Sejumlah
profesional yang terlibat dalam pemasaran berhasil membuktikan bahwa
dengan memahami keinginan konsumen, perusahaan bisa mendapatkan
keuntungan besar. Salah satu perusahaan yang sukses dekat dengan
konsumen adalah Kraft Foods. Perusahaan yang didirikan James Lewis Kraft
ini merupakan perusahaan yang memimpin di kelasnya. Sejumlah produk
yang dihasilkan banyak mendapatkan tempat bagi konsumen mereka di
seluruh dunia.Hal ini tidak lepas dari strategi yang sudah mereka rintis
sejak lama. Salah satu cara yang mereka lakukan dengan menyajikan iklan
yang tepat sasaran. Kraft Foods telah menjadi perintis dalam
ruang penerbitan online dan konten. Mereka menawarkan konten bermerek
online melalui kegiatan customer relationship management (CRM) mereka
sejak awal era 1990-an. Mereka telah meluncurkan kraftfoods.com pada
1992 dan menyajikan majalah makanan dan keluarga pada 2011. Mereka
juga memiliki saluran YouTube sejak 2005 dan sejak itu diperluas
platform mereka ke telepon seluler, media sosial, dan aplikasi gadget.
Menurut Director dan CRM Content Strategy & Integration Kraft Foods
Julie Fleischer, pihaknya sangat serius dan berkesinambungan membangun
komunikasi dengan para pelanggan. Hal ini terlihat pada kraftrecipes.com
yang merupakan situs bagi komunitas pelanggan Kraft Foods. Sekitar
sepertiga dari resep diciptakan tim kuliner, mereka memiliki pengalaman
dan pemahaman yang luas tentang bagaimana konsumen suka memasak dan
makan. “Sekitar dua pertiga dari resep kami berasal dari anggota
komunitas kami. Kami senang bahwa mereka berbagi resep terbaik dengan
kami dan mereka melihat situs kami sebagai komunitas makanan mereka
sendiri,” kata Fleischer, sebagaimana diungkapkan dalam wawancaranya
dengan majalah Forbes beberapa waktu lalu. Fleischer percaya
bahwa kunci keberhasilan terletak dalam memahami apa yang konsumen
benar-benar inginkan dan butuhkan. Pihaknya berkonsentrasi pada
keterlibatan konsumen melalui kraftrecipes.com. Di samping itu, pihaknya
juga melibatkan para anggota komunitas melalui surat elektronik dan
majalah. Perusahaannya bahkan terlibat langsung dengan konsumen melalui
pemanfaatan media sosial dan merangsang budaya partisipatif. Sementara
konten pemasaran yang dipergunakan dalam berinteraksi, menganalisis
tentang apa,dan bagaimana hasil pengalaman didapatkan bersama konsumen.
“Terus terang, karena “lomoso” (local/mobile/social) semua begitu dekat
dengan konsumen. Mereka sangat penting untuk memandu konten dan mereka
harus mendistribusikannya,” ungkap Fleischer. Fleischer menambahkan,
yang paling menarik adalah tentang penemuan konten dan bagaimana
mengaplikasikannya. Pihaknya memperhatikan teknologi dan platform
konsumen. Kemudian dicarikan waktu untuk mempergunakan teknologi
tersebut. Fleischer mencontohkan penggunaan Pinterest, sebuah situs
untuk berbagi berbagai hal. Dia mengaku telah memantau situs itu hampir
satu tahun untuk menentukan apa yang beresonansi dengan konsumen. Dia
melihat konsumen berbagi sejumlah besar resep pada situs Pinterest. Dia
kemudian mengikuti dan memimpin konsumen dan bergabung dalam
percakapan. Situs tersebut membuat konsumen lebih mudah berbagi resep
kepada perusahaan, dan perusahaan berbagi dalam percakapan. Ketika
Fleischer ditanya tentang resep untuk menentukan konten pemasaran yang
tepat dan bagaimana harus memulainya, dia menyatakan bahwa pertanyaan
yang paling penting untuk dijawab: “Apa dasar Anda dalam
percakapan?” Perusahaan juga perlu memiliki pertanyaan: “Apa hal penting
yang akan ditawarkan kepada konsumen, serta apa yang akan diberikan
sehingga konsumen ingin datang kembali?” “Untuk sukses dalam
konten pemasaran, Anda harus meluangkan waktu mengenal konsumen. Apa
yang mereka butuhkan dan bagaimana Anda dapat melayani dengan unik dan
otentik. Setelah Anda memahami peran Anda, semua elemen lainnya dapat
mengikuti,” ungkap Fleischer. (*/Harian Seputar Indonesia) |