ADVERTISEMENT

Bagi kebanyakan orang, tempurung atau
batok kelapa paling banter hanya bisa dijadikan arang. Tapi, di tangan Chairul
Amin, tumpukan tempurung diubahnya menjadi aneka barang kerajinan, seperti tas,
cincin, hingga kancing nan unik. Hasilnya, tumpukan rupiah dapat diraup perajin
asal Tulungagung, Jawa Timur, itu.
Proses kreatif dimulai dengan memisahkan jenis batok berdasarkan warnanya: batok
muda yang berwarna krem, dan batok kelapa tua. Semua batok itu lantas
dikeringkan selama beberapa waktu agar tak berjamur. Penjemuran batok muda
perlu waktu sedikitnya dua hari, sedangkan batok tua cukup beberapa jam saja.
Setelah itu, batok-batok tersebut dibersihkan dan diampelas agar mulus dan
bebas dari sabut. Selanjutnya, setiap batok siap dicetak, dipotong, atau diukir
sesuai dengan motif yang diinginkan.
Amin mencontohkan, untuk membuat sebuah tas dengan motif benikan penuh,
dibutuhkan waktu penyelesaian cukup lama. “Karena lebih rumit, membuat
benikan dan menjahit minimal 2.000 benikan dengan tangan bisa seharian lebih
untuk satu tas kecil,” ujarnya saat ditemui Tempo di arena Indocraft dan
Lebaran Fair beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk motif ukir atau batok kotak
dan bulat ukuran besar, relatif lebih cepat dan tidak butuh ketelitian lebih
besar.
Pada masa awal merintis usaha, 2001, ayah empat anak itu hanya bermodal dua
mesin pencetak dan pengebor besar dan kecil. Dengan mesin itu dia mencoba
membuat cincin atau kancing dari batok kelapa berdiameter 0,5 sentimeter.
“Kami menyebutnya benikan,” ujar Amin. Dengan alat itu pula dia
mengukir batok menjadi motif tertentu dan dirangkainya menjadi sebuah tas. Kini
usahanya berkembang dengan 16 mesin pencetak pengebor.
Untuk bahan baku, sarjana pertanian jebolan Universitas Wijayakusuma, Surabaya,
itu tak perlu pusing. Di lingkungan sekitarnya banyak teronggok serpihan batok
kelapa. Semua jenis batok dari kelapa muda atau kelapa tua akan dipakainya sebagai
bahan utama produk kerajinan. Bahan lainnya adalah bunga kelapa atau yang
sering disebut manggar, kayu, dan kain.
Semula harga batok cuma Rp 750 per kilogram. Kini, karena sudah dianggap barang
komersial, nilai ekonomis batok pun melonjak dua kali lipat menjadi Rp
1.200-1.500 per kilo. Maklum, dia harus bersaing dengan pembeli lain yang juga
memanfaatkan batok kelapa ini untuk tempat menampung getah karet.
“Saya tinggal dekat hutan karet milik Perhutani,” ujarnya. Dengan
mengerahkan 10-15 pegawai, Amin biasa memasok 400-500 tas dari ukuran kecil, S
(20 cm x 35 cm), hingga L (40 cm x 50 cm) setiap bulan. Pernah pula ia menerima
pesanan hingga 1.000 buah sehingga harus mengerahkan tetangga kanan-kiri untuk
membantunya.
Tas-tas cantik hasil kreasi Amin tak cuma dijajakan di toko-toko seni di Bali
dan Yogyakarta, tapi juga ada yang memesannya dari luar negeri, misalnya
Jamaika. Ia mengakui, pesanan sepanjang tahun lalu mencapai 10 ribu unit tas.
Sedangkan tahun ini hanya 8.000 unit. Penghasilan bersih yang biasa masuk ke
sakunya berkisar Rp 14-17,5 juta.
Soal harga, Amin mematok harga untuk pembeli lokal sebesar Rp 35-90 ribu,
tergantung motif dan ukurannya. Padahal, di luar negeri, harga jual tas
buatannya bisa mencapai Rp 450 ribu. “Ya, bagaimana, mereka menilainya kan
barang unik, antik, susah buatnya bagi mereka. Tapi kalau di sini, ya, nggak
laku karena daya belinya masih terbatas,” ujar Amin sambil terkekeh.
Nyaris tak ada kendala yang ditemui Amin selama menjalani usaha ini, selain
cuaca. Jika memasuki musim penghujan, kata dia, otomatis tingkat produksi
menurun drastis. Sebab, batok kelapa akan sulit kering. Ia pernah mencoba
menyiasati pengeringan melalui oven, tapi hasilnya ternyata tak bagus.
“Tetap keluar jamur,” ujarnya.
Ketika disinggung soal hak paten, Amin hanya tertawa getir. Jangankan hak
paten, membuat label sendiri saja susah. Broker yang menjual kembali
barang-barang kreasinya ke luar negeri lebih suka memberi label “Made in
Bali”, bukan “Made in Indonesia”. “Lebih menjual,
katanya,” ujar Amin. (*/Tempointeraktif)
batok kelapa paling banter hanya bisa dijadikan arang. Tapi, di tangan Chairul
Amin, tumpukan tempurung diubahnya menjadi aneka barang kerajinan, seperti tas,
cincin, hingga kancing nan unik. Hasilnya, tumpukan rupiah dapat diraup perajin
asal Tulungagung, Jawa Timur, itu.
Proses kreatif dimulai dengan memisahkan jenis batok berdasarkan warnanya: batok
muda yang berwarna krem, dan batok kelapa tua. Semua batok itu lantas
dikeringkan selama beberapa waktu agar tak berjamur. Penjemuran batok muda
perlu waktu sedikitnya dua hari, sedangkan batok tua cukup beberapa jam saja.
Setelah itu, batok-batok tersebut dibersihkan dan diampelas agar mulus dan
bebas dari sabut. Selanjutnya, setiap batok siap dicetak, dipotong, atau diukir
sesuai dengan motif yang diinginkan.
Amin mencontohkan, untuk membuat sebuah tas dengan motif benikan penuh,
dibutuhkan waktu penyelesaian cukup lama. “Karena lebih rumit, membuat
benikan dan menjahit minimal 2.000 benikan dengan tangan bisa seharian lebih
untuk satu tas kecil,” ujarnya saat ditemui Tempo di arena Indocraft dan
Lebaran Fair beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk motif ukir atau batok kotak
dan bulat ukuran besar, relatif lebih cepat dan tidak butuh ketelitian lebih
besar.
Pada masa awal merintis usaha, 2001, ayah empat anak itu hanya bermodal dua
mesin pencetak dan pengebor besar dan kecil. Dengan mesin itu dia mencoba
membuat cincin atau kancing dari batok kelapa berdiameter 0,5 sentimeter.
“Kami menyebutnya benikan,” ujar Amin. Dengan alat itu pula dia
mengukir batok menjadi motif tertentu dan dirangkainya menjadi sebuah tas. Kini
usahanya berkembang dengan 16 mesin pencetak pengebor.
Untuk bahan baku, sarjana pertanian jebolan Universitas Wijayakusuma, Surabaya,
itu tak perlu pusing. Di lingkungan sekitarnya banyak teronggok serpihan batok
kelapa. Semua jenis batok dari kelapa muda atau kelapa tua akan dipakainya sebagai
bahan utama produk kerajinan. Bahan lainnya adalah bunga kelapa atau yang
sering disebut manggar, kayu, dan kain.
Semula harga batok cuma Rp 750 per kilogram. Kini, karena sudah dianggap barang
komersial, nilai ekonomis batok pun melonjak dua kali lipat menjadi Rp
1.200-1.500 per kilo. Maklum, dia harus bersaing dengan pembeli lain yang juga
memanfaatkan batok kelapa ini untuk tempat menampung getah karet.
“Saya tinggal dekat hutan karet milik Perhutani,” ujarnya. Dengan
mengerahkan 10-15 pegawai, Amin biasa memasok 400-500 tas dari ukuran kecil, S
(20 cm x 35 cm), hingga L (40 cm x 50 cm) setiap bulan. Pernah pula ia menerima
pesanan hingga 1.000 buah sehingga harus mengerahkan tetangga kanan-kiri untuk
membantunya.
Tas-tas cantik hasil kreasi Amin tak cuma dijajakan di toko-toko seni di Bali
dan Yogyakarta, tapi juga ada yang memesannya dari luar negeri, misalnya
Jamaika. Ia mengakui, pesanan sepanjang tahun lalu mencapai 10 ribu unit tas.
Sedangkan tahun ini hanya 8.000 unit. Penghasilan bersih yang biasa masuk ke
sakunya berkisar Rp 14-17,5 juta.
Soal harga, Amin mematok harga untuk pembeli lokal sebesar Rp 35-90 ribu,
tergantung motif dan ukurannya. Padahal, di luar negeri, harga jual tas
buatannya bisa mencapai Rp 450 ribu. “Ya, bagaimana, mereka menilainya kan
barang unik, antik, susah buatnya bagi mereka. Tapi kalau di sini, ya, nggak
laku karena daya belinya masih terbatas,” ujar Amin sambil terkekeh.
Nyaris tak ada kendala yang ditemui Amin selama menjalani usaha ini, selain
cuaca. Jika memasuki musim penghujan, kata dia, otomatis tingkat produksi
menurun drastis. Sebab, batok kelapa akan sulit kering. Ia pernah mencoba
menyiasati pengeringan melalui oven, tapi hasilnya ternyata tak bagus.
“Tetap keluar jamur,” ujarnya.
Ketika disinggung soal hak paten, Amin hanya tertawa getir. Jangankan hak
paten, membuat label sendiri saja susah. Broker yang menjual kembali
barang-barang kreasinya ke luar negeri lebih suka memberi label “Made in
Bali”, bukan “Made in Indonesia”. “Lebih menjual,
katanya,” ujar Amin. (*/Tempointeraktif)
Sumber : okezone.com





























