LARANGAN KERAS MENZHALIMI ANAK YATIM
Oleh :
Azwir B. Chaniago
Azwir B. Chaniago
Anak
yatim adalah anak-anak yang kehilangan
ayahnya karena meninggal sedang mereka belum mencapai usia baligh. Jika mereka
sudah baligh  tidaklah disebut lagi
sebagai anak yatim.
yatim adalah anak-anak yang kehilangan
ayahnya karena meninggal sedang mereka belum mencapai usia baligh. Jika mereka
sudah baligh  tidaklah disebut lagi
sebagai anak yatim.
Allah
dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk memuliakan anak yatim. Selain itu juga
melarang dengan keras melakukanÂ
kezhaliman terhadap mereka.
dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk memuliakan anak yatim. Selain itu juga
melarang dengan keras melakukanÂ
kezhaliman terhadap mereka.
Allah
Taâala berfirman : âFa ammal yatiima
falaa taqharâ Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang
wenang. (Q. S adh Dhuhaa 9).
Taâala berfirman : âFa ammal yatiima
falaa taqharâ Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang
wenang. (Q. S adh Dhuhaa 9).
Allah
Taâala berfirman : âAraital ladzii
yukadzibu biddiin. Fa dzaalikal ladzii yaduâul yatiimâ. Tahukah kamu orang
yang mendustakan agama ?. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. (Q.S al
Maa-uun 1-2).
Taâala berfirman : âAraital ladzii
yukadzibu biddiin. Fa dzaalikal ladzii yaduâul yatiimâ. Tahukah kamu orang
yang mendustakan agama ?. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. (Q.S al
Maa-uun 1-2).
Diantara kezhaliman yang bisa terjadi terhadap anak
yatim adalah memakan harta peninggalan orang tuanya atau menggunakan harta itu
dengan sewenang wenang. Allah Taâala mengingatkan
dengan firman-Nya : âWalaa taqrabuu
maalal yatiimi illa billatii ahsanu hatta yablugha asyuddahuuâ. Dan
janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. (Q.S al Anâam 152).
yatim adalah memakan harta peninggalan orang tuanya atau menggunakan harta itu
dengan sewenang wenang. Allah Taâala mengingatkan
dengan firman-Nya : âWalaa taqrabuu
maalal yatiimi illa billatii ahsanu hatta yablugha asyuddahuuâ. Dan
janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. (Q.S al Anâam 152).
Syaikh
as Saâdi berkata : Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, dengan memakan
atau menukarnya dengan bentuk yang menguntungkan kamu atau mengambil tanpa
sebab. Kecuali dengan cara yang menyebabkan harta mereka menjadi baik dan
mereka mendapatkan manfaatnya.
as Saâdi berkata : Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, dengan memakan
atau menukarnya dengan bentuk yang menguntungkan kamu atau mengambil tanpa
sebab. Kecuali dengan cara yang menyebabkan harta mereka menjadi baik dan
mereka mendapatkan manfaatnya.
Ini
menunjukkan tidak boleh mendekati dan mengurusi harta anak yatim dengan cara yang
akan merugikan anak anak yatim atau bentuk yang tidak membahayakan tapi juga
tidak membawa kebaikan. Hingga sampai anak yatim itu dewasa, lurus, tahu
mengatur harta.
menunjukkan tidak boleh mendekati dan mengurusi harta anak yatim dengan cara yang
akan merugikan anak anak yatim atau bentuk yang tidak membahayakan tapi juga
tidak membawa kebaikan. Hingga sampai anak yatim itu dewasa, lurus, tahu
mengatur harta.
Jika
dia telah dewasa maka hartanya diserahkan kepadanya. Dia mengatur hartanya
dengan pengawasan Wali. Firman Allah ini menunjukkan bahwa anak yatim sebelum
dewasa dan mampu mengatur harta, dicegah mengurusi harta. Walinya yang
mengurusi hartanya dengan cara yang lebih menguntungkan. Dan pencegahan itu
berakhir dengan kedewasaan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). Â
dia telah dewasa maka hartanya diserahkan kepadanya. Dia mengatur hartanya
dengan pengawasan Wali. Firman Allah ini menunjukkan bahwa anak yatim sebelum
dewasa dan mampu mengatur harta, dicegah mengurusi harta. Walinya yang
mengurusi hartanya dengan cara yang lebih menguntungkan. Dan pencegahan itu
berakhir dengan kedewasaan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). Â
Imam
adz Dzahabi menyebutkan bahwa memakan harta anak yatim secara zhalim adalah
termasuk dosa besar. Allah berfirman : âInnalladziina
yaâkuluuna amwaalal yataamaa zhulman innamaa yaâkuluun fii buthuunihim naaran
wa sayashlauna saâiiraaâ. Sesungguhnya orang orang yang memakan harta anak
yatim secara zhalim sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka
akan masuk kedalam api yang menyala nyala (neraka).Q.S an Nisaâ 10.
adz Dzahabi menyebutkan bahwa memakan harta anak yatim secara zhalim adalah
termasuk dosa besar. Allah berfirman : âInnalladziina
yaâkuluuna amwaalal yataamaa zhulman innamaa yaâkuluun fii buthuunihim naaran
wa sayashlauna saâiiraaâ. Sesungguhnya orang orang yang memakan harta anak
yatim secara zhalim sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka
akan masuk kedalam api yang menyala nyala (neraka).Q.S an Nisaâ 10.
Rasulullah
bersabda  : âJauhilah oleh kalian tujuh dosa dosa besar âĤâ Beliau
menyebutkan diantaranya adalah memakan harta anak yatim (Lihat Shahih Bukhari
dan Muslim).
bersabda  : âJauhilah oleh kalian tujuh dosa dosa besar âĤâ Beliau
menyebutkan diantaranya adalah memakan harta anak yatim (Lihat Shahih Bukhari
dan Muslim).
Setiap
wali (pengurus) anak yatim yang hidup serba kekurangan (miskin) maka ia tidak
berdosa apabila ia ikut makan dari harta anak yatim dengan cara yang maâruf
(lazim dan wajar). Apabila di luar batas kewajaran maka maka hukumnya menjadi
haram. Sedangkan yang dimaksud dengan cara yang maâruf disini harus disesuaikan
dengan kebiasaan yang berlaku pada umumnya orang orang beriman yang bersih dari
tujuan tujuan jahat. (Lihat Kitab al
Kaba-ir).Â
wali (pengurus) anak yatim yang hidup serba kekurangan (miskin) maka ia tidak
berdosa apabila ia ikut makan dari harta anak yatim dengan cara yang maâruf
(lazim dan wajar). Apabila di luar batas kewajaran maka maka hukumnya menjadi
haram. Sedangkan yang dimaksud dengan cara yang maâruf disini harus disesuaikan
dengan kebiasaan yang berlaku pada umumnya orang orang beriman yang bersih dari
tujuan tujuan jahat. (Lihat Kitab al
Kaba-ir).Â
Insya
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu Aâlam. (783)
Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu Aâlam. (783)
ADVERTISEMENT









