
yang mereview film La La Land ini
bagus maka yang lain harus ikutan setuju untuk mengatakannya bagus juga?
Sebaiknya tidak, karena setiap orang memiliki kesannya masing-masing. But hey,
this is Indonesia … everything
hype is a (new) worship.
sudah banyak membaca tentang review
dan komentar-komentar positif tentang film La La Land aku malah jadi agak
kecewa ketika menontonnya. Gini doang? Serius nih, gini doang?
yang berfikir kisah cinta Mia Dolan dan Sebastian terlalu naif untuk zaman
sekarang? . Ketika 2 orang bertemu untuk pertama kalinya and think they are meant for each other, please … Apa kabar
kekasih yang sebelumnya, orang yang ditampilkan dengan membosankan meski ia bersedia
menerima segala kekurangan Mia, ehm … lebih dulu dari Sebastian.
akan menjawab ‘because love is blind’,
yang kemudian akan ditanggap Sebastian dengan ‘yes, love is blinded’,
saking butanya si masnya nggak kelihatan ya?
terlihat seperti FTV.
pemeran utama bertemu, mantan hanyalah figuran semata.
melewatkan scene (yang katanya)
adalah scene terbaper di film La La
Land, scene angan-angan Mia dan
Sebastian di dalam hati. Scene semacam
expectation vs reality ini terlalu biasa untuk film sekelas La La Land. Mana
klimaksnya?
pikir La La Land adalah the new (500)
Days of Summer. Tapi tidak.
menarik secara visual, namun tidak menarik dari segi cerita. Dramatic tone color yang so Hollywood ini sangat memukau,
komposisi angle yang apik, editing scene yang rapi dan musik yang
(ah … ini sih tidak perlu dikomentari lagi) amazing.
La Land memang menjual mimpi. Jangan salahkan panitia Oscar yang membuat gimmick keliru memberi amplop kepada host, it’s too good to be true kalau La La Land sampai memenangkan piala
Oscar untuk film terbaik. Aku sendiri lebih suka menyebut La La Land sebagai
film terindah di tahun 2016 ketimbang film terbaik.
adalah film yang indah, tapi tidak membuatku jatuh hati. Perlu lebih dari
sekedar indah untuk membuat jatuh hati bukan?









































