akan bertawakal
saja kepada Allah Ta’ala. MAKA ADALAH SESAT, UCAPANNYA SALAH. Orang yang
bertawakal adalah orang yang mengupayakan sebab dengan menyandarkan diri kepada
Allah Azza wa Jalla. (Syarah Riyadush Shalihin).
penting dan terkait dengan tawakal. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada
seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai
Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla
ataukah saya lepas saja dan bertawakal kepada-Nya ?. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
وَتَوَكَّلْ
kemudian baru engkau bertawakal !. (H.R at Tirmidzi, hadits hasan)
Wallahu A’lam. (1.778)




































![[Lirik+Terjemahan] STEREO DIVE FOUNDATION – Renegade (Berkhianat)](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/01/eca6c1a1gw1eudlrky4zfj212w12wqef.jpg?fit=400%2C400&ssl=1)

