– Karena sudah mulai libur sekolah, kami pun kembali berduaan di rumah.
Keke dan Nai memilih menginap di rumah neneknya. Nah, enaknya ngapain
saat berduaan di malam minggu?
Kan, katanya viral sampai rame banget.”
buat cari makan. Prinsip kami, “kalau masih ada resto yang sepi, ngapain
juga harus antre”. 😂
mau suami makan kayak gitu hehehe. Bukan anti makanan kaki lima,
lho. Dia cuma gak mau makan lesehan di pinggir jalan. Kalau duduk
di dalam tenda masih mau atau bungkus sekalian. Nai pun persiiis kayak
begini.
Berduaan ala
muda-mudi. Kembali berpacaran hehehe …
delapan malam.
katanya dari sebelum pukul 5 sore udah antre. Pedagangnya aja masih
beberes, udah ramai pembeli.
Kami lihat gak perlu antre, Makanya kami pun memutuskan untuk makan di
Nasi Uduk OK.
Pas banget masih dapat 2 bangku kosong di
dalam tenda. Gak jadi deh ngebungkus. Lumayan lah gak perlu cuci piring
kalau makannya di tempat hehehe.
orang pada berdiri itu, ya
yang digoreng. Karena udah sehari sebelumnya baru makan ayam bakar.
Suami memesan ati ampela goreng. Untuk nasinya dan minumnya, kami
sama-sama memilih nasi uduk dan es teh manis.
nama pemesannnya, tinggal menunggu makanan dan minumannya diantar ke
meja.
untuk menunggunya lumayan lama. Kayaknya ada sekitar 20-30 menitan.
Padahal biasanya kalau makan ayam goreng atau pecel lele di kaki lima
lainnya gak selama itu. Gimana kalau suasananya lagi rame banget, ya?
Harus berapa lama menunggunya?
aneh. Tetapi, menurut saya, suara pengamen saat sedang bernyanyi ini
juga yang bikin makanan agak lama datangnya.
memanggil nama pemesan. Suara para pramusaji ini seringkali tenggelam.
Kalah keras dengan suara nyanyian pengamen. Makanya terkadang makanan
gak bisa segera datang ke pemesan.
nama pemesan. Suaranya memang seringkali kalah dengan volume nyanyian
pengamen. Setelah kami mendengar dengan saksama, ternyata nama Murti
yang dari tadi dipanggil. Entah itu mbak Murti duduk di sebelah mana.
Karena masih pramusajinya berkeliling beberapa menit sampai kami gak
perhatiin lagi.
tangan. Karena cuma disediakan 1, jadinya lumayan panjang antrean yang
mau mencuci tangan. Saya bergantian dengan suami. Supaya tempat duduk
kami gak diambil orang lain.
pramusaji yang beresin meja! Setiap kali ada yang selesai makan, piring
dan gelasnya dibiarin aja gitu tetap di meja.
piring, gelas, hingga tissue bekas pembeli sebelumnya. Tetapi, gak
dilakukan, tuh. Meja pun gak dilap sama sekali. Pramusajinya hanya
menaruh makanan dan minuman.
Abisnya gak enak banget makan dengan piring dan gelas kotor di depan
mata. Penting banget bawa hand sanitizer dan tissue basah kalau makan di
sini. Ya buat ngelap-ngelap meja, naro bekas makan orang lain, dan
bersihin tangan lagi. Meskipun di setiap meja disediakan tissue.
sebelumnya gak diangkat juga, lho. Sampai suami bilang, “Ini kalau yang
makan lagi banyak banget, sampah di sekitaran meja bakal berserakan
kali, ya?”
gorengnya. Tekstur luarnya berasa garing dan gak terlalu berminyak.
Jadi, gak berasa kayak makan minyak. Tapi, rasa dagingnya biasa aja.
Mungkin karena saya dapatnya dada ayam. Dagingnya kan lumayan
tebel.
Jadi kayaknya lain kali kalau ke sana lagi, saya mau cobain pilih paha.
Mungkin bisa lebih meresap sampai ke daging.
kami, di penjual kaki lima lain yang menyajikan menu seperti ini juga
banyak yang rasanya mirip. Tanpa kami perlu antre lama membelinya.
sambal yang menjadi pembeda.
setuju. Tetapi, menurut saya lebih cocok disebut saus kacang. Karena
gak ada rasa pedasnya sama sekali.
berasa pedas dan asin. Memang kedua sambal ini harus digabungin kalau
mau dapat rasa sambal kacang yang pedas.
uduknya. Nasinya lumayan ngeprul. Santannya berasa, tapi dengan
takaran yang pas. Gak bikin enek.
santannya kebanyakan atau malah gak berasa sama sekali. Kalau di Nasi
Uduk OK, cocok dengan selera kami.
Untuk nasi dan minum boleh nambah 1x. Tapi, hanya untuk makan di
tempat, ya. Kami gak nambah nasi. Porsinya udah cukup mengenyangkan.
Lagian nambah nasi kalau sambalnya udah abis mah gak puaaaas.
Nanti berasa ada yang kurang hehehe.
ada satupun tempat sambal di meja. Jadi kayaknya harus datang ke meja
pemesanan kalau mau nambah sambal. Ya, males deh saya kalau harus jalan
dulu.
mengurangi mengobrol ketika makan di luar. Fokus ke makan dan minum
aja.
ramai. Bahkan semakin ramai. Alas-alas buat makan di emperan pun
ditambah karena pembeli berdatangan dan mulai terjadi antrean panjang.
Saatnya kami cabuuuut …!
semua orang, gelas es tehnya pada gede-gede. Kenapa cuma kita berdua
doang yang dikasih gelas plastik dengan ukuran lebih kecil?”
Jadinya dikasih gelas kecil.”
Zomato. Lha, beberapa netizen bilang kalau ukuran gelas es teh manisnya
jumbo. Bahkan ada yang bilang sampai kembung.
udah berasa kenyang. Boro-boro pengen nambah lagi. Tapi, masih penasaran
aja. Kenapa kami berbeda? Huahahaha!
memang sedang beruntung karena saat lewat sana sedang gak ramai.
😊
gak tau apakah harga segitu standar makanan kaki lima atau enggak.
Karena belum pernah makan nasi uduk kaki lima lagi sejak pandemi. Jadi
ceritanya ini pengalaman pertama lagi.
terlihat jadul untuk pembayaran. Tetapi, bayarnya harus tunai, ya. Saya
gak melihat bisa membayar pakai kartu debit.
komputer. Apakah itu mesin EDC? Saya kurang yakin, tetapi memang gak
merhatiin juga waktu itu. Hanya yang saya lihat memang pada bayarnya
pakai uang tunai.
lupa nomor berapa. Pokoknya sederetan sama BCA. Lagipula hanya Nasi Uduk
OK ini yang pembelinya sampai luber ke emperan.
makanan kaki lima, tetapi bukanya sore ke malam hari. Karena kalau
siang, kan, areanya dipakai sama ruko.
Nasi Uduk OK
Jl. Paus No.1, Rawamangun
Jakarta Timur
Open hours 16.00 – 23.00 WIB (sebaiknya datang sekitar pukul 5 sore atau menjelang Maghgrib. Biasanya pukul 4 penjualnya masih beberes)
Ph: 081806663067






































