Azwir B. Chaniago
sebagian manusia ketika melakukan kebaikan atau amal shalih. Menurut
istilah riya’ adalah
bermakna : Memperlihatkan suatu ibadah atau amal shalih kepada orang lain,
bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan keinginan
untuk mendapat pujian atau penghargaan
dari orang lain.
yang riya’ adalah) : Ia melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala hanya ingin
mengambil perhatian orang lain dan agar mendapat nama di tengah tengah
masyarakat, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia bersedekah karena
ingin dikatakan dermawan, menyempunakan shalatnya agar orang mengatakan shalatnya
bagus dan lain lain. Seharusnya ibadah hanya untuk Allah akan tetapi
menginginkan dengan itu pujian dari orang lain. Mereka mendekatkan diri kepada
manusia dengan cara melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seperti inilah
yang disebut riya’. (Tafsir Juz ‘Amma).
membatalkan dan menghapuskan amalan seseorang. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman : ”Aku paling kaya,
tidak butuh tandingan dan sekutu. Barangsiapa beramal menyekutukan-Ku kepada
yang lain, maka Aku tinggalkan amalannya dan tandingannya” (H.R Imam Muslim).
: Sesungguhnya ikhlas dalam ibadah
sangat mulia. Amalan yang dipenuhi riya’ tidak diragukan lagi bagi seorang
muslim akan sia-sia belaka, tidak bernilai, dan tentu pelakunya berhak
mendapatkan murka dan balasan dari Allah Ta’ala.
Bahkan penyakit riya adalah sangat dikhawatirkan Rasulullah akan menimpa
umatnya. Beliau bersabda : ”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada
kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ”Apa yang dimaksud dengan
syirik kecil ?.” Rasulullah menjawab :
”Yaitu riya’. (H.R Imam Ahmad)
yang menimpa sahabat daripada fitnah Dajjal. Rasulullah bersabda : “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang
perkara yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal ?. Kami
(para sahabat) berkata : Tentu wahai Rasulullah. Beliau berkata : “Syirik yang samar yaitu seseorang berdiri
melakukan shalat lalu ia perindah shalatnya
karena dia tahu ada orang lain yang sedang melihatnya. (H.R Imam
Ahmad dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).
bahwa fitnah riya’ lebih ditakuti dari fitnah Dajjal, yaitu :
di dunia ini adalah fitnah Dajjal. Tetapi ketakutan Nabi terhadap fitnah syirik
yang samar ini (riya’) lebih besar daripada ketakutan beliau terhadap fitnah
Dajjal. Hal ini dikarenakan sangat sulitnya menghindarkan diri dari riya’.
(Majmu’Fatawa wa Rasail).
mengancam. (Mirqatul Mafatih).
berusaha menjauhkan diri dari perbuatan
riya’ mengingat bahayanya yang begitu besar. Insya Allah ada manfaatnya bagi
kita semua.





































