Azwir B. Chaniago
dalam banyak ayat bahwa al Qur an adalah petunjuk bagi manusia. Petunjuk untuk
keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat. Allah berfirman : “Syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil
qur-aan hudal linnaasi wa baiyinaatin minal hudaa wal furqaan”. (Beberapa
hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.S al
Baqarah 185).
menyebutkan secara khusus bahwa al Qur an, tidak ada keraguan di dalamnya,
adalah petunjuk bagi orang orang bertakwa. Allah berfirman : “Dzaalikal kitabu laa raiba fiihi hudal lil
muttaqiin”.Kitab (al Qur-an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa.
untuk mengikutinya yaitu sebagaimana firman-Nya : “Wa haadza kitaabun anzalnaahu mubaarakun fattabi’uuhu wattaquu
la’allakum turhamuun”. Dan ini adalah Kitab (al Qur an) yang Kami turunkan
dengan penuh berkah, ikutilah dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S
al An’am 155).
kedudukan paling utama al Qur an adalah sebagai petunjuk. Untuk mendapatkan
petunjuk yang lurus dari al Qur an tidak ada jalan terbaik kecuali berusaha
mempelajari dan memahaminya sehingga bisa melaksanakan perintah perintah Allah
melalui Rasul-Nya secara benar.
merupakan kebutuhan dan kewajiban seorang muslim untuk berusaha
mempelajari dan memahami ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya adalah
terutama untuk bisa mengamalkan dan mengajarkan sebagaimana yang disyariatkan yaitu dalam rangka taqarrub ilallah.
dan memahami al Qur-an, diantaranya adalah :
tafsir al Qur–an yang ditulis oleh para ulama yang mumpuni ilmunya. Diantaranya adalah
kitab tafsir ath Thabari, tafsir al Qurthubi, tafsir Ibu Katsir, tafsir as
Sa’di, tafsir al Mulyasar dan yang lainnya.
Berusaha memahami dan menghayati sedikit demi sedikit indikasi ayat.
Qudamah al Maqdisi berkata: “Selayaknya
seseorang yang membaca al-Qur–an mempelajari
maknanya yang benar dan berusaha memahaminya secara bertahap.”
dan sangat dianjurkan adalah dengan menghadiri
majlis-majlis ilmu tentang tafsir al Qur–an. Ini salah satu cara yang effektif tapi butuh waktu lama dan tentu harus ditopang
dengan kesungguh sungguh, sikap
sabar, istiqamah serta dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
yang dimaksud adalah mengenai dirinya.
bagi orang yang ingin memperoleh manfaat dari bacaan al Qur–an agar menjadikan ayat ayat al Qur–an sebagai
perkataan yang ditujukan kepada dirinya. Dan agar menetapkan bahwa
dirinyalah yang dimaksud oleh semua ayat dalam Al-Qur–an (Imam al Qasimi, Adab Tilawatil Qur’an).
mendengar atau membaca ayat tentang celaan, tidak mensucikan diri atau
ayat-ayat pujian, vonislah bahwa ayat itu untuk diri kita.
Aqil berkata : Engkau
mendengar firman Allah, “Wujuhui
yaumaizin nadhirah.” Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(Q.S. al Qiyamah 22).
bergembira karenanya, seolah-olah pada dirimu ayat ini turun. Tapi ketika
mendengar ayat : “Wa wujuhui yaumaizin bashirah”. Dan wajah-wajah (orang
kafir) pada hari itu muram. (Q.S. al Qiyamah 24).
merasa tenang saja bahwa ayat ini turun bukan ditujukan kepadamu. Dari mana
engkau mengetahui kepastian tentang hal ini.
Rabbmu.
jika seorang yang membaca Al-Qur–an menghayati hal ini, tentu akan
berusaha memahami maknanya guna mengambil manfaat
dari yang dibaca.
Ibnul Qayyim berkata: Jika engkau ingin
memperoleh manfaat dari al-Qur–an maka
fokuskan hatimu ketika membaca atau mendengarnya . Sesungguhnya yang engkau baca
atau yang engkau dengar itu adalah ucapan Allah kepadamu melalui lisan
RasulNya.
dengan diringkas).
dan keselamatan hati dari penyakit.
makna ayat al Qur–an haruslah
ditopang dengan keadaan hati yang bersih, ikhlas dan hati yang terbebas dari
berbagai penyakit.
Islam Ibnu Taimiyah memberikan sentuhan makna yang indah terhadap firman Allah : “La yamassuhu,
illal muthahharun.” Tidak menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan (Q.S. al Waqiah 79)
Syaikhul Islam berkata : Jika
lembarannya (mushaf) tidak disentuh kecuali oleh orang-orang yang disucikan,
maka makna-maknanya tidaklah menjadi hidayah kecuali bagi hati yang bersih.
Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai ahlul Qur–an. Yaitu orang yang selalu melaksanakan kewajibannya terhadap al Qur–an, dengan membaca, mempelajari, mengamalkan dan
mengajarkannya sesuai kemampuan yang di anugerahkan Allah Ta’ala kepada
kita. Dengan demikian kita akan disebut
pengemban al Qur-an dan ita berharap
agar pada hari Kiamat kelak al Qur–an akan datang kepada kita untuk memberi syafa’at
dihadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
dengan ahlul Qur–an (pengemban al-Qur–an), Abdullah bin Mas’ud berkata : Para pengemban al Qur’an harus bisa dikenali : (1) Saat malam
hari, ketika manusia tertidur lelap , dia bangun. (2) Pada
siang hari ketika manusia berbuka , dia berpuasa. (3) Dengan tangisnya ketika manusia tertawa (4) Dengan kehati-hatian nya ketika manusia mencampur halal
dan haram (5) Dengan diamnya
ketika manusia larut dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat. (6) Dengan
kekhusyu’annya ketika manusia bersikap angkuh. (7) Dengan
kesedihannya ketika manusia bersuka cita.
semua. Wallahu A’lam (501)





































