banyak nikmat kepada kita. Bahkan jumlah dan jenisnya tak terhitung. Allah
berfirman :
تُحْصُوهَا ۗ
niscaya kamu tidak akan mampu
menghitungnya.(Q.S Ibrahim 34).
menyuruh untuk meminta lagi tambahan nikmat kepada-Nya yaitu dengan memohon
melalui doa. Allah Ta’ala berfirman :
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60).
doa itu adalah ibadah dan tentu benilai pahala disisi Allah Ta’ala. Beliau
bersabda :
hakikatnya adalah permohonan. Oleh karena itu seorang hamba, sebelum, sedang dan setelah berdoa hendaklah memenuhi
adab adab dalam berdoa, diantaranya adalah :
Berdoa dengan mengikhlaskan niat dan memohon kepada Allah saja.
ibadah. Oleh karenanya maka haruslah dilakukan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :
الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
hidup kekal, tidak ada Rabb selain Dia, maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas
beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. (Q.S Ghafir
65).
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Baiyinah 5).
kepada Allah Ta’ala.
meminta kepada Allah melalui doanya maka haruslah merendahkan diri serendah
rendahnya. Memohon kepada Allah Ta’ala dengan suara lirih. Begitulah seharusnya
seorang hamba yang sedang berharap kepada Rabb-nya.
الْمُعْتَدِينَ
خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
dan suara yang lembut. Sungguh Dia tidak menyukai orang orang yang melampaui
batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan)
dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang orang yang berbuat
kebaikan. (Q.S al A’raf 55-56).
seorang hamba tak perlu bersuara keras dalam berdoa. Sungguh Allah Ta’ala
adalah Dzat yang Maha Mendengar.
meninggalkan larangan-Nya
larangan Allah Ta’ala adalah kewajiban seorang beriman kepada Allah Ta’ala.
Inilah adab paling utama bagi seorang hamba dalam berdoa dan berharap
kepada-Nya. Sungguh tidaklah pantas bagi seorang hamba yang selalu memperoleh
dan memohon nikmat kepada Allah Ta’ala lalu tak memperhatikan perintah dan
larangan-Nya.
hal ini adalah : Allah Ta’ala berfirman :
فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
kabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku)
dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran. (Q.S al Baqarah
186)
الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
(mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan
cemas. Dan mereka orang orang khusyu’ kepada Kami. (Q.S al Anbiyaa’ 90)
hamba. Namun demikian janganlah seseorang merasa (?) doanya tidak dikabulkan
karena pengabulan doa adalah dalam
berbagai bentuk. Dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau : “Maa min muslimin bida’watin laisa fiihaa
itsmun walaa qathii’atu rahimin illaa ‘athahullahu ihda tsalatsa : Imma an
yu’ajjila lahu da’watahu, wa immaa au
yudakhkhirahaa lahu fiil akhirati, wa imma au yashrifa ‘anhu minas suu-i
mitslihaa.”
tidak mengandung dosa dan memutus silaturrahim, melainkan Allah akan
menyegerakan doanya untuk dikabulkan,
atau Allah simpan untuknya di akhirat, atau Allah akan palingkan darinya
keburukan yang semisalnya (H.R Imam Bukhari dalam Adab al Mufrad, dishahihkan
oleh Syaikh al Albani).
Wallahu A’lam. (1.314)







































