Meminimalisasi
risiko merupakan rahasia terbesar dari kesuksesan berinvestasi. Dengan
bersikap waspada, Anda dapat terhindar dari berbagai jebakan sehingga
lebih memuluskan jalan mencapai tujuan finansial. Simak lima
kesalahan fatal berinvestasi seperti terangkum dalam buku “The Elements
of Investing” karya Burton G. Malkiel, profesor ekonomi Princeton, serta
Charles D. Ellis berikut ini:
1. Terlalu percaya diri Beberapa
tahun belakangan, sekelompok psikolog dan ekonom telah menciptakan
bidang baru yang penting mengenai tingkah laku keuangan. Riset yang
mereka lakukan menunjukkan bahwa kita tidak selalu bersikap rasional dan
cenderung terlalu percaya diri. Ketika kita sukses berinvestasi, kita
kerap salah mengartikan keberuntungan sebagai keahlian.
2. Mengikuti arus Para
investor cenderung semakin optimistis dan berani mengambil risiko besar
saat mengalami euforia di pasar modal. Akan tetapi, investasi yang
telah menjadi topik pembicaraan luas di antara teman atau di-blow up
media massa sangat mungkin tidak akan mencapai sukses. Sepanjang
sejarah, beberapa kesalahan investasi terburuk dibuat oleh orang-orang
yang tersapu ke dalam gelembung spekulatif. Misalnya saja, tren real
estate di Jepang selama tahun 1980-an atau saham internet di AS selama
penghujung 1990-an, telah menuntun orang-orang membuat sejumlah
kesalahan investasi terburuk.
3. Menganggap memiliki kontrol Para
psikolog menemukan kecenderungan pada orang-orang untuk berpikir bahwa
mereka memiliki kendali atas peristiwa-peristiwa, bahkan ketika mereka
sesungguhnya tidak memilikinya. Akibatnya, para investor mengalami
kerugian besar di pasar saham. Di samping itu, hal tersebut juga
dapat menyebabkan para investor membayangkan tren yang sebenarnya tidak
ada, atau memercayai bahwa mereka bisa membaca pola dalam grafik saham
sehingga dengan demikian bisa memprediksi masa depan. Faktanya,
perubahan harga saham lebih mendekati sebuah pola acak. Tidak ada yang
dapat diandalkan untuk memprediksi pergerakan harga saham di masa depan
berdasarkan pergerakannya di masa lampau.
4. Biaya tinggi Salah
satu nasihat berinvestasi yang sebaiknya Anda ikuti adalah minimalkan
biaya investasi. Berdasarkan pengamatan terhadap reksadana ekuitas
dengan periode 15 tahun dan pengukuran tingkat pengembalian dana yang
dihasilkan untuk para investor, serta semua biaya yang dibebankan dan
biaya pembelian dan penjualan saham, disimpulkan bahwa reksadana dengan
kuartil terendah menghasilkan keuntungan terbaik.
5. Memercayai pialang saham Pekerjaan
utama seorang pialang saham sebenarnya bukan menghasilkan uang untuk
Anda, melainkan menghasilkan uang dari Anda. Pialang saham cenderung
ramah untuk satu alasan utama, yakni mendapatkan lebih banyak bisnis.
Tergantung dari kesepakatan yang telah disetujuinya dengan perusahaan
tempatnya bekerja, pialang saham mendapatkan sekitar 40 persen dari
komisi yang Anda bayarkan. Seorang pialang saham memiliki satu
prioritas: memastikan membuat Anda mengambil tindakan apa pun. Oleh
karena itu, jangan melompat dari satu saham ke saham lain atau dari satu
reksadana ke reksadana lain seperti membuang dan mengambil kartu dalam
sebuah permainan. Hal itu hanya akan membuat kocek Anda terkuras untuk
membayar komisi, dan mungkin juga menambah jumlah tagihan pajak Anda.
(*/mediaindonesia.com) |