memasukkan pujian atau memuji sebagai salah satu bahaya
lisan. Sungguh pujian itu bisa membahayakan bagi yang menerima pujian.
Itulah sebabnya para ulama ulama yang mumpuni ilmunya tidak suka dengan pujian.
terbebas dari berbagai pujian dari orang lain. Pujian ini jika tidak disikapi
dengan bijak tentu bisa mendatangkan mudharat bagi diri kita.
sengaja atau tidak setiap pujian bisa berdampak buruk kepada keikhlasan.
Seseorang yang sangat senang dipuji biasanya akan sulit mencapai ikhlas dalam
amalnya.
berbagai pujian, diantaranya :
mulia. Kalaupun akan mendatangkan kemuliaan, itu adalah semu dan sangat
sementara. Kemuliaan tidaklah datang bersama pujian tapi kemuliaan itu datang
dengan ketakwaan. Allah berfirman : “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum” Sesungguhnya
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
(Q.S al Hujurat 13).
yang memuji tidak mengetahui semua
keadaan dirinya. Apalagi yang ada didalam hatinya. Orang yang memuji biasanya
hanya melihat photo atau gambaran sesaat tidak melihat video sebagai gambaran
keseluruhan. Jika orang yang memuji mengetahui seluruh keadaan orang yang
dipuji tentulah dia tidak akan mau memberi pujian.
haruslah disikapi secara proporsional, dengan bijak sehingga selamat dari
perasaan ujub ataupun perasaan sombong. Selain itu seorang yang dipuji bisa
jadi merasa sudah hebat, sudah merasa lebih baik dari orang lain. Ini bisa jadi
akan melemahkan semangatnya untuk mencapai
prestasi berikutnya baik dalam ilmu, amal dan yang lainnya.
ulama terdahulu jika mereka dipuji, diantaranya adalah :
“Apakah engkau akan merusak aku dan merusak dirimu ?.
dipuji seseorang beliau berdoa : “Ya Allah, ampunilah diriku karena sesuatu
yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah diriku lebih baik daripada yang mereka
sangka”
yang sadar siapa dirinya. Seorang shalih jika dipuji, maka ia berkata : “Ya
Allah, mereka tidak mengenal diriku, sedangkan Engkau Mahamengetahui tentang
diriku”.
dari pujian manusia.






































