RIYA
orang beriman wajib menjaga keikhlasannya dalam beribadah. Ketika amal ibadah
DILAKUKAN DENGAN RIYA, tidak ikhlas karena Allah semata maka pastilah rugi
besar dan menjadi penyesalan yang berkepanjangan.
bermakna memperlihatkan kepada orang lain sesuatu yang berbeda dengan yang ada
padanya. Menurut istilah maka para ulama
memberikan definisi yang berbeda beda, namun intinya sama yaitu : Seorang hamba
melakukan ibadah yang seharusnya untuk
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi dia tidak meniatkannya
untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan untuk tujuan duniawi.
mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah, asalnya mencari kedudukan di hati
manusia. (Tafsir al Qurthubi).
adalah menampakkan ibadah karena niat dilihat manusia lalu mereka akan memuji
pelaku ibadah tersebut. (Fathul Bari).
الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ
Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama-Ku
pada amalan itu Aku tinggalkan dia dan sekutunya. (H.R Imam Muslim).
karena riya maka bukan hanya PAHALA AMALNYA TAK DIPEROLEH tapi Allah Ta’ala
melalui Rasul-Nya menjelaskan bahwa mereka akan dilemparkan ke dalam neraka
yaitu sebagaimana disebutkan dalam
hadits berikut ini :
: Dari Abu Hurairah, dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama kali yang akan
diputuskan (pengadilannya) pada hari Kiamat adalah seorang laki laki yang mati syahid. Dia didatangkan, Allah
menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.
bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia
menjawab : Aku berperang untuk-Mu sehingga aku mati syahid. Allah berkata :
Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan seorang pemberani dan
dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut ,
kemudiaan dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.
mengajarkannya. Dia membaca al Qur an. Dia didatangkan, Allah menyebutkan
nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.
bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia
menjawab : Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca al Qur an
untuk-Mu. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar
dikatakan seorang yang ‘alim, engkau membaca al Qur an agar dikatakan seorang
qaari dan dahulu (di dunia) telah
dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut kemudian dia diseret di
atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.
laki laki yang Allah luaskan rizkinya dan Allah juga memberikan berbagai macam
harta benda. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan
dia mengakuinya.
dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku tidak meninggalkan satu jalanpun
yang Engkau menyukai infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya untuk-Mu. Allah
berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan dermawan dan
dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut
kemudian dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka. (H.R Imam Muslim).
berfirman :
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.S. Al Mulk 2).
baik amalnya maksudnya adalah yang paling ikhlas
dan yang paling benar amalnya. Selanjutnya
kata beliau , yang paling ikhlas dan paling
benar yakni :
Sesungguhnya amalan apabila ikhlas tapi tidak benar maka tidak diterima,
demikian juga apabila benar tetapi tidak ikhlas maka tidak pula. Orang yang
ikhlas ibadahnya adalah yang beramal semata-mata karena Allah sedangkan yang
benar adalah orang yang mencontoh Rasulullah dalam beramal. (Madarijus Salikin)
sebab itu maka wajiblah bagi orang orang beriman untuk beribadah DENGAN BAIK
yaitu dengan memenuhi dua syarat sahnya
suatu ibadah yaitu : (1) Ikhlas karena Allah, JAUH DARI SIKAP RIYA dan (2)
Ittiba’ yaitu sesuai dengan cara beramal yang diajarkan Rasulullah. Insya Allah ada
manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.703)




































