melaksanakan shalat fardhu lima kali sehari semalam. Ketahuilah bahwa keislaman seseorang tidak akan
tegak kecuali dengan mendirikan shalat
ayat dan hadits yang memerintahkan seorang hamba untuk mendirikan shalat.
Diantaranya adalah firman Allah : “Innash shalaata kaanat ‘alal mu’miniina
kitaaban mauquutaa” Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya bagi orang orang yang beriman. (Q.S an Nisa’ 103)
dihisab terhadap seorang hamba di
akhirat kelak. Rasulullah bersabda : “Awwalu maa yuhaasabu bihil ‘abdu yaumal
qiyaamatish shalatu, faiin shaluhat shaluha lahu saa-iru ‘amalihi wain fasadat
fasada saa-iru amalih” Pertama kali
yang akan dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalat. Jika
shalatnya baik maka baik pula seluruh amalannnya, jika shalatnya buruk maka
buruk pula seluruh amalannya. (H.R Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al
Albani).
orang yang mampu menghadirkan ke khusyu’an dalam shalatnya. Allah berfirman : “Qad aflahal mu’minuun, alladziina hum fii
shalaatihim khaasyi’uun” Sungguh beruntunglah orang orang yang beriman,
yaitu orang orang yang di dalam shalatnya khusyu’. (Q.S al Mukminun 1-2).
hal yang bisa merusak atau menghambat
kekhusyu-annya dalam melaksanakan shalat. Diantara penghambat khusyu’ dalam
shalat adalah :
saat mengantuk.
proses berkurangnya kontrol terhadap apa yang diucapkan dan yang dikerjakannya.
Oleh karena itu jika seorang hamba shalat pada saat mengantuk (berat) maka
terhambatlah dirinya dari ke khusyuk-an dalam shalat yang dia kerjakan.
‘alaihi Wasallam bersabda : “Apabila
salah seorang diantara kamu mengantuk sedang dia sedang shalat, hendaklah dia
tidur sampai sampai rasa mengantuknya hilang. Sesungguhnya apabila seorang
diantara kamu shalat sedangkan dia mengantuk, dia tidak tahu apakah dia minta
ampun lalu mencela dirinya sendiri”. (H.R Imam Bukhari).
na’asa ahadukum fishshalaati fal
yanam hattaa ya’lama maa yaqra-u”. Apabila seseorang di antara kalian
mengantuk di dalam shalatnya, maka hendaklah dia tidur sampai dia mengerti apa
yang dibacanya. (H.R Imam Bukhari dari Anas bin Malik).
dan tidak memahami bacaan shalat.
dia tidak mengerti, tidak memahami dan tidak mau menghayati apa yang sedang dia
baca dalam shalatnya. Keadaan ini terutama sekali karena tidak berilmu. Shalatnya seolah olah sekedar menghafal
bacaan dan ikut ikutan. Oleh sebab itu setiap hamba belajarlah tentang bacaan
shalat dan makna maknanya. Sungguh saat ini sangatlah banyak sarana yang memudahkan
seseorang untuk belajar.
sehingga bagi sebagian kita mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Tapi
ketahuilah bahwa makna sulit bukanlah tidak mungkin. Mintalah pertolongan
kepada Allah sehingga semuanya insya Allah menjadi mudah.
hati dan mata tidak fokus kepada shalat yang dikerjakan.
menghadirkan hati dan pikiran terhadap shalat yang sedang dikerjakan. Ketika
shalat, seseorang masih teringat ini dan itu yang tidak ada hubungan dengan
shalat. Bahkan masih terganggu oleh urusan dunia yang semestinya sudah harus
ditinggalkan pada melakukan shalat.
memelihara pandangan matanya yang
seharusnya diarahkan ke tempat sujud tapi melirik kesana kemari.
menengok (kesana kemari) dalam shalatnya. Rasulullah bersabda : “Itu curian syaithan atas shalat seseorang”.
(H.R Imam Bukhari).
dalam shalat sampai mengabaikan tuma’ninah.
buru dan tidak tuma’ninah dalam shalat akan terhambat dari kekhusyu-an dalam
shalatnya. Bahkan Rasulullah telah mengingatkan bahwa yang tidak tuma’ninah
disebut sebagai sejahat jahat pencuri dalam shalat.
Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aswa-unnasi
sariqatal ladzii yasriqu min shalaatihi. Qaaluu yaa rasulullahi, wa kaifa
yasriqu min shalaatihi ?. Qaala laa yutimmu rukuu’ahaa wa laa sujuudahaa”
: Sejahat jahat pencuri adalah orang
yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia
mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (Dia) tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’).
orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya atau tidak tuma’ninah, disebut Rasulullah sebagai pencuri dalam shalat. Ketahuilah bahwa
tuma’ninah adalah salah satu rukun shalat yang betul betul tidak boleh
diabaikan.
adalah tenang sejenak setelah semua anggota badan berada pada posisi sempurna
ketika melakukan suatu gerakan rukun shalat. Diantara makna lain dari tuma’ninah adalah memberikan hak kepada
setiap gerakan shalat secara sempurna.Tuma’ninah ketika rukuk berarti tenang
sejenak setelah rukuk sempurna. Tuma’ninah setelah i’tidal berarti tenang
sejenak pada saat i’tidal sebelum sujud. Tuma’ninah ketika sujud berarti tenang
sejenak setelah sujud sempurna dan juga harus tuma’ninah pada setiap
perpindahan satu gerakan kepada gerakan lain.
Rasulullah bersabda : “Afdhalush
shalaati thuulul qunuut” Sebaik baik shalat adalah yang lama berdirinya.
(H.R Imam Muslim).
berdiri.
untuk khusyu’ dalam shalatnya. Insya Allah bermanfaat bagi kita semua.






































