Bagaimana modul pemasaran wisata Indonesia dalam mempromosikan “local, native, indigenous & authentic” tanpa menggunakan kata-kata “local & original“
Jawabannya :
1. Pertama, mengangkat beragam kekayaan seni dapur masakan dari 1334 suku, sub suku dan etnis pendatang.
2. Kedua, memberi nama produk & kisah (cerita) makanan dari seni dapur masakan lokasi destinasi itu.
3. Ketiga, memperkenalkan & mempromosikan pemasak (profesional & otodidak) daerah yang membuatnya.
4. Keempat, mengandalkan keberagaman kekayaan rempah dalam bumbu masakan seni dapur masakan Indonesia.
Perlu diingat keberagaman kekayaan rempah negeri ini bisa menjadi nilai tambah selain bingkai “local, native, indigenous & authentic” makanan setempat.
Artinya, menampilkan bumbu rempah makanan yang fresh dan bukan bumbu rempah instan yang nota bene ada bahan pengawet dengan dengan produk kimianya.
Untuk diketahui, wisatawan manca negara menyukai bumbu rempah alami (go nature) dan ada keinginan tau mereka terhadap cerita sejarah dari kekayaan rempah-rempah tersebut.
Apalagi sudah menjadi kebiasaan Chef-Chef di barat tidak pernah memasak dengan bumbu jadi dan mereka anti dengan bumbu instan.
Mereka ingin membuat dan meracik bumbu mereka sendiri, bahkan untuk membuat kaldu pun tidak pakai penyedap rasa tapi dibuat dari kaldu sari tulang-tulang ayam atau sapi.
Isyu ini akan menjadi tolak ukur dari masyarakat barat terhadap promosi dan pemasaran wisata berkelanjutan Indonesia.
Selain itu, promosi bumbu rempah makanan ini akan menjadi istimewa dan berbeda dari wisata negara lain manalagi jalur rempah Indonesia sudah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari Badan PBB untuk urusan Pendidikan, Sosial, dan Budaya (UNESCO).
Ini penting mengingat jalur rempah bisa membuka peluang promosi kekayaan Nusantara di kancah global.
Sampai sekarang, jalur rempah Indonesia masih belum dikenal luas dunia dan makanan Indonesia belum banyak yang diketahui secara global.
Oleh karena itu promosi dan pemasaran wisata untuk “local, native, indigenous & authentic” makanan Indonesia akan berhasil dengan cara mengangkat jalur rempah Indonesia ke dunia international, yakni dengan memperlihatkan keaslian dari kekayaan rempah-rempah yang ada.
Jadi yang kita perlu tunjukkan makanan Indonesia melalui keberagaman rempah-rempah negeri ini karena pada dasarnya makanan Indonesia kaya akan penggunaan bumbu rempah.
Lagi pula dengan adanya pandemi Covid-19, semua orang di dunia akan lebih memilih makanan organik yang alami dan bukan dengan bumbu jadi (instan).
Sekarang semua orang akan memiilih go natural, go green, dan makanan dari alam serta bio food sangat laku di Eropa serta menjadi tren setelah pasca Covid-19.
Disamping itu terhadap bumbu-bumbu rempah ini sudah saatnya distandarkan oleh pemerintah; seperti ada standar bumbu rendang, bumbu nasi goreng, bumbu soto ayam dan lain sebagainya untuk dijadikan standar nasional Indonesia.
Saat ini semua perusahaan berlomba-lomba membuat bumbunya sendiri. Belum lagi bumbu-bumbu yang dibuat secara artisanal oleh UKM-UKM di daerah.
Terkecuali bumbu yang dibuat itu adalah bumbu artisanal tanpa bahan kimia, tanpa bahan pengawet dan alami serta dibuat secara tradisi, ini bisa diterima semua pihak di barat.
Kalaupun memang susah untuk membawa & menampilkan rempah-rempah fresh ke luar negeri, bisa dibuat dalam kemasan bubuk tetapi natural alami tidak ditambah bahan-bahan kimia atau pengawet.
INTERPRETASI WISATA INDONESIA
Oleh karena itu, interpretasi pertama dari pencerahan di atas adalah setiap tujuan lokasi destinasi Indonesia yang akan dipasarkan harus mampu mengangkat seni dapur masakan yang “local, native, indigenous & authentic“, lengkap dengan kisah (cerita) makanannya.
Pengertiannya bukan memasarkan atau mengandalkan makanan yang sama dengan destinasi lain, bahkan yang mempunyai kesamaan dengan negara tetangga.
Lebih-lebih lagi setiap tujuan lokasi memiliki kekayaan & keberagaman seni dapur masakan yang berbeda dengan destinasi lain.
Kedua, interpretasi kedua dari pencerahan di atas, setiap promosi lokasi destinasi Indonesia harus mengandalkan keberagaman kekayaan rempah dalam bumbu masakan mereka yang bisa menjadi nilai tambah selain bingkai “local, native, indigenous & authentic” makanan setempat.
Terakhir, memperkenalkan & mempromosikan pemasak (profesional & otodidak) yang membuat “local, native, indigenous & authentic” makanan tersebut.
Selain keberagaman kekayaan seni dapur masakan tersebut, nilai tambah lain yang bisa diangkat adalah dengan memperkenalkan kisah (cerita) kekayaan keberagaman tradisi acara kuliner Indonesia, antara lain :
1. Tradisi masakan Bali, masakan Banten & Sunda, masakan Betawi, masakan Jawa, masakan Kalimantan, masakan Minangkabau, masakan Aceh, masakan Karo, masakan Batak dan lain sebagainya.
2. Tradisi makan bersama di Indonesia yang beragam asalnya seperti Banten (Babancakan), Minangkabau (Bajamba), Kutai (Baseprah), Bali (Megibung), Sunda (Bancakan, Botram, Ngaliwet), Palembang (Ngobeng) dan sebagainya.
3. Tradisisi minum teh di Indonesia yang beragam asalnya seperti dari Jawa (Teh Poci), Sunda (Nyaneut), Karaton Yogyakarta (Patehan) dan Betawi (Nyahi)
PENUTUP
Pada kenyatannya hampir semua daerah di Indonesia mengadaptasi keberagaman masakan daerah lain, tapi yang benar-benar unik dan asli sulit ditiru di tempat lain, sehingga perlu melakukan perjalanan ke asal makanan tersebut untuk menemukan “hal yang nyata.”
Pecinta makanan bisa mendapatkan makanan Aceh atau masakan Sunda di mana saja, tetapi akankah merasakan hal yang sama di daerah lain dengan yang mereka nikmati di daerah asalnya ?
Pastinya tidak, karena mereka tidak merasakan rasa dan suasana tempat yang sama yang tidak dapat ditiru di tempat lain. Apalagi kalau sudah bicara soal bumbu rempah “local, native, indigenous & authentic” dari makanan tersebut.
Teristimewa jika bicara soal yang mengolahnya, mereka ingin mencicipi dari pemasak yang asli. Banyak wisatawan manca negara maupun Nusantara tergugah ingin melihat sekilas siapa yang memasak dan bagaimana tentang kisah kehidupan dan keluarganya
Banyak kuliner Indonesia memiliki pengalaman yang unik dan berkesan sehingga akan memikat pengunjung datang kembali.
Sehingga keberagaman dan keunikan kuliner di masing-masing daerah akan dapat membantu meningkatkan kekuatan makanan dalam pariwisata Indonesia menuju kesuksesan di masa depan
Inilah yang dimaksud dengan “local, native, indigenous & authentic” dari masing-masing makanan lokasi destinasi itu dengan mengandalkan kisah (cerita) serta keberagaman kekayaan rempah dalam bumbu masakan mereka.
Disinilah nilai jual wisata keberlanjutan baru Indonesia nantinya setelah pasca Covid-19.
Jakarta, 2 Juni 2020
IndraKarona Ketaren
Indonesian Gastronomy Association (IGA)