MURKA ?
Azwir B. Chaniago
adalah tersebab perbuatan mereka sendiri.
Allah Ta’ala telah mengingatkan manusia dalam firman-Nya : “Zhaharal fasaadu fil barri wal bahri bima
kasabat aidin naasi liyudziiqahum ba’dal ladzii ‘amiluu la’allahum yarji’uun”. Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Q.S. ar Rum 41.
Qayyim menjelaskan :
Bahwa yang dimaksud kerusakan dalam ayat ini adalah kekurangan, keburukan
dan bencana-bencana yang dimunculkan oleh Allah
di muka bumi akibat
perbuatan maksiat para hamba-Nya.
perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan
kesalahanmu). Q.S asy Syuura 30.
berkata : Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan
juga mendatangkan bencana atau musibah. Oleh karena itu hilangnya nikmat dari
seseorang adalah akibat dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah adalah
juga disebabkan dosa (al Jawabul Kafi).
Allah murka ?. Tidak, tidak selalu demikian, karena Allah Ta’ala Maha Pengasih
Maha Penyayang. Allah tidak akan pernah menzhalimi makhluknya.
Allah Ta’ala telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Nya dan mengharamkan pula
kepada manusia untuk berbuat zhalim. Allah berfirman : “Innallaha laa yazhlimu mitsqala
dzarrah.” Sungguh, Allah tidak akan menzhalimi seseorang walaupun sebesar
zarrah. (Q.S an Nisa’ 40).
Abu Dzar dari Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meriwayatkan dari
Rabbnya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : “Yaa ‘ibaadii innii haramtu zhulma ala
nafsii, wa ja’alatuhu bainahum muharramaa” Wahai sekalian hamba-Ku,
Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku dan mengharamkannya pada
kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi … (H.R Imam Muslim).
ayat dan hadits ini dapat kita mengambil faedah bahwa musibah musibah yang
datang kepada manusia dari dahulu sampai sekarang tidaklah sedikitpun bermakna
bahwa Allah Ta’ala menzhalimi hamba hamba-Nya. Tidak, tidak begitu. Sungguh
setiap musibah memiliki hikmah dan pelajaran sangat berharga bagi manusia yang
mau mengambil pelajaran.
Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahhullah pernah ditanya : Apakah musibah
itu tanda Allah murka ?. Beliau menjawab :
berfirman :
يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
tentang apa yang dikerjakan tetapi merekalah yang akan ditanya. (Q.S
al Anbiyaa’ 23).
baik musibah berat maupun ringan. Ini sebagai ujian, apakah ia bersabar ataukah
justru meradang dan tidak bisa menahan diri ?.
maka baginya keridhaan dan pahala dari Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang
tersulut marah maka ia pun mendapat murka-Nya. Ketika Allah Ta’ala menguji
hamba dengan ujian ujian ini, tidak kemudian berarti bahwa Allah murka
kepadanya.
yang dicintainya dan merasakan kepedihan. Sebagaimana beliau [un terluka pada
perang Uhud, hingga gigi beliau yang terletak antara gigi seri dan gigi taring
patah.
disebabkan murka Allah kepada beliau. Akan tetapi ini adalah ujian dari Allah
kepada beliau agar beliau mencapai derajat orang yang bersabar karena derajat
sabar begitu tinggi dan luhur. Dan ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan
ujian dan cobaan agar menjadi terang perihal seseorang sabar ataukah tidak
sabar.
maka sudah seharusnya dia berbaik sangka kepada Allah Ta’ala yaitu mempunyai
sikap husnuzhzhan kepada Allah. Janganlah ia berprasangka bahwa itu adalah
bentuk murka Allah kepadanya.
ditimpa musibah apapun maka dengan itu Allah Ta’ala akan menghapuskan dosanya.
Ini sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :
نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى
الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun
keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus
dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu. (H.R Imam Bukhari).
Allah Ta’ala atas musibah tersebut, yaitu pahala orang yang bersabar dan ia
mengharapkan bahwa Allah akan memberinya pahala atas hal tersebut maka ia pun akan
mendapatkan pahala yang lebih dari sekedar digugurkan dosa dosanya. (Fataawaa
Nuur ‘alaa ad Darb).
Wallahu A’lam. (785)




































