dirinya atau kelompoknya yang benar. Merasa benar agama dan kepercayaannya.
Akibatnya sering mendatangkan perseteruan antara yang hak dengan yang bathil, yang benar dengan yang salah.
keyakinan mereka yang benar. Lalu mereka menginginkan orang orang beriman
mengikut mereka, sama dengan mereka. Allah Ta’ala telah menjeleskan hal ini
dalam firman-Nya :
كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ۖ
mereka telah kafir, sehingga kamu menjadi sama. (dengan mereka). Q.S an Nisa’
89.
ukur kebenaran dari wahyu Allah Ta’ala dalam al Qur an beserta as Sunnah yang
shahih. Allah Ta’ala berfirman :
تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
sekali kali engkau (Muhammad) termasuk orang orang yang ragu. (Q.S al Baqarah
147).
munafik dan orang orang jahiliyah telah keliru berat dalam menentukan
kebenaran. Umumnya tolak ukur kebenaran bagi mereka adalah disandarkan kepada :
katanya. Mereka menganggap orang banyak tak mungkin salah dalam menentukan
kebenaran. Padahal Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :
الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan (kebenaran) Allah.
Mereka hanyalah mengikuti sangkaan
belaka. Dan mereka hanyalah berkata bohong. (Q.S al An’am 116).
jika kamu mengikuti kebanyakan manusia dimuka bumi, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah”. Karena kebanyakan manusia telah menyimpang
dalam agama, amal dan ilmu. Agama mereka rusak, amal mereka memperturutkan hawa
nafsu, ilmu mereka serabutan. Tak bisa mengantarkan kepada jalan yang lurus.
Hanya sebatas mengikuti praduga yang tidak berguna sedikitpun bagi kebenaran.
Mereka berspekulasi dalam memberikan pernyataan atas nama Allah Ta’ala tanpa
ilmu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).
oleh nenek moyang.
moyang dan yang diamalkan mereka adalah kebenaran. Sungguh Allah Ta’ala telah
mengingatkan dalam firman-Nya tentang kaum Nuh :
فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
seperti ini) pada (masa) nenek moyang kami dahulu. (Q.S al Mukminun 24)
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا
عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا
يَهْتَدُونَ
(mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul. Mereka menjawab :
Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).
Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui apa apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?. (Q.S al Maidah 104)
tolak ukur kebenaran, yang juga keliru yaitu menjadikan orang orang yang
berkuasa baik karena pangkat, jabatan ataupun kedudukan serta pemilik harta yang
banyak. Para pengikutnya membenarkan mereka. Apa yang mereka lakukan dan apa
yang mereka katakan dianggap sebagai kebenaran. Bisa jadi para pengikut ini
membenarkan mereka karena terpaksa atau
ada kebutuhan dan kepentingan dunia yang ingin mereka raih.
orang banyak, atau budaya peninggalan nenek moyang ataupun perkataan dan
perbuatan orang yang berpengaruh dan berkuasa tak layak dianggap sebagai kebenaran, KECUALI JIKA TIDAK BERTENTANGAN
DENGAN DALIL DARI AL QUR AN DAN AS SUNNAH YANG SHAHIH. Insya Allah ada
manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.777)





































