SEDEKAH
mulia dan memiliki nilai yang agung di sisi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sangatlah menganjurkan bahkan memerintahkan
orang orang beriman untuk berinfak dan bersedekah di jalan-Nya.
: Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ
يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ
الظَّالِمُونَ
sebagian rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak
ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang orang kafir itulah
orang yang zhalim. (Q.S al Baqarah 254)
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada
salah seorang diantara kamu. (Q.S al Munaafiquun 10).
infakkanlah) “sebagian dari apa (rizki) yang telah Kami berikan kepadamu” Hal
itu memberitahukan bahwa Allah Ta’ala tidak membebankan nafkah yang memberatkan
hamba hamba-Nya. Untuk itu, hendaknya mereka mensyukuri karunia yang didapatkan
dengan berbagi kepada saudara saudaranya membutuhkan. Segeralah lakukan itu
sebelum maut datang menjemput, karena ketika kematian datang, manusia tidak
mungkin sedikit pun bisa melakukan kebaikan
dikeluarkan, setiap orang ingin mendapatkan ganjaran pahala yang memiliki nilai
lebih. Ketahuilah bahwa hakikatnya semua kebaikan termasuk infak dan sedekah akan
mendapat ganti dan balasan pahala yang lebih dan berlipat.
:
لِمَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ
يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan
menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.
(Q.S. Saba 39).
yang diinfakkan di jalan –Nya, yakni sebagaimana firman-Nya :
أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ
فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap
tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki
dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.(Q.S al Baqarah 261)
menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memberikan nilai lebih dengan melipat gandakan
harta orang orang yang berinfak di jalan-Nya sampai tujuh ratus kali lipat
bahkan bisa jadi lebih dari itu.
MEMBERIKAN NILAI LEBIH DARI INFAK DAN SEDEKAH SEORANG HAMBA, diantaranya adalah
:
sedekah ikhlas karena Allah.
ikhlas ?. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berpendapat, arti ikhlas
karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk
taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat kemuliaan-Nya.
ibadah kita haruslah karena mencari wajah Allah, ikhlas karena Allah, termasuk
berinfak dan bersedekah sehingga benar benar bernilai di sisi-Nya. Allah Ta’ala
berfirman :
صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal
shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb-nya. (Q.S al
Kahfi 110).
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan
dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (H.R an Nasa-i,
dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih at Targhib wat Tarhib).
lebih baik (memiliki nilai lebih) dari pada terang terangan. Allah Ta’ala
berfirman :
هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ
وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
itu baik. Dan jika KAMU MENYEMBUNYIKANNYA dan memberikannya kepada orang fakir
MAKA ITU LEBIH BAIK BAGIMU. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan
kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Baqarah 271).
yang memberi makanan dengan mengharapkan
ridha Allah saja. Allah Ta’ala berfirman :
لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
memberikan makanan kepadamu (orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan) HANYALAH
KARENA MENGHARAPKAN KERIDHAAN ALLAH, kami tidak mengharap balasan dan terima
kasih dari kamu. (Q.S al Insan 9)
memberi makan dan infak adalah demi mencari ridha Allah Ta’ala semata. Mereka
tidak mengharapkan balasan materi ataupun sanjungan. (Tafsir Taisir Karimir
Rahman).
terkenal sangat ikhlas dalam berinfak dan bersedekah bahkan ikhlas dalam semua
ibadahnya. Allah Ta’ala berfirman :
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ
karunia Allah dan keridhaan-Nya. (Q.S al Fath 29)
jadi sangatlah jauh dibanding dengan nilai sedekah kita. Diantaranya penyebabnya
adalah karena keikhlasan kita juga berbeda dengan keikhlasan para sahabat. Bisa
jadi kita dalam berinfak dan bersedekah terkadang ada
tercampur sedikit atau banyak perasaan riya’. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda
:
تسبوا اصحابي فلو ان احدكم انفق مثل احد ذهبا ما بلغ مد احدهم ولا نصيفه
beliau bersabda : Janganlah kalian mencela sahabatku, sekiranya salah seorang
dari kalian mensedekahkan emas sebesar gunung Uhud, sungguh hal itu tidak akan
menyamai sedekah mereka satu mud atau bahkan setengahnya. (H.R Iman Ahmad) 1Kedua : Dalam keadaan memiliki sedikit
harta dan kesempitan.
pula untuk berinfak dalam keadaan sempit
ataupun lapang yaitu sebagaimana Allah berfirman :
وَالضَّرَّاءِ
berinfak baik di waktu lapang maupun diwaktu sempit. (Q.S Imran 134).
pada saat keadaan mereka sedang sulit atau keadaan mereka sedang lapang. Bila
mereka lapang maka mereka (orang yang takwa ini) akan berinfak lebih banyak.
Apabila mereka sedang kesulitan mereka tidak menganggap remeh suatu kebaikan
walaupun hanya (berinfak) sedikit (Tafsir Karimur Rahman).
jinsil amal. Sesungguhnya balasan itu berbanding dengan amal perbuatan.
sesuai dengan kadar kelelahanmu dan nafkah yang kamu keluarkan”. (H.R al
Hakim).
sedikit tapi mendapat pahala lebih besar dari orang berinfak dan bersedekah
banyak. Seseorang memiliki harta misalnya 2 milyar rupiah lalu dia berinfak 2 juta rupiah (satu permil dari
hartanya), nilainya di sisi Allah akan berbeda dengan seseorang yang memiliki
harta 10 juta rupiah lalu dia berinfak
100 ribu rupiah (satu persen dari hartanya).
: “Sabaqa dirhamun mi-ata alfi dirhamin. Faqala rajulun : Wa kaifa dzaka
ya rasulullah ? Qaala : Rajulun lahu maalun katsiirun, akhadza min ‘urdhihi
mi-ata alfi dirhamin tashaddaqa bihaa, wa rajulun laisa lahu illa dirhaman ,
fa-akhadza ahaduhumaa fa tashaddaqa
bihi”
Seorang bertanya : Bagaimana itu (terjadi) wahai Rasulullah ? Beliau menjawab :
“Seseorang mempunyai harta yang melimpah lalu dia mengambil dari kantongnya
seratus ribu dirham lalu menyedekahkannya, dan seseorang yang lain hanya
memilik dua dirham, dia mengambil satu dirham lalu mensedekahkannya”. (H.R Imam an Nasa-i,
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya)
disenangi
adalah suatu yang sudah biasa. Tetapi ketahuilah bahwa berinfak dan bersedekah
dengan harta yang dicintai atau disenangi memang tidak sering dilakukan
manusia. Pada hal disitulah kebaikan yang banyak tersedia.
حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
mereka MEMBERIKAN MAKANAN YANG DISUKAINYA kepada orang miskin, anak yatim dan
orang orang yang ditawan. (Q.S al Insan 8).
memberikan makanan yang disukainya”. Yaitu pada saat mereka menyukai harta
dan makanan, tetapi mereka LEBIH MEMENTINGKAN kecintaan terhadap Allah dari
pada diri mereka sendiri. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ
بِهِ عَلِيمٌ
kebajikan, sebelum kamu menginfakkan SEBAGIAN HARTA YANG KAMU CINTAI. Dan
apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui. (Q.S
Ali Imran 92).
Abdillah bin Abi Thalhah, ia mendengar
adalah orang terkaya diantara orang orang Anshar di Madinah. Kekayaannya yang
paling dia cintai adalah Bairuha yaitu kebun yang berhadapan dengan masjid.
Rasulullah pernah memasukinya dan meminum air yang segar darinya.
berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya Allah berfirman : Kamu sekali kali
tidak tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” Sesungguhnya harta kekayaan
yang paling aku sukai adalah Bairuha’ dan aku bermaksud untuk menyedekahkannya
yang dengannya aku berharap mendapat kebaikan dan simpanan disisi Allah. Maka
manfaatkanlah kebun itu ya Rasulullah seperti apa yang ditunjukkan Allah kepada
engkau.
demikian itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan. Dan aku
telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaklah kebun itu
engkau berikan kepada kaum kerabatmu. Abu Thalhahpun berkata : Aku akan
laksanakan ya Rasulullah. Kemudian Abu Thalhah membagi bagikannya kepada sanak
kerabatnya dan anak anak pamannya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
kaya.
syaithan yang menakut nakuti akan jatuh miskin ketika banyak bersedekah. Akhirnya menjadi berat baginya untuk menginfakkan
hartanya. Allah Ta’ala berfirman :
وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا
وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah
menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-Baqarah 268)
Ta’ala : “Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan“,
maksudnya, dia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap
menggenggam tangan kalian (menahan harta), sehingga tidak menginfakkanya dalam
keridhaan Allah.
(kikir)” maksudnya, bersamaan dengan melarang kalian berinfak karena takut
miskin, syaithan menyuruh kalian berbuat maksiat, dosa, keharaman, dan menyelisihi
keridhaan pencipta (Allah). Lihat Tafsir Ibnu Katsir.
tak akan pernah mengurangi harta seorang hamba yaitu sebagaimana sabda beliau
kepada Bilal :
ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا
pemilik ‘Arsy (Allah) mengurangi hartamu. (H.R al Baihaqi dan ath Thabrani, dishahihkan
oleh Syaikh al Albani)
bertanya kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :
رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ
وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ
تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ،
وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »
mana yang LEBIH BESAR PAHALANYAl ?. Beliau menjawab : Engkau bersedekah pada
saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu
berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu,
hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, Untuk si
fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.”
(Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah).
yang bisa dilakukan sehingga infak dan sedekah seorang hamba mendatangkan nilai
lebih dan bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Wallahu A’lam. (1.649)






































