Azwir B. Chaniago
enak, sakit atau kurang fit maka dia akan bergegas pergi ke dokter untuk
berobat meskipun terkadang harus mengeluarkan biaya yang banyak. Ini tentu merupakan
sesuatu yang baik dan sangat dianjurkan.
yang bisa sakit. Hatipun juga bisa mengalami berbagai macam penyakit dan
umumnya lebih berbahaya daripada penyakit fisik atau badan. Namun jika seseorang memiliki hati yang sakit
terkadang dia tidak menyadarinya sehingga tidak berusaha untuk mengobatinya.
lebih keras dari batu. Allah berfirman : “Syumma kasat quluubukum min ba’di dzaalika
fahiyakal hijaarati au asyaddu qaswah”. Kemudian setelah itu hatimu menjadi
keras sehingga (hatimu seperti batu,
bahkan lebih keras (dari batu) Q.S al
Baqarah 74.
maka akan memberikan pengaruh buruk yang
sangat kuat pada dirinya bahkan bisa jadi bagi orang orang disekitarnya. Ketahuilah bahwa hati ibarat penguasa dalam tubuh manusia. Abu
Hurairah mengatakan bahwa hati adalah ibarat raja sedangkan anggota badan
ibarat pasukannya. Apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya.
wassalam mengingatkan kita dalam sabda
beliau : “Alla wa inna fil jasadi
mudghah, idza shalahat, shalahat jasadu kulluh. Wa idza fasadat, fasadal jasadu
kulluh. Alaa wa hiyal qalb.” Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal
daging. Apabila ia baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia
buruk maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah dia itu adalah hati. (H.R Imam
Bukhari dan Imam Muslim).
ibadah
keras adalah jika seseorang itu malas beribadah. Pada hal beribadah adalah kewajiban yang diperintahkan Allah kepada
para hamba hamba-Nya. Allah berfirman : “Wa
maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun”. Tidaklah Aku menciptakan
jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzaariat
56).
shalat. Orang yang hatinya keras maka dia mengerjakan shalat sekedar rutinitas.
Bahkan terkadang dia merasa memikul beban berat yang ingin segera
dilepaskannya. Allah Ta’ala mensifati salah satu tipe manusia yang hatinya keras yaitu orang munafik
sebagaimana dimaksud dalam firman-Nya : “Wa
idzaa qaamuu ilash shalawaati qaamuu kusaalaa”.
Dan apabila mereka (orang munafik) berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas (Q.S an Nisa’ 142).
keras adalah dia lalai dan berat untuk mendengarkan bacaan al Qur-an, padahal
Allah Ta’ala berfirman : “Fa dzakkir bil
qur-aani man yakhaafu wa ‘iid”. Maka berilah peringatan dengan al Qur-an
kepada siapapun yang takut kepada ancaman-Ku. (Q.S Qaf 45)
dan hatinya lembut maka jika disebut nama Allah hatinya akan tersentuh bahkan
bergetar dan bila dibacakan ayat al
Qur-an akan menambah keimanannya. Sungguh Allah berfirman : “Innamal mu’minuunal ladziina idzaa
dzukirallahu wa jilat quluubuhum, wa idzaa tuliyat ‘alaihim ayaatuhu zaadathum iimaanan
wa ‘alaa rabbihim yatawakkaluun” (Q.S al Anfaal 2).
tidak tenteram.
keras adalah dia tidak merasakan ketentraman dan kenyamanan dalam
hidupnya. Terkadang secara zhahir dia
kelihatan sangat happy dalam menjalani hidup ini tapi ketahuilah bahwa itu
semuanya adalah semu dan tidak memiliki hakikat.
berkata : Saya berusaha meneliti suatu hal yang dicari oleh semua orang.
Ternyata saya tidak mendapatinya kecuali satu perkara saja yaitu ketenteraman
dan hilangnya kegelisahan.
dalam hidup tidak akan dirasakan oleh seorang yang memiliki hati yang keras,
karena mereka malas melakukan amal amal shalih.
wa huwa mu’minun, fa lanuhyiyannahu hayaatan thaiyibah. Wa lanajziyannahum
ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun” . Barangsiapa mengerjakan amal
shalih, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya
akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahl
97).
keras adalah dia tidak tersentuh dengan musibah, bencana alam bahkan tidak
tersentuh hatinya melihat orang mati. Pada hal semuanya itu adalah peringatan
bagi manusia dan merupakan sebagian dari ayat ayat kauniah. Melihat musibah, bencana alam dan kematian
diantara orang orang memiliki hati yang keras akan berkata : ”Semua itu adalah
fenomena alam. Bencana alam dan musibah bahkan orang mati dari dulu juga sudah ada”.
yang hatinya lembut maka musibah, bencana dan kematian dijadikan sebagai
pelajaran dan introspeksi bagi dirinya. Bahkan dijadikan sebagai motivasi untuk
banyak beristighfar, minta ampun kepada Allah Ta’ala.
hatinya keras ini, Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya : “Fa lau laa idz jaa-ahum ba’sunaa
tadharra’uu wa lakin qasat quluubuhum wa zaiyana lahumusy syaithaanu maa kaanuu
ya’maluun”. Maka mengapa mereka
tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri ketika datang
siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras. Dan
syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka
kerjakan. (Q.S al An’am 43).
adalah dia menyibukkan diri dengan urusan dunia, mengejar harta dunia dengan
segala perhiasannya. Lalu mereka lalai dalam mencari kebahagiaan akhirat yang
abadi.
memperingatkan agar manusia memilih dan mengutamakan kehidupan akhirat yang
pasti lebih baik. Allah Ta’ala berfirman : “Bal
tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa. Wal aakhiratu khairun wa abqaa” Tetapi kamu (orang orang kafir) memilih
kehidupan dunia. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal
(Q.S al A’la 16-17).
hati yang keras, diantaranya adalah apa yang diajarkan oleh ‘Aisyah Radiallahu
anha yaitu :
kepada ‘Aisyah dan minta nasehat : Ya Ummul mukminin, sesungguhnya aku memiliki
penyakit. Adakah engkau memiliki obatnya. Lalu ‘Aisyah berkata : Apa
penyakitmu. Lalu dijawab : Hatiku keras. Kata ‘Aisyah itu adalah seburuk buruk
penyakit.
untuk orang ini dengan tiga macam obat :
Sering-seringlah engkau mengunjungi orang sakit.
Sering-seringlah engkau mengantarkan jenazah ke kubur dan perhatikan bagaimana
jenazah dimasukkan ke dalam kuburnya.
Sering-seringlah engkau mengingat kematian.
A’lam. (377)






































