
Demikian disampaikan Dr. Aulia Rizka, SpPD disela-sela diskusi bertema “Kualitas Hidup Lansia Tanggung Jawab Bersama” dengan sub tema “Perawatan Geriatri Secara Menyeluruh” di RSU Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/10).
Namun Aulia mengingatkan kendati berwisata juga penting buat kaum lansia, tetap harus diseuaikan dengan kondisi fisik dan kesehatannya. “Pilihlah wisata yang ringan namun menyenangkan serta disukai mereka,” imbaunya.
Dengan kata lain ada jenis wisata yang sesuai untuk para lansia. “Kalau kondisi fisiknya masih bisa berjalan dengan baik, bisa jalan-jalan santai di taman atau di halaman rumah yang terkena paparan matahari. Tapi kalau lututnya sakit-sakitan, bisa diajak berenang. Pilihan lainnya bersepeda statis,” ujar Aulia.
Bukti wisata dibutuhkan lansia, selain masih banyak terlihat turis bule lansia yang berwisata, di Bandung ada taman yang khusus diperuntukkan untuk para lansia rileks, jalan-jalan santai, duduk-duduk sambil membaca koran, makan bersama dengan keluarga, dan lainnya.
Namun waktu berwisata untuk lansia harus diperhatikan. “Kalau senang jalan-jalan pagi, sebaiknya dilakukan jam 8-9 pagi karena saat itulah sinar matahari menyuplai banyak viatamin B yang bagus untuk tulang mereka,” ujarnya.
Wisata santai berunsur olahraga ini, lanjut Aulia bisa bisa dilakukan 2 sampai tiga kali dalam seminggu.
Intinya sebenarnya, lanjut Aulia lansia harus diajak aktif, harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan. “Jadi jangan disuruh diam saja di rumah. Kalau mereka merasa dibutuhkan orang dan dilibatkan bersama orang banyak, mereka akan senang, percaya diri, dan ingatannya menjadi bagus. Jadi kemungkinan pikunnya bakal menurun,” ungkapnya.
Selain berwisata, bentuk interaksi dengan banyak orang bisa dilakukan dengan mengikuti pengajian, majelis taklim, dan lainnya bagi lansia yang Muslim.
Demensia atau masyarakat awam menyebutnya pikun, merupakan penyakit yang kerap menerpa lansia. Menurut Aulia demensia umumnya menyebabkan lansia mengalami gangguan pada ingatan, penilaian, dan sulit berpikir.
“Demensia itu gangguan memori yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari lansia. Penderitanya akan merasa sulit konsentrasi dan berkomunikasi, depresi, halusinasi, hingga gangguan perilaku,” terangnya.
Pengobatannya dengan memberikan dukungan secara fisik dan psikologis serta segera berkonsultasi ke dokter. “Sering diajak berbicara. Tapi saat berbicara jangan bersamaan dengan suara lain, misalnya televisi atau radio. Dekati dengan pelan dari depan dan tetaplah kontak mata. Gunakan kalimat pendek dengan tempo pelan,” imbaunya.

Ahli nutrisi Dr. Marya W H, MGizi, SpGK menyarankan sebelum melakukan wisata ataupun kegiatan olahraga ringan, pastikan lansia memiliki cukup waktu tidur. “Waktu jam tidur yang cukup buat lansia sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari,” terangnya.
Umumnya para lansia mempunyai beberapa penyakit yang disebut pasien geriatri
“Pasien geriatri itu biasanya memiliki lebih dari dua macam penyakit,” terang Aulia.

“Perawatannya membutuhkan pendekatan khusus karena biasanya gejala penyakit tidak khas, dan fungsi organ menurun. Jika pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit, maka harus dilakukan layanan terpadu,” ujar Aulia.







































