RAKAAT
dianjurkan dalam syariat Islam adalah shalat dhuha. Perintah shalat dhuha diantaranya
disebutkan dalam hadits dari Abdurrahman bin
Shakhr ad Dausi al Yamani lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah :
عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ
صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى
وِتْرٍ
Hurairah, dia berkata : Telah berwasiat
kepadaku, kekasihku (Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam) untuk melakukan
tiga hal yang TAK AKAN AKU TINGGALKAN hingga
meninggal dunia, yaitu : Puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidur
dalam keadaan telah melakukan shalat witir.
(H.R Imam Bukhari).
kita yang telah terbiasa bahkan istiqamah dalam mengamalkannya. Ada pula yang
tidak sering atau jarang melakukannya bahkan ada pula hampir tak pernah melakukannya.
shalat dhuha sangatlah longgar. Sebagian ulama menyebutkan waktunya mulai saat
matahari setinggi tombak yaitu kira kira 15 menit setelah matahari terbit. Akhir waktunya adalah bayangan benda yaitu
ketika bayangan tepat berada di atas benda itu, tidak condong ke timur atau ke
barat yaitu kira kira 15 menit sebelum masuk waktu zhuhur.
coba mempermudah dalam menghitung waktu yang tersedia untuk shalat dhuha.
Paling tidak ada waktu antara pukul 7 pagi sampai pukul 11 siang yaitu 4 jam
atau 240 menit.
saudaraku bahwa untuk melakukan shalat dhuha 4 rakat dengan dua kali salam
hanya dibutuhkan waktu antara 10 sampai 12 menit saja. Meskipun kita harus
menghadapi berbagai aktivitas bahkan kesibukan sehari hari RASA RASANYA
TIDAKLAH BERAT MENYEDIAKAN SEDIKIT WAKTU UNTUK SHALAT DHUHA. Hanya 10 menit, ya
hanya 10 menit.
jumlah rakat shalat dhuha, sebagian ulama berpendapat tidak ada batasannya,
dalilnya adalah hadits dari Aisyah radhiallahu’anha :
وسلَّم يُصلِّي الضُّحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ اللهُ
‘alaihi wa sallam SHALAT DHUHA EMPAT RAKAAT dan beliau biasa menambahkan sesuka
beliau (H.R Imam Muslim).
sangat banyak, diantaranya adalah :
sehari penuh.
shalat dhuha empat rakaat akan mendapat penjagaan Allah sehari penuh. Dalam
sebuah hadits qudsi, Rasulullah bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Ibna aadamarka’ lii min awwalin nahaari
arba’a raka’aatin akfika aakhirah”. Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku di pagi
hari empat rakaat, niscaya Aku akan menjagamu sampai akhir hari (mu) .R at
Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh al Albani.
Shalat dhuha adalah shalat orang yang kembali kepada ketaatan
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
الأوابين
Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali kepada ketaatan). Inilah shalat
awwabin. (H.R Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh al Albani)
berkata : Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan
bahwa maknanya adalah orang yang kembali kepada ketaatan. (Syarh Shahih Muslim).
kecukupan di akhir siang.
Ghathafani, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ
أَكْفِكَ آخِرَهُ
Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu
dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang. (H.R Imam Ahmad, Abu Daud, at
Tirmidzi dan ad Darimi, di shahihkan
oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib al Arnauth)
: Pengganti kewajiban sedekah 360
persendian.
harus dikeluarkan sedekahnya dan ini bisa dicukupi dengan shalat dhuha.
untuk (persendian itu). Mereka bertanya : Siapa, wahai Rasulullah, yang sanggup
akan hal itu ?. Beliau menjawab : Membersihkan kotoran yang terlihat adalah
sedekah, menyingkirkan gangguan dari jalan juga sedekah, dan shalat dua rakaat
pada waktu dhuha mencukupinya” (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al
Albani).
‘Azhim Abadi menyebutkan : Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat dhuha
akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga
dimaksudkan bahwa shalat dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa
atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa
lebih luas dari itu. (Aunul Ma’bud)
ampunan dosa
riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa orang yang membiasakan
shalat dhuha dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, meskipun dosa tersebut
sebanyak buih di lautan. Rasulullah bersabda sebagai berikut.
وإن كانت مثل زبد البحر
Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun
sebanyak buih di lautan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keenam : Tidak dianggap sebagai orang
yang lalai
orang tentu tidak ingin dianggap sebagai orang lengah ataupun lalai dalam
beribadah dan mencari rahmat Allah
Ta’ala. Diantara cara agar terhindar
dari sifat lalai adalah mengerjakan shalat dhuha. Rasulullah bersabda sebagai
berikut.
الغافلين
termasuk orang lalai. (H.R al Baihaqi dan an Nasa’i).
berkenaan dengan pelaksanaan shalat dhuha ini datang pertanyaan : Bagaimana
kalau seseorang bekerja pada suatu perusahaan ?. Mereka tentu tidak boleh
meninggalkan pekerjaannya untuk shalat dhuha ?.
bahwa shalat dhuha hukumnya sunnah
sedangkan menjaga amanah waktu dalam bekerja adalah wajib. Ini dikecualikan
jika memang ada izin atau persetujuan dari atasan. Namun demikian paling tidak
dia bisa melaksanakan shalat dhuha pada hari hari libur. Bukankah orang
orang bijak pernah mengatakan : Kalau
tidak dapat semua jangan tinggalkan semua.
karena itu orang orag beriman akan berusaha mengatur waktu agar bisa
mengamalkan shalat dhuha ini sehingga memperoleh keutamaan dan kebaikan yang
banyak. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.756)






































