ADVERTISEMENT

Sewaktu remaja, Momon Abdurrachman
diberi alat pengeras suara dari ayahnya. Alat yang dirakit sendiri itu memang
hasil hobi ayah Momon membuat peralatan eletronik. Awalnya, pengeras suara
dipakai Momon untuk sekadar bersenang-senang.
“Saya bernyanyi pakai alat itu. Ternyata tetangga mendengar dan berniat
pinjam untuk orkes melayu,” ujar warga Bandung itu.
Usai acara, tak disangka Momon diberi uang sebesar Rp 50, nilai yang cukup
besar untuk saat itu. Sebagai gambaran, iuran sekolah Momon hanya Rp 20 per
bulan dan uang jajannya 2,5 benggol per hari. Sebenggol sama dengan 2,5 sen.
Meski ketika itu masih berusia 12 tahun, Momon sudah mampu melihat peluang
bisnis. Alat itu pun disewakan kepada warga di lingkungan rumahnya.
Selanjutnya, baju baru, jajan, dan jalan-jalan pun bisa dipenuhi dari kantong
Momon sendiri.
“Kualitas pengeras suara punya saya soalnya bagus. Jadi, konsumen semakin
banyak. Orantua malah mendukung usaha,” kata Momon yang kini berusia 69
tahun itu.
Pada umur 15 tahun, Momon sudah bisa merakit pengeras suara sendiri. Jumlah
pengeras suara bertambah menjadi 12 unit. “Bisnis berkembang soalnya warga
Bandung dulu kalau bikin hajatan bisa seminggu penuh. Saya ajak teman-teman,
setiap pengeras suara dioperasikan dua orang,” ujarnya seperti dikutip Kompas.
Usaha itu terus berkembang dan dinamakan Bayem Sebelas. Nama itu berasal dari
alamat usaha ketika pertama kali didirikan, Jalan Bayem nomor 11, Bandung .
Kini, Bayem Sebelas adalah penyewaan peralatan pesta terbesar di Bandung.
Bayem Sebelas memiliki peralatan seperti tenda dengan luas total 6.000 meter
persegi, kursi sekitar 6.000 unit, dan meja sekitar 2.000 unit. Tarif sewa
tenda mulai Rp 25.000 per meter persegi, serta kursi dan meja masing-masing
mulai Rp 5.000 dan Rp 10.000 per unit.
“Moto Bayem Sebelas, tidak ada kata tidak ada. Tidak ada kata tidak mau.
Artinya, perlengkapan apa pun harus bisa kami sediakan kapan saja,” ujar
Momon.
diberi alat pengeras suara dari ayahnya. Alat yang dirakit sendiri itu memang
hasil hobi ayah Momon membuat peralatan eletronik. Awalnya, pengeras suara
dipakai Momon untuk sekadar bersenang-senang.
“Saya bernyanyi pakai alat itu. Ternyata tetangga mendengar dan berniat
pinjam untuk orkes melayu,” ujar warga Bandung itu.
Usai acara, tak disangka Momon diberi uang sebesar Rp 50, nilai yang cukup
besar untuk saat itu. Sebagai gambaran, iuran sekolah Momon hanya Rp 20 per
bulan dan uang jajannya 2,5 benggol per hari. Sebenggol sama dengan 2,5 sen.
Meski ketika itu masih berusia 12 tahun, Momon sudah mampu melihat peluang
bisnis. Alat itu pun disewakan kepada warga di lingkungan rumahnya.
Selanjutnya, baju baru, jajan, dan jalan-jalan pun bisa dipenuhi dari kantong
Momon sendiri.
“Kualitas pengeras suara punya saya soalnya bagus. Jadi, konsumen semakin
banyak. Orantua malah mendukung usaha,” kata Momon yang kini berusia 69
tahun itu.
Pada umur 15 tahun, Momon sudah bisa merakit pengeras suara sendiri. Jumlah
pengeras suara bertambah menjadi 12 unit. “Bisnis berkembang soalnya warga
Bandung dulu kalau bikin hajatan bisa seminggu penuh. Saya ajak teman-teman,
setiap pengeras suara dioperasikan dua orang,” ujarnya seperti dikutip Kompas.
Usaha itu terus berkembang dan dinamakan Bayem Sebelas. Nama itu berasal dari
alamat usaha ketika pertama kali didirikan, Jalan Bayem nomor 11, Bandung .
Kini, Bayem Sebelas adalah penyewaan peralatan pesta terbesar di Bandung.
Bayem Sebelas memiliki peralatan seperti tenda dengan luas total 6.000 meter
persegi, kursi sekitar 6.000 unit, dan meja sekitar 2.000 unit. Tarif sewa
tenda mulai Rp 25.000 per meter persegi, serta kursi dan meja masing-masing
mulai Rp 5.000 dan Rp 10.000 per unit.
“Moto Bayem Sebelas, tidak ada kata tidak ada. Tidak ada kata tidak mau.
Artinya, perlengkapan apa pun harus bisa kami sediakan kapan saja,” ujar
Momon.
Sumber : okezone.com








