
Jadilah kami langsung bertolak ke Leidsplein, lokasi hostel kami berada. Hari pertama sampai hostel kami ngga kemana-mana. Cuma ke dapur hostel masak indomie goreng, makan siang lalu langsung tidur semalaman karena masih jetlag. Barulah hari kedua, kami mulai keluar. Merasakan dinginnya Amsterdam (Agustus harusnya masih summer tapi suhu udara mencapai 12 derajat) dengan balutan windbreaker saja. Ngga nyangka bakal sedingin ini. Waktu siang di sini juga mencapai 15 jam. Bayangin jam 6 sore saya pasti udah ngantuk berat karena masih jetlagย dan matahari lagi terang-terangnya sampai jam 8 malam.
Dari dua hari puter-puter Amsterdam (jalan kaki) kami mencoba menafsirkan kayak apa sih kota yang super sibuk dan ramai turis ini. Kenapa cuma dua hari kami eksplor Amsterdam? Karena di hari pertama kami fully energy charging, dan hari ketiga kami langsung cao ke Utrecht. Saya nulis ini sambil gegulingan di kasur, di kompleks perumahan Utrecht yang sepi dan damai. Karena meskipun saya menginap di daerah pinggiran Amsterdam, tetep aja rame dan berisik jadi ngga bisa lebih santai menikmati hari. Dan ini lah Amsterdam dalam penafsiran kami.
Sepeda
Sepertinya semua orang pakai sepeda. Kalau di Jakarta motor adalah raja, di sini sepeda. Mereka pun punya jalan khusus yang lebarnya kadang ngga kalah sama lebar jalur mobil. Kita sebagai pejalan kaki pun ngga boleh lewat di jalur sepeda, bisa disemprot sama pengendara sepeda yang ngebut nya suka kalang kabut kayak kejar setoran. Ngga sekali dua kali terkadang kami ngga sengaja masuk ke jalur sepeda dan hampir mau ditabrak. Dasar turis!

Sungai dan Jembatan
Inget dulu gimana terpesonanya sama Sungai Melaka, sekarang kami nemuin tempat yang lebih kece lagi. Emang hal-hal yang berbau air (seperti pantai, sungai, air terjun, aquarium) selalu bikin romantis, sama lah kayak bintang aku Aquarius, romantis dan melankolis!
Amsterdam dikelilingi oleh banyak kanal dan dihubungkan dengan beratus-ratus jembatan. Ngga perlu tutup hidung kalau jalan dipinggiran sungai, karena air nya bersih dan tidak berbau. Banyak bebek liar dan sejenis burung-burung sungai yang hidup di sana. Karena tempatnya yang romantis ini, banyak berjejeran cafe dan restaurant. Hostel kami sendiri terletak persis di pinggir sungai (Manixstraat).ย

Kincir Angin
Kenapa Belanda disebut negeri kincir angin? Karena memang banyak kincir anginnya *ngga hobi banget baca sejarah*. Dari baca-baca di mbah google negeri ini sangatlah kecil dan berada di bawah permukaan air laut, oleh karena nya adanya kincir angin akan mengeringkan air laut sehingga permukaan tanahnya semakin lebar. Oiya, yang perlu diinget di Belanda air itu gratis, tapi pipis bayar. Air keran lebih tawar dan segar dibandingkan dengan air botolan. Jarang banget ditemui air botol kecuali mineral soda. Sekali pipis di toilet umum rata-rata 50-70 sen, yang harganya sama dengan 500ml mineral soda. Karena saya sendiri males masuk museum kincir angin, jadi saya cerita tentang pipis di Zaanse Schans kan.ย

Sepatu Bakiak


Semakin malam, pukul 23:48 sekarang. Setelah seharian cuma hangout di Lombok area Utrecht, saatnya mengisi tenaga untuk petualangan seru besok ke Slot Zuylen. Karena dua hari kemarin benar-benar santai ngga kemana-mana. Mari mengejar mimpi!











