seharusnya cinta kepada Allah mengalahkan seluruh cinta (kepada) yang lain dan
menjadi asal dari semua cinta sehingga seluruh cinta kepada selain Allah
merupakan cabang darinya. (Kitab Ensiklopedi Adab Islam).
Allah berfirman : … “Walladziina aamanuu
asyaddu hubban lillahi” ……Adapun orang orang yang beriman amat sangat
cintanya kepada Allah .. (Q.S al Baqarah 165).
sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya : “Katakanlah (Muhammad) : Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku.
Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu. Allah Maha
Pengampun, Maha penyayang. Katakanlah (Muhammad) : Ta’atilah Allah dan Rasul.
Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang orang kafir”. (Q.S Ali Imran 31-32).
hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala,
akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah. Maka dia adalah
orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam perkara ini, sampai dia mau mengikuti
syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi
wasallam dalam semua ucapan, perbuatan
dan keadaannya. (Dinukil oleh Imam asy Syatibi dalam al I’tisham).
berkata : Ayat ini merupakan patokan dimana dengannya kita dapat membedakan
orang yang mencintai Allah dengan sebanar benarnya dan orang yang hanya sekedar
mengaku ngaku semata. Tanda tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti
Rasulullah dimana Allah menjadikan tindakan mencontoh Rasulullah dan mengikuti
apa yang diserukannya sebagai jalan kepada kecintaan kepada Allah dan
keridhaan-Nya.
keridhaan-Nya serta pahala-Nya kecuali
dengan membenarkan apa yang dibawah oleh Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam
berupa al Qur an dan as Sunnah. Mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan
menjauhi larangan keduanya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam adalah beradab kepada beliau yaitu
sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata :
Adab yang paling tinggi terhadap Rasulullah adalah :
mempertentangkannya dengan khayalan bathil yang diistilahkan masuk akal. Atau
menolaknya dengan syubhat atau keraguan. Atau mengedepankan pendapat orang lain
dan sampah logika mereka diatas berita yang datang dari Rasulullah (Kitab
Madaarijus Saalikin).
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam adalah kewajiban setiap hamba sebagai
bukti mencintai Allah Ta’ala.
(991)







































